SALWA RADIO - Menebar Salam, Menyebar Dakwah
Stay in touch with us:

Hukum menafkahi istri,ibu angkat,adik ipar


Akhwat (Jepara)
10 months ago on Keluarga

Assalamualaikum Saya mau tanya,,,ibu mertua,bapk mertua,dan adik ipar saya selalu meminta uang setiap minggunya ,,contoh jika hari senin bapak mertua yang minta,besok hari selasa gantian ibu mertua yang minta,besoknya lagi adik ipar saya yang mintaa...saya merasa keberatan jika ketiga-tiganya meminta sendiri sendiri dan selalu setiap satu minggu sekali mereka memintanya..mereka orang tua angkat suami saya,sedangkan orang tua kandung suami saya tidak pernah dikasih nafkah sama sekali karna tidak di perbolehkan oleh orang tua angkatnya..yang mau saya tanyakan bagaimana cara menafkahi orang tua angkat suami ?apakah ngasih uang untuk satu keluarga? Atau bapak,ibu,adik ipar sendiri sendiri?dan yang paling utama ibu angkatnya atau ibu kandung dari suami?mohon maaf jika pertanyaan saya terlalu panjang...wassalamualaikum warohmatullohi wabarakatuh
Redaksi salamdakwah.com
10 months ago

 

وعليكم السلام ورحمة الله وبركاته

 

Orang tua kandung wajib diberi curahan bakti meski mereka lalai dalam merawat anak di masa lalu. Ini berdasarkan keumuman dalil. Diantara nash yang menerangkan demikian adalah firman Allah ta'ala di surat al-Ahqaf:15:

 

وَوَصَّيۡنَا ٱلۡإِنسَٰنَ بِوَٰلِدَيۡهِ إِحۡسَٰنًاۖ حَمَلَتۡهُ أُمُّهُۥ كُرۡهٗا وَوَضَعَتۡهُ كُرۡهٗاۖ وَحَمۡلُهُۥ وَفِصَٰلُهُۥ ثَلَٰثُونَ شَهۡرًاۚ حَتَّىٰٓ إِذَا بَلَغَ أَشُدَّهُۥ وَبَلَغَ أَرۡبَعِينَ سَنَةٗ قَالَ رَبِّ أَوۡزِعۡنِيٓ أَنۡ أَشۡكُرَ نِعۡمَتَكَ ٱلَّتِيٓ أَنۡعَمۡتَ عَلَيَّ وَعَلَىٰ وَٰلِدَيَّ وَأَنۡ أَعۡمَلَ صَٰلِحٗا تَرۡضَىٰهُ وَأَصۡلِحۡ لِي فِي ذُرِّيَّتِيٓۖ إِنِّي تُبۡتُ إِلَيۡكَ وَإِنِّي مِنَ ٱلۡمُسۡلِمِينَ 

 

Kami perintahkan kepada manusia supaya berbuat baik kepada dua orang ibu bapaknya, ibunya mengandungnya dengan susah payah, dan melahirkannya dengan susah payah (pula). Mengandungnya sampai menyapihnya adalah tiga puluh bulan, sehingga apabila dia telah dewasa dan umurnya sampai empat puluh tahun ia berdoa: "Ya Rabbku, tunjukilah aku untuk mensyukuri nikmat Engkau yang telah Engkau berikan kepadaku dan kepada ibu bapakku dan supaya aku dapat berbuat amal yang saleh yang Engkau ridhai; berilah kebaikan kepadaku dengan (memberi kebaikan) kepada anak cucuku. Sesungguhnya aku bertaubat kepada Engkau dan sesungguhnya aku termasuk orang-orang yang berserah diri

 

Dalam hadits disebutkan:

 

، عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ: جَاءَ رَجُلٌ إِلَى رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَ: يَا رَسُولَ اللَّهِ، مَنْ أَحَقُّ النَّاسِ بِحُسْنِ صَحَابَتِي؟ قَالَ: «أُمُّكَ» قَالَ: ثُمَّ مَنْ؟ قَالَ: «ثُمَّ أُمُّكَ» قَالَ: ثُمَّ مَنْ؟ قَالَ: «ثُمَّ أُمُّكَ» قَالَ: ثُمَّ مَنْ؟ قَالَ: «ثُمَّ أَبُوكَ

 

Dari Abu Hurairah radhiyallaahu ‘anhu, belia berkata, “Seseorang datang kepada Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam dan berkata, ‘Wahai Rasulullah, kepada siapakah aku harus berbakti pertama kali?’ Nabi shalallaahu ‘alaihi wasallam menjawab, ‘Ibumu!’ Dan orang tersebut kembali bertanya, ‘Kemudian siapa lagi?’ Nabi shalallaahu ‘alaihi wasallam menjawab, ‘Ibumu!’ Orang tersebut bertanya kembali, ‘Kemudian siapa lagi?’ Beliau menjawab, ‘Ibumu.’ Orang tersebut bertanya kembali, ‘Kemudian siapa lagi,’ Nabi shalallahu ‘alaihi wasallam menjawab, ‘Kemudian ayahmu.’ HR. Bukhari no.5971 dan Muslim no.2548

Dalam al-Qur'an (Luqman:15) disebutkan bahwa kekafiran yang merupakan kejahatan dan dosa yang lebih besar dari sikap menelantarkan anak tidak bisa menggugurkan kewajiban anak untuk berbakti 

 

وَإِن جَٰهَدَاكَ عَلَىٰٓ أَن تُشۡرِكَ بِي مَا لَيۡسَ لَكَ بِهِۦ عِلۡمٞ فَلَا تُطِعۡهُمَاۖ وَصَاحِبۡهُمَا فِي ٱلدُّنۡيَا مَعۡرُوفٗاۖ وَٱتَّبِعۡ سَبِيلَ مَنۡ أَنَابَ إِلَيَّۚ ثُمَّ إِلَيَّ مَرۡجِعُكُمۡ فَأُنَبِّئُكُم بِمَا كُنتُمۡ تَعۡمَلُونَ 

 

Dan jika keduanya memaksamu untuk mempersekutukan dengan Aku sesuatu yang tidak ada pengetahuanmu tentang itu, maka janganlah kamu mengikuti keduanya, dan pergaulilah keduanya di dunia dengan baik, dan ikutilah jalan orang yang kembali kepada-Ku, kemudian hanya kepada-Kulah kembalimu, maka Kuberitakan kepadamu apa yang telah kamu kerjakan. Di sisi lain berbakti kepada orang tua kandung dalam keadaan tertentu adalah kewajiban yang lebih besar daripada jihad. 

Dari Abdullah bin Amr bin Ash radhiallahu anhuma berkata:

جاء رجل إلى النبي  صلى الله عليه وسلم  فاستأذنه في الجهاد فقال له رسول الله  صلى الله عليه وسلم : أحيٌّ والداك ؟ قال : نعم، قال : ففيهما فجاهد

“Seseorang mendatangi Nabi sallallahu alaihi wa sallam dan meminta izin untuk berjihad. Maka Rasulullah bertanya kepadanya,”Apakah kedua orang tuamu masih hidup? Dia menjawab, “Ya. Maka beliau bersabda, “Maka berjihadlah kepada keduanya.” HR. Bukhari, 2842. Dan Muslim, 2549.

Seorang anak juga tidak boleh menyakiti orang tuanya dan serta tidak memperdengarkan apa yang tidak disukai oleh mereka baik ucapan maupun perbuatan. Allah Ta’ala berfirman:

  فلا تقل لهما أفٍ 

“Maka sekali-kali janganlah kamu mengatakan kepada keduanya perkataan "ah" QS. Al-Isro’: 23.

Seorang anak juga wajib menafkahi orang tuanya bila mereka membutuhkan sedangkan si anak mampu menafkahi, dalam suatu rfiwayat disebutkan. Dari Ibnu Umar rahiallahu anhuma dari Nabi sallallahu alaihi wa sallam bersabda,”Ada tiga orang berjalan keluar dan terkena hujan. Maka semua masuk ke gua di sebuah gunung. Kemudian tertutupi batu besar. Berkata, sebagian mengatakan kepada lainnya, “Berdoalah kepada Allah dengan amalan terbaik yang pernah kamu lakukan. Salah satu diantara mereka mengatakan ‘Ya Allah sesungguhnya saya mempunyai dua orang tua yang sudah berumur. Biasanya saya keluar untuk menggembala kemudian datang memeras susu dan membawa semangkok saya berikan kepada kedua orang tuaku. Sampai keduanya minum kemudian saya memberikan minuman susu kepada anak, keluarga dan istriku. Suatu malam saya tertahan, ketika saya pulang keduanya sudah tertidur. Saya tidak enak membangunkannya. Sementara anakku menangis dengan suara tinggi di kakiku. Dan begitulah kondisiku dan kondisi kedua orang tua. Sampai terbit fajar. Ya Allah, kalau Engkau mengetahui bahwa apa yang saya lakukan itu hanya mencari keredoan-Mu, maka tolong selamatkan agar kami dapat melihat langit. Berkata, maka (Allah) selamatkan mereka…. HR. Bukhari, 2102 dan Muslim, 2743.

Dengan begitu secara logika perbuatan menelantarkan anak tidak bisa menggugurkan kewajiban berbakti dan berbuat baik kepada orang tua. Bila orang tua lalai dalam melakukan kewajiban dia terhadap anak maka dia berdosa namun anak tetap tidak boleh menjadikan itu sebagai dalih untuk menggugurkan kewajiban dia terhadap orang tuanya.

Di sisi lain boleh bagi suami penanya untuk membalas budi kepada orang yang mengasuhnya sejak kecil namun dengan tetap mendahulukan orang tua kandungnya. Membalas budi kepada orang tua asuh juga tidak wajib bila memang tidak mampu. Dalam salah satu riwayat disebutkan:

 

عَنِ الْحَكَمِ بْنِ عُمَيْرٍ، قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: «مَنْ أَتَى إِلَيْكُمْ مَعْرُوفًا فَكَافِئُوهُ، فَإِنْ لَمْ تَجِدُوا فَادْعُوا لَهُ»

 

Dari al-Hakam bin Umair dia berkata Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda," Apabila ada yang berbuat baik kepada kalian maka balaslah dengan balasan yang setimpal. Apabila kalian tidak mampu tidak membalasnya maka doakanlah kebaikan untuknya. HR. Ath-Thabrani di al-Mu'jam al-Kabir 3/218 3189 Dinilai shahih oleh al-Albani di shahih al-Jaami' 2/1031

 

والله تعالى أعلم بالحق والصواب

© 2020 - Www.SalamDakwah.Com