SALWA RADIO - Menebar Salam, Menyebar Dakwah
Stay in touch with us:

Perselingkuhan Ibuku


Akhwat (Bogor)
1 month ago on Keluarga

Assalamualaikum wr.wb Ustadz, saya mau bercerita terlebih dahulu. saya seorang anak berusia 23 tahun, saya anak kedua dan perempuan satu-satunya dari keluarga yg sederhana namun berkecukupan. cerita ini diawali ketika ibu saya ikut-ikutan grup fb yang menurut saya ga ada faedahnya hanya hura-hura kesana kesini, nongkrong-nongkrong ga jelas gitu diwarung yg ada di taman kota. singkat cerita, muncullah kekecurigaan saya pada tahun 2018 ibu saya hampir setiap hari main, main, dan main terus sampai lupa waktu bahwa posisi dia adalah seorang ibu. saya coba sadap whatsapp dan google lokasinya, akhirnya saya menemukan apa yg saya curigai selama ini. ibu saya selingkuh lagi!!! pada saat itu saya cari tau semua teman-temannya hingga keakarnya dan saya menemukan bahwa hampir semua teman-temannya di grup itu adalah seorang peselingkuh. astagfirullah kaget:( saya kumpulkan semua bukti-bukti itu lalu saya beranikan diri untuk bilang dengan ibu saya bahwa yg dilakukannya itu sangat sangat salah, tetapi ibu saya merenspon bahwa dia begini karena anak-anak dan bapak saya tidak pernah memerhatikannya dan bilang bahwa dirinya adalah babu kami. Yaallah dari situ saya merasa bersalah saya memang suka membentak, memarahi dan menyakiti hati ibu saya tapi saya tidak mau ibu saya terjerumus ke hal negatif itu lagi. pada saat itu saya tetep menanyakan hal yg ingin saya tau lelaki yg dekat dgnnya dan lagi lagi ibu saya merespon dengan mengalihkan topik bahwa saya anak yg durhaka, bahkan pertanyaan saya ini tidak ada kaitannya dengan durhaka, saya hanya bertanya siapa lelaki itu dan kenapa ibu saya bisa-bisanya rela menginap dan setiap hari diantar jemput depan rumah dengan lelaki itu, kemana-mana dengan lelaki itu bahkan selalu membuat alasan setiap hari dan sabtu-minggu kondangan, ga logis banget menurut saya. ketika saya tanya lagi tentang perselingkuhannya dengan seorang gr*b ini, ibu saya tetep tidak mau mengakuinya bahkan saya tunjukkan bukti-buktinya tetap tidak mau mengaku. saya sudah menasehati, memperingatkan, dan memarahi ibu saya tapi respon dari beliau malah saya yang dimarahi balik dan berucap sumpah serapah bahkan bilang bahwa saya ini bukan anaknya lagi. apakah saya salah menegor ibu saya? saya harus bagaimana? mohon pencerahannya ustadz, terimakasih. wassalamualikum wr.wb
Redaksi salamdakwah.com
1 month ago

 

وعليكم السلام ورحمة الله وبركاته

 

Saran kami adalah teruslah penanya mendoakan dan mensehati ibunya dengan cara yang bijak kemudian perbaikilah bentuk bakti kepada ibunya. Usahakan juga untuk menasehati anggota keluarga yang lain untuk memberi hak si ibu secara proporsional sesuai tuntunan syariat baik itu dari pihak anak dalam bentuk bakti dan dari pihak suami dalam bentuk pemuliaan kepada yang bersangkutan. Semoga saja dengan begitu si ibu tidak merasa seperti babu dan dia akhirnya merasa sebagai seseorang yang punya kedudukan mulia di tengah keluarganya. 

Apabila itu masih dilakukan namun si ibu tetap selingkuh (berdasarkan bukti dan saksi) maka silahkan disampaikan masalah ini kepada orang yang kira-kira punya kedudukan di mata si ibu sehingga orang itu berkenan menasehati ibu tersebut. Di sisi lain penanya perlu menyelidiki siapa yang menjadi selingkuhan ibunya, bila perlu dibantu oleh saudaranya. Apabila sudah ketemu maka selingkuhan itu diberi peringatan, dan bila ia tidak menggubris maka bisa dilaporkan ke keluarga selingkuhan itu, apabila langkah itu sudah ditempuh namun si selingkuhan tetap melanjutkan perbuatan buruknya maka bisa dilaporkan ke polisi.   

Apabila si ibu belum juga sadar dan melakukan perselingkuhan maka silahkan diinformasikan kepada suami ibu tersebut (ayah dari penanya) supaya diberikan teguran. Apabila dia sadar maka alhamdulillah, apabila tidak sadar maka biar dilepas oleh suaminya dari ikatan pernikahan. Dalam salah satu riwayat disebutkan,"


جَاءَ رَجُلٌ إِلَى النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَ: إِنَّ امْرَأَتِي لَا تَمْنَعُ يَدَ لَامِسٍ قَالَ: «غَرِّبْهَا» قَالَ: أَخَافُ أَنْ تَتْبَعَهَا نَفْسِي، قَالَ: «فَاسْتَمْتِعْ بِهَا


Seorang laki-laki datang menghadap Nabi dan berkata: Istri saya tidak menolak menolak sentuhan tangan lelaki lain. Nabi menjawab: asingkanlah dia (ceraikan.pent). Laki-laki itu berkata: Saya khawatir diri saya masih sayang. Nabi berkata: Kalau begitu, bersenang-senanglah dengannya (pertahankan). Hadits riwayat (HR) Abu Daud no.2049; an-Nasai no.3229 dan yang lainnya

Dalam riwayat Syafi'i disebutkan,"


أَتَى رَجُلٌ إِلَى رَسُولِ الله صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَ: يَا رَسُولَ الله، إِنَّ لِيَ امْرَأَةٌ لَا تُرَدُّ يَدَ لَامِسٍ، فَقَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: «فَطَلِّقْهَا» . قَالَ: إِنِّي أُحِبُّهَا، قَالَ: «فَأَمْسِكْهَا إِذًا»


Seorang laki-laki datang menghadap Rasul shallallahu alaihi wa sallam dan berkata: Istri saya tidak menolak sentuhan tangan lelaki lain. Nabi menjawab: ceraikan dia. Laki-laki itu berkata: Tapi saya mencintainya. Nabi berkata: Kalau begitu, pertahankan.

Syaikh Ali al-Qari menerangkan perihal riwayat tersebut,"
(Istri saya tidak menolak sentuhan tangan lelaki lain) Dia tidak menjaga dirinya dari orang yang ingin berbuat kekejian dengannya
(Nabi shallallahu alaihi wa sallam berkata," talaklah dia" Dia berkata," saya mencintainya. Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda,"kalau begitu pertahankan") maksudnya jagalah dia supaya dia tidak berbuat kekejian. Hadits ini menunjukkan bahwa mentalak perempuan semacam ini lebih utama sebab Nabi shallallahu alaihi wa allam mendahulukan opsi mentalak dari mempertahankan. Bila susah untuk mentalaknya misalnya karena mencintainya atau memperoleh anak darinya yang susah terpisah dari ibunya, atau si suami punya hutang kepada istri tersebut dan belum mampu melunasinya, bila demikian boleh baginya untuk tidak mentalaknya namun dengan syarat dia bisa menjaga istrinya dari perbuatan keji, bila dia tidak mampu menjaganya dari perbuatan keji maka dia telah berbuat maksiat dengan tidak mentalaknya. Mirqat al-Mafatih Syarh Misykat al-Mashabih 5/2171

Semoga Allah ta'ala memberikan hidayah kepada ibu tersebut sehingga bisa kembali ke jalan yang lurus. 

© 2020 - Www.SalamDakwah.Com