SALWA RADIO - Menebar Salam, Menyebar Dakwah
Stay in touch with us:

Tidak Membayar Toilet


Akhwat (Bekasi)
5 months ago on Aqidah

Bagaimana jika kita tidak membayar toilet umum yg di tegor oleh penjaganya lalu kita bilang nnti akan balik lagi tetapi kita tidak balik lagi untuk memberikan uang ?
Redaksi salamdakwah.com
5 months ago

 

الحمد لله والصلاة والسلام على رسول الله وعلى آله وصحبه ومن والاه

Bila seseorang memakai jasa toilet umum yang seharusnya berbayar namun dia tidak membayarnya dengan sengaja maka berarti dia  telah sengaja tidak memberikan hak orang lain. Dan itu merupakan dosa yang tidak cukup hanya dengan meminta ampun kepada Allah ta'ala. Orang yang tidak memberikan hak orang lain itu harus segera membayarnya saat dia bisa dan mampu. Perbuatan itu berbahaya bagi dunia dan akhirat dia.  Nabi shallallahu alaihi wa sallam bersabda

 عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ، أَنَّ رَسُولَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، قَالَ: «أَتَدْرُونَ مَا الْمُفْلِسُ؟» قَالُوا: الْمُفْلِسُ فِينَا مَنْ لَا دِرْهَمَ لَهُ وَلَا مَتَاعَ، فَقَالَ: «إِنَّ الْمُفْلِسَ مِنْ أُمَّتِي يَأْتِي يَوْمَ الْقِيَامَةِ بِصَلَاةٍ، وَصِيَامٍ، وَزَكَاةٍ، وَيَأْتِي قَدْ شَتَمَ هَذَا، وَقَذَفَ هَذَا، وَأَكَلَ مَالَ هَذَا، وَسَفَكَ دَمَ هَذَا، وَضَرَبَ هَذَا، فَيُعْطَى هَذَا مِنْ حَسَنَاتِهِ، وَهَذَا مِنْ حَسَنَاتِهِ، فَإِنْ فَنِيَتْ حَسَنَاتُهُ قَبْلَ أَنْ يُقْضَى مَا عَلَيْهِ أُخِذَ مِنْ خَطَايَاهُمْ فَطُرِحَتْ عَلَيْهِ، ثُمَّ طُرِحَ فِي النَّارِ»


Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, dia berkata, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:”Tahukah kalian siapa orang yang bangkrut itu?” Mereka berkata, “Orang yang bangkrut diantara kami adalah orang yang tidak memiliki dirham dan tidak pula memiliki harta.” Maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Sesungguhnya orang yang bangkrut dari umatku pada hari kiamat itu adalah orang yang datang membawa pahala shalat, membawa pahala puasa, dan membawa pahala zakat, namun di sisi lain ia pernah mencaci-maki orang ini, menuduh orang ini, memakan harta orang ini, mengucurkan darah orang Ini, dan memukul orang ini; lalu diberikanlah kebaikan-kebaikannya kepada orang ini dan ini (yang didzalimi tersebut). Apabila kebaikan-kebaikannya sudah habis sebelum melunasi hutang-hutang kedzaliman itu, maka akan diambillah dosa-dosa mereka (orang yang didzalimi itu) dan ditanggungkan kepada dia, kemudian ia pun dilemparkan ke dalam api neraka.”” (H.R. Muslim no.2581;At-Tirmidzi no.2418; Ahmad 13/399 dan yang lainnya. Lafadz dia atas adalah lafadz Muslim)

Apabila penjaga toilet itu telah tiada maka uang jasa tersebut harus diberikan kepada ahli warisnya. Bila tidak diketahui keberadaan pemilik dan ahli warisnya maka harta itu disedekahkan dengan mengatasnamakan pemilik sahnya.

Berikut ini fatwa-fatwa terkait masalah ini:
1. Ada pertanyaan yang ditujukan kepada Komite Tetap Riset Ilmiah dan Fatwa:
Saya memiliki sejumlah harta di salah satu perusahaan asing yang beroperasi di Arab Saudi. Jumlahnya adalah empat ribu lima ratus riyal (4500 SAR) …... Saya telah datang beberapa kali untuk mengambil uang tersebut, namun mereka meminta maaf karena tidak dapat menyerahkannya lantaran insinyur penerima proyek tidak ada. Mereka mengatakan bahwa insinyur tersebut dipindahkan ke perusahaan lain. Untuk meminta supaya insinyur itu datang, saya pun menghadap direktur perusahaan. Dia memberikan penjelasan sambil berkata, "Sebaiknya Anda minta dua puluh ribu riyal. Anda hanya perlu menyerahkan kepada kami berkas-berkas yang diperlukan untuk meminta uang tersebut. Anda juga boleh memberi saya komisi dari uang itu, atau Anda boleh ambil semua karena perusahaan ini telah berbuat zalim." Dia menjelaskan berkas-berkas yang harus dipersiapkan. Dia menugaskan karyawannya untuk menyerahkan uang secara penuh, dan saya terima utuh sejumlah dua puluh ribu riyal (20.000 SAR).

Pertanyaannya: Apakah uang yang melebihi hak saya itu halal atau tidak? Jika memang saya tidak punya hak pada harta yang lebih itu, apakah saya boleh menyumbangkannya untuk amal kebaikan atau kepada orang yang membutuhkan? Mohon beri kami penjelasan. Semoga Allah membalas Anda semua dengan kebaikan.

Mereka menjawab:
Perbuatan tersebut tidak boleh dilakukan. Sebab, itu adalah kebohongan dan penipuan untuk mengambil harta secara tidak sah. Orang yang meminta fatwa di atas hanya boleh mengambil harta yang menjadi haknya kepada perusahaan. Allah Ta`ala berfirman,



{يَاأَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا تَأْكُلُوا أَمْوَالَكُمْ بَيْنَكُمْ بِالْبَاطِلِ}


Hai orang-orang yang beriman, janganlah kalian saling memakan harta sesama kalian dengan jalan yang batil. Anda wajib mengembalikan uang yang melebihi hak Anda itu kepada perusahaan yang bersangkutan.
Wabillahittaufiq, wa Shallallahu `ala Nabiyyina Muhammad wa Alihi wa Shahbihi wa Sallam. fatawa al-Lajnah ad-Daimah 11/207-208 Fatwa Nomor:20631

2. Ada pertanyaan lain yang ditujukan kepada mereka:
Dahulu dia menjadi penanggung jawab di sebuah kantor pemerintah. Ketika itu dia sering mendapatkan pemasukan dari cara yang tidak dibenarkan syariat. Setelah beberapa waktu berlalu, Allah memberinya petunjuk. Apa yang harus dia lakukan terhadap harta yang dia dapatkan dengan cara tidak benar tersebut yang telah dia gunakan sedangkan jumlahnya tidak dapat dihitung? Misalnya dia mendapatkan beberapa dirham, tetapi dia tidak tahu jumlahnya. Bagaimana cara dia berlepas diri dari hal ini? Semoga Allah memberikan keberkahan kepada Anda dan menganugerahi Anda usia yang panjang disertai dengan amal saleh dan husnul khatimah. Wassalam.

Mereka menjawab:
Dia wajib mengembalikan sesuatu yang dia ambil secara tidak benar jika dapat menemukan si pemilik atau ahli warisnya. Apabila dia tidak mampu menemukannnya atau ahli warisnya, maka dia harus menyedekahkan uang tersebut dengan niat untuk pemiliknya.
Wabillahittaufiq, wa Shallallahu `ala Nabiyyina Muhammad wa Alihi wa Shahbihi wa Sallam. Fatawa al-Lajnah ad-Daimah 14/24-25 fatwa no.12371

3. Syaikh Ibnu Baz menerangkan:
Terkait orang yang ia kenal (yang ia ambil haknya dengan cara yang batil.pent), ia wajib mengembalikan hak mereka sesuai dengan usaha dia (usaha memperkirakan.pent) dan sesuai perkiraannya yang kuat. Atau ia meminta maaf dan meminta kerelaan hati ke mereka atas apa yang telah lalu dan apa yang telah terjadi. Adapun orang yang tidak dikenal dan tidak diketahui statusnya apakah ia meninggal atau masih hidup dan ahli warisnya pun tidak diketahui keadaannya maka ketika itu orang tersebut seharusnya mensedekahkan harta yang ia ambil dengan mengatasnamakan pemilik harta tersebut. Ini harus disertai taubat dari orang yang mengambil barang secara dholim dan kesungguhan dalam taubat ini. Dengan begini ia akan terlepas dari tanggungan insya Allah. http://www.binbaz.org.sa/mat/9338

wallahu ta'ala a'lam

PERTANYAAN TERKAIT

© 2020 - Www.SalamDakwah.Com