SALWA RADIO - Menebar Salam, Menyebar Dakwah
Stay in touch with us:

Bekerja Kontrak Sebagai Bendahara


Akhwat (Jawa Barat)
1 year ago on Riba

Assalamu'alaykum ustadz saya baru saja menandatangani kontrak kerja percobaan 3 bulan. Posisi saya sebagai keuangan accounting sebuah perusahaan dagang yang bergerak dalam bidang perdagangan pakan unggas. setelah saya menerima data keuangan, saya baru tahu bahwa perusahaan tempat saya bekerja ini mendapatkan modal dengan memberikan riba kepada peminjamnya dan uang modal tersebut digunakan untuk menjalankan usahanya dan ternyata kegiatan tersebut sudah berjalan bertahun-tahun. apa yang harus saya lakukan sementara saya sebagai keuangan dan accounting tidak dapat menolak untuk melakukan pencatatan pinjam meminjam tersebut ustadz. terus terang hati saya merasa resah dan berat karena dari yang pernah saya baca pemberi, penerima dan pencatat riba dosanya sama saja. apa yang harus saya lakukan sekarang ustadz? terima kasih atas pencerahannya. wassalamu'alaykum wr. wb.
Redaksi salamdakwah.com
1 year ago

 

وعليكم السلام ورحمة الله وبركاته

Bekerja di perusahaan yang bermuamalah dengan Bank perlu diperinci:

Pertama:
-Apabila perusahaan itu didirikan untuk tujuan ribawi seperti lembaga keuangan yang memberikan kredit berbunga maka tidak boleh bekerja di tempat tersebut.

-Apabila perusahaan tersebut tidak didirikan untuk tujuan ribawi dan ia tidak bergerak di bidang ribawi, namun, lowongan yang tersedia hanya di bagian yang mengharuskan pegawai untuk bersentuhan langsung dengan riba seperti bendahara yang bertuga mencatat hutang perusahaan terhadap bank dan semacamnya maka tidak boleh mengambil lowongan ini dan bekerja di dalamnya.

Ada pertanyaan yang ditujukan ke syaikh Ibnu Baz (terjemahnya): saya seorang bendahara atau bagian keuangan suatu perusahaan, perusahaan tersebut terpaksa berhutang secara riba kepada Bank, dan sampai kepadaku surat Aqad hutang sebagai penetapan atas hutang perusahaan, artinya apakah aku dianggap berdosa jika aku membuat Aqad hutang tanpa mengesahkannya.

Beliau menjawab tidak boleh tolong menolong dalam transaksi riba di perusahaan tersebut karena Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam melaknat pemakan , orang yang menghutangi, penulis akad dan 2 saksi riba, Rasul bersabada: “mereka sama” (hukumnya.pen) hadits riwayat Muslim.

Dan dalam Al-Qur’an disebutkan artinya: jangan kalian tolong menolong dalam dosa dan pelanggaran (Al-Maidah:2) Majmu’ fatawa Ibnu Baz juz.19 hal.190

Ulama' yang duduk di Komite Tetap Riset Ilmiah dan Fatwa Arab Saudi pernah ditanya," Apa maksud dari “penulis riba” dalam hadis Jabir yang diriwayatkan oleh Muslim, dia berkata, "

«لعن رسول الله -صلى الله عليه وسلم- آكل الربا وموكله وكاتبه وشاهديه، وقال: هم سواء  »

Rasulullah Shallallahu `Alaihi wa Sallam melaknat orang yang memakan harta riba, orang yang menyebabkannya berbuat riba, penulis, dan kedua saksinya. Beliau bersabda, 'Mereka semua sama.'"

Apakah maksud “penulis riba” adalah penulis akad riba saja, ataukah mungkin termasuk semua orang yang benar-benar jauh dari tempat terjadinya transaksi riba namun dengan pekerjaannya sebagai akuntan melakukan penjumlahan dan penghitungan di buku catatan lain, bukan dokumen riba itu sendiri, yang memang harus dia lakukan. Apakah akuntan itu juga dianggap sebagai “penulis riba”? Ataukah redaksi hadis tersebut hanya ditujukan kepada penulis transaksi riba dan tidak berlaku kepada yang lain, sehingga laknat itu pun tidak menjalar kepada yang lain? Berilah kami penjelasan, semoga Allah membalas Anda dengan kebaikan.

Mereka menjawab: Hadis yang melaknat penulis riba bersifat umum, mencakup penulis akad pertama, penyalinnya jika dokumen riba itu rusak, pencatat uang dalam jurnal, akuntan yang menghitung persentase riba dan menjumlahkan dengan pokok dana, pengirimkan uang ke penyimpan, dan lain sebagainya.

Wabillahittaufiq, wa Shallallahu `ala Nabiyyina Muhammad wa Alihi wa Shahbihi wa Sallam.

Komite Tetap Riset Ilmiah dan Fatwa
Abdullah bin Qu'ud (Anggota)    
Abdullah bin Ghadyan (Anggota)    
Abdurrazzaq `Afifi (Wakil Ketua)    
Abdul Aziz bin Abdullah bin Baz (Ketua)
Fatawa al-Lajnah ad-Daimah 15/5 Fatwa Nomor:7180

Kedua:
Apabila Perusahaan itu didirikan untuk tujuan yang halal dan bergerak di bidang yang halal pula, kemudian lowongan yang tersedia ada di bagian yang tidak bersentuhan dengan riba maka boleh mengambil kesempatan untuk bekerja di sana.

Syaikh Utsaimin ditanya oleh pegawai yang perusahaannya bermuamalah dengan bank konvensional, Beliau berkata:

Apabila Anda sekarang tidak menulis riba dan tidak menjadi saksi atasnya, tidak mengambil riba dan tidak menyerahkannya maka aku berpandangan tidak apa-apa (bekerja di perusahaan yang bermuamalah dengan riba.pen) selama jenis pekerjaan Anda untuk perusahaan baik. Dosa perusahaan ditanggung oleh perusahaan itu sendiri.

(Beliau kemudian menyebutkan alasan pembolehan bekerja di tempat tersebut)
Pertama:Perusahaan ini tidak didirikan untuk Riba.
Kedua: Anda tidak bersentuhan langsung dengan riba,baik itu dengan tulisan, persaksian, atau bantuan. Pekerjaan Anda terpisah dengan riba. http://islamqa.info/ar/ref/129663

Kalau boleh kami usul, bila perusahaan tempa tanda bekerja  tidak didirikan untuk tujuan ribawi dan ia tidak bergerak di bidang ribawi, namun, lowongan yang tersedia hanya di bagian yang mengharuskan pegawai untuk bersentuhan langsung dengan riba maka mintalah pindah divisi yang "aman". Semoga Allah ta'ala memudahkan urusan anda.


Wallahu ta'ala a'lam

 

 

© 2019 - Www.SalamDakwah.Com