SALWA RADIO - Menebar Salam, Menyebar Dakwah
Stay in touch with us:

Pernah Menghardik Ibu Sebelum Beliau Meninggal


Ikhwan (Surabaya)
1 year ago on Keluarga

Bismillah Bagaimana cara bertaubat krn pernah menyakiti perasaan Ibu di waktu beliau masih hidup, dan belum sempat minta maaf krn beliau sdh tiada? Saya sering menangis bila teringat hal tsb, dan tiap sujud sholat selalu saya mohon kan ampun utk Ibu dan Ayah. Apakah ada hal lain yg perlu saya lakukan utk menebus kesalahan saya dan agar Allah mengampuni saya?
Redaksi salamdakwah.com
1 year ago

 

الحمد لله والصلاة والسلام على رسول الله وعلى آله وصحبه ومن والاه

Semoga Allah ta'ala memberikan ampunan kepada anda dan kita semua. Ada beberapa hal yang bisa dilakukan oleh anak bila dia belum sempat meminta maaf kepada orang tuanya  setelah si anak durhaka:

1. Memperbanyak doa kebaikan untuk orang tua

Nabi shallallahu alaihi wa sallam bersabda:


إِذَا مَاتَ الإِنْسَانُ انْقَطَعَ عَمَلُهُ إِلَّا مِنْ ثَلَاثٍ: صَدَقَةٌ جَارِيَةٌ، وَعِلْمٌ يُنْتَفَعُ بِهِ، وَوَلَدٌ صَالِحٌ يَدْعُو لَهُ .


Jika seseorang meninggal maka terputuslah semua amalannya kecuali tiga hal (yaitu.pent): Shodaqoh jariyah, ilmu yang bermanfaat dan anak sholeh yang mendoakannya (mayit.pent).HR. Tirmidzi no.1376 dan Nasai no.3651. Dishahihkan oleh Al-Albani.

2. Melakukan amal sholeh yang pahalanya bisa sampai ke orang tua seperti sedekah untuk orang tua atau menghajikannya atau yang lainnya.

Ada seseorang yang bertanya kepada Nabi Muhammad shallallahu alaihi wa sallam:

إِنَّ أُمِّيَ افْتُلِتَتْ نَفْسَهَا وَلَمْ تُوصِ، وَأَظُنُّهَا لَوْ تَكَلَّمَتْ تَصَدَّقَتْ، أَفَلَهَا أَجْرٌ، إِنْ تَصَدَّقْتُ عَنْهَا؟ قَالَ: نَعَمْ تَصَدَّقْ عَنْهَا.


“Ibuku meninggal mendadak, sementara beliau belum berwasiat. Saya yakin, andaikan beliau sempat berbicara, beliau akan bersedekah. Apakah beliau akan mendapat aliran pahala, jika saya bersedekah atas nama beliau?” Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab, “Ya. Bersedekahlah atas nama ibumu.”HR. Bukhari no.1388 dan Muslim no.1004

3. Bersilaturahmi kepada orang-orang yang pernah berhubungan baik dengan mereka, baik kerabat maupun teman orang tua.

Dalam riwayat Muslim disebutkan:

حَدَّثَنَا حَسَنُ بْنُ عَلِيٍّ الْحُلْوَانِيُّ حَدَّثَنَا يَعْقُوبُ بْنُ إِبْرَاهِيمَ بْنِ سَعْدٍ حَدَّثَنَا أَبِي وَاللَّيْثُ بْنُ سَعْدٍ جَمِيعًا عَنْ يَزِيدَ بْنِ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ أُسَامَةَ بْنِ الْهَادِ عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ دِينَارٍ عَنْ ابْنِ عُمَرَ أَنَّهُ كَانَ إِذَا خَرَجَ إِلَى مَكَّةَ كَانَ لَهُ حِمَارٌ يَتَرَوَّحُ عَلَيْهِ إِذَا مَلَّ رُكُوبَ الرَّاحِلَةِ وَعِمَامَةٌ يَشُدُّ بِهَا رَأْسَهُ فَبَيْنَا هُوَ يَوْمًا عَلَى ذَلِكَ الْحِمَارِ إِذْ مَرَّ بِهِ أَعْرَابِيٌّ فَقَالَ أَلَسْتَ ابْنَ فُلَانِ بْنِ فُلَانٍ قَالَ بَلَى فَأَعْطَاهُ الْحِمَارَ وَقَالَ ارْكَبْ هَذَا وَالْعِمَامَةَ قَالَ اشْدُدْ بِهَا رَأْسَكَ فَقَالَ لَهُ بَعْضُ أَصْحَابِهِ غَفَرَ اللَّهُ لَكَ أَعْطَيْتَ هَذَا الْأَعْرَابِيَّ حِمَارًا كُنْتَ تَرَوَّحُ عَلَيْهِ وَعِمَامَةً كُنْتَ تَشُدُّ بِهَا رَأْسَكَ فَقَالَ إِنِّي سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ إِنَّ مِنْ أَبَرِّ الْبِرِّ صِلَةَ الرَّجُلِ أَهْلَ وُدِّ أَبِيهِ بَعْدَ أَنْ يُوَلِّيَ وَإِنَّ أَبَاهُ كَانَ صَدِيقًا لِعُمَرَ

Telah menceritakan kepada kami [Hasan bin 'Ali Al Hulwani]; Telah menceritakan kepada kami [Ya'qub bin Ibrahim bin Sa'ad]; Telah menceritakan kepada kami [Bapakku] dan [Al Laits bin Sa'ad] seluruhnya dari [Yazid bin 'Abdullah bin Usamah bin Al Hadi] dari ['Abdullah bin Dinar] dari [Ibnu 'Umar] bahwasanya apabila ia hendak ke Makkah, maka biasanya ia membawa keledainya untuk dikendarainya jika -ia sudah bosan untuk mengendarai unta, - sambil mengikatkan sorban pada kepalanya. Pada suatu hari, ketika ia sedang mengendarai keledainya, tiba-tiba ada seorang laki-laki Arab badui yang lewat, maka dia berkata; "Bukankah kamu ini adalah fulan bin fulan?" Orang tersebut menjawab; 'Ya, benar.' Lalu Ibnu Umar memberikan keledainya kepada orang itu sambil berkata; 'Ambillah keledai ini untuk kendaraanmu! ' Selain itu, ia juga memberikan sorbannya dengan mengatakan; 'lkatkanlah surban ini di kepalamu! ' Salah seorang sahabat berkata kepada Abdullah bin Umar; 'Semoga Allah mengampunimu hai lbnu Umar, karena kamu telah memberikan keledai yang biasa kamu jadikan kendaraanmu dan sorban yang biasa kamu ikatkan di kepalamu kepada orang Arab badui itu.' Abdullah bin Umar menjawab; 'Wahai sahabat ketahuilah bahwasanya saya pernah mendengar Rasulullah bersabda: 'Di antara bakti seseorang yang paling baik kepada orang tuanya adalah menyambung tali keluarga karib orang tuanya setelah orang tuanya meninggal dunia.' Sesungguhnya bapak orang Arab badui itu dahulu adaIah teman Umar bin Khaththab."]] HR. Muslim 4631

Ulama' yang duduk di Komite Tetap Riset Ilmiah dan Fatwa Arab Saudi pernah ditanya,"Suatu hari saya pernah mencaci ayah, ibu, dan saudari saya akibat kesalahan besar. Kini, mereka semua telah meninggal dunia. Semoga Allah merahmati mereka dan segenap kaum muslimin. Saya benci terhadap diri saya atas cacian yang saya lontarkan. Apa yang harus saya lakukan?"


Mereka menjawab: Anda telah berbuat buruk kepada kedua orang tua dan saudari Anda. Anda telah melakukan perbuatan yang diharamkan oleh Allah, yaitu durhaka kepada kedua orang tua dan menyakiti saudari Anda. Semua itu termasuk dosa besar. Mintalah ampun kepada Allah dan bertobatlah kepada-Nya. Mintakanlah mereka kasih sayang dan ampunan kepada Allah. Anda dapat berbakti kepada mereka dengan bersedekah atas nama mereka dan bersilaturahmi kepada orang-orang yang pernah berhubungan baik dengan mereka, baik kerabat maupun teman. Mudah-mudahan Allah memaafkan dan mengampuni dosa Anda.

Wabillahittaufiq, wa Shallallahu 'ala Nabiyyina Muhammad wa Alihi wa Shahbihi wa Sallam.

Komite Tetap Riset Ilmiah dan Fatwa
Abdullah bin Qu'ud (Anggota)
Abdullah bin Ghadyan (Anggota)
Abdurrazzaq Afifi (Wakil Ketua)
Abdul Aziz bin Abdullah bin Baz (Ketua)
Fatawa al-Lajnah ad-Daimah 25/154 Pertanyaan Kedua dari Fatwa Nomor 6301

Wallahu ta'ala a'lam

© 2019 - Www.SalamDakwah.Com