SALWA RADIO - Menebar Salam, Menyebar Dakwah
Stay in touch with us:

Bagaimana jika suami lebih mementingkan keluarganya sehingga melupakan hak istri?


Akhwat (Solo)
2 years ago on Keluarga

Assalamu'alaykum ustadz/ustadzah, Saya tengah berada dalam kebimbangan, saya ingin mempertahankan rumah tangga saya tetapi suami sangat sulit diajak membangun rumah tangga(ibadah, membangun rumah, mempunyai anak) 1. Saya pernah dizalimi adik-adik perempuan ipar saya karena mereka cemburu kepada saya, saya sering menjaga hasrat melayani suami demi keharmonisan kita semua tapi suami merasa kurang diperhatikan tapi jika adiknya cemburu dia menyalahkan saya, begitu pula ibunya yang pernah mengusir saya karena keberadaan saya membuat tidak harmonis keluarganya, saya serba bingung bahkan saya sudah merawat adiknya(salah satunya cacat mental) memandikannya dan lain-lain namun tetap saja. 2. Suami menjanjikan akan sholat setelah menikah dan mendirikan rumah karena biaya sudah ada, tapi setelah menikah dia tidak menepati janjinya, tidak mau sholat dan justru meremehkan saya meski sholat tidak menghasilkan uang dan tidak jadi membuat rumah karena dilarang ortunya(ibunya pindah ke rumah adiknya yang melahirkan bersama adik satunya, rumah hanya ada saya, suami dan bapak mertua yang sama2 pulang setiap weekend saja) semua urusan rumah, suami dan bapak mertua saya yang mengurusi karena pembantu rumah dibawa ibu mertua saya ke rumah adiknya. 3. Ibu mertua dan adik-adik ipar saya kadang ke rumah namun hanya meninggalkan barang-barang kotor untuk dibersihkan dan mencari-cari kesalahan saya, saya yang merasa kewalahan justru disalahkan suami saya. Dan dia tidak mau membuahi/punya anak dari saya jika hubungan saya dan keluarganya belum membaik. Apa yang seharusnya saya lakukan Ustadz/Ustadzah, saya ingin mempertahankan rumah tangga tapi sikap suami saya tidak mendukung justru semakin memberatkan langkah saya? Bolehkah saya meminta cerai? Terimakasih.
Redaksi salamdakwah.com
2 years ago

 

وعليكم السلام ورحمة الله وبركاته

Ada beberpa poin yang ingin kami tekankan:

Pertama:

Istri berhak mendapatkan tempat tinggal yang terpisah dari keluarga suami baik itu dengan cara mengoontrak atau membeli.  Pemisahan ini lebih ditekankan bila tidak ada kecocokan antara istri dengan keluarga suami. Dalam Ensiklopedi Fiqih Kuwait disebutkan:
Mengumpulkan kedua orang tua (begitu pula kerabat lainnya) dan istri di satu tempat tinggal tidaklah diperbolehkan. Istri juga diperbolehkan untuk menolak bila akan ditempatkan bersama dengan salah satu dari keduanya, sebab berada di tempat tinggal pribadi yang menjadikan seorang istri merasa aman terhadap diri dan hartanya adalah hak dari istri tersebut. Dan tidak ada seorang pun yang boleh memaksanya untuk itu (tinggal bersama keluarga suami.pent). Inilah madzhab mayoritas Ahli Fiqih dari kalangan Ulama' Hanafi, Syafi'i dan Hanbali. Al-Mausu'ah al-Fiqhiyah al-Kuwaitiyah 25/109.

Kedua:

Suami tidak boleh menunda punya anak bila alasannya tidaklah syar'i sebagaimana yang diceritakan oleh penanya.

Ketiga:

Kamu muslimin dan muslimat wajib menjalankan shalat, baik itu belum menikah atau sudah menikah. 

Dengan demikian nasehatilah suami supaya berubah dan mengkoreksi dirinya pada poin poin di atas. Apabila dia tidak mau mengkoreksi diri dan berubah maka silahkan meminta cerai. Apabila dia berubah pada dua poin tapi tidak mau shalat maka silahkan meminta cerai. 

 

© 2022 - Www.SalamDakwah.Com