SALWA RADIO - Menebar Salam, Menyebar Dakwah
Stay in touch with us:

Memilih Lanjut Studi Atau Tidak


Akhwat (Depok)
9 months ago on Keluarga

Assalaamu’alaikum ustadz, saya ibu 3 ank yang bekerja di pemerintahan. Saat ini saya sedang menjalani studi s3. Baru 1 semester kuliah, sy sakit keras ( liver Dan paru2). Karena sakit tersebut, suami saya menyuruh untuk berhenti kuliah, istirahat beberapa bulan, Batu setalah pulih boleh bekerja lagi. Saya bingung ustadz. Pdhal saya masih ingin kuliah. Suami sy tetap pada pendiriannya yaitu menyuruh sy brenti kuliah. Mohon solusinya ustadz. Terima kasih
Redaksi salamdakwah.com
9 months ago

 

وعليكم السلام ورحمة الله وبركاته

 

Dalam kasus yang penanya sampaikan yang bersangkutan harus mengikuti arahan suaminya. Apabila kondisi penanya sudah baik maka ia bisa berdiskusi lagi dengan suaminya tentang kelanjutan S3 (ini bila penanya tetap mampu melaksanakan kewajibannya sebagai seorang istri dan tidak ada penyelisihan syariat saat studi dilaksanakan). Berikut ini sebagian dalil dari al-Qur'an dan Sunnah yang menunjukkan disyariatkannya seorang istri berbakti dan taat kepada suaminya:

1. Firman Allah ta'ala di surat al-Baqarah:228


{وَلِلرِّجَالِ عَلَيْهِنَّ دَرَجَةٌ}


Akan tetapi Para suami, mempunyai satu tingkatan kelebihan daripada isterinya.

2. Firman Allah ta'ala di surat an-NIsa':34


الرِّجَالُ قَوَّامُونَ عَلَى النِّسَاءِ بِمَا فَضَّلَ اللَّهُ بَعْضَهُمْ عَلَى بَعْضٍ وَبِمَا أَنْفَقُوا مِنْ أَمْوَالِهِمْ


Kaum laki-laki itu adalah pemimpin bagi kaum wanita, oleh karena Allah telah melebihkan sebahagian mereka (laki-laki) atas sebahagian yang lain (wanita), dan karena mereka (laki-laki) telah menafkahkan sebagian dari harta mereka.

3. Sabda Nabi shallallahu alaihi wa sallam:


وَالَّذِي نَفْسُ مُحَمَّدٍ بِيَدِهِ لا تُؤَدِّي الْمَرْأَةُ حَقَّ رَبِّهَا حَتَّى تُؤَدِّيَ حَقَّ زَوْجِهَا , وَلَوْ سَأَلَهَا نَفْسَهَا وَهِيَ عَلَى قَتَبٍ لَمْ تَمْنَعْهُ


“Demi jiwa Muhammad yang ada di Tangan-Nya. Seorang istri belum menunaikan hak Rabbnya, sebelum dia menunaikan hak suaminya. Seandainya suami meminta pelayanan dirinya dalam kondisi dia di dapur, maka dia (tidak diperkenankan) untuk menolaknya.” (HR. Ibnu Majah, 1853 dan dishahihkan oleh Al-Albany dalam Shahih At-Targhib, 1938)

4. Sabda Nabi shallallahu alaihi wa sallam:


إِذَا صَلَّتِ الْمَرْأَةُ خُمُسَهَا، وَصَامَتْ شَهْرَهَا، وَحَصَّنَتْ فَرْجَهَا، وَأَطَاعَتْ بَعْلَهَا دَخَلَتْ مِنْ أَيِّ أَبْوَابِ الْجَنَّةِ شَاءَت


Apabila seorang wanita mengerjakan shalat lima waktu, mengerjakan puasa di bulan Ramadhan, menjaga kemaluannya, dan mentaati suaminya, maka ia akan masuk surga dari pintu mana saja yang ia kehendaki.” HR. Ibnu Hibban 9/471 no.4163 dan ath-Thabrani 5/34 no.4598 dan yang lainnya; dinilai shahih oleh Al-Albani dalam Adab az-Zafaf 286

5. Sabda Nabi shallallahu alaihi wa sallam:


لَوْ كُنْتُ آمِرًا أَحَدًا أَنْ يَسْجُدَ لِأَحَدٍ لَأَمَرْتُ المَرْأَةَ أَنْ تَسْجُدَ لِزَوْجِهَا


Jikalau saya boleh memerintahkan seseorang untuk bersujud kepada orang lain, niscaya aku perintahkan seorang istri bersujud kepada suaminya. HR. Abu Daud no.2140 dan Tirmidzi no.1159 dan Ibnu Majah no.1853. Albani mengatakan hadits ini hasan Shahih

6. Sabda Nabi shallallahu alaihi wa sallam:


عَنِ الْحُصَيْنِ بْنِ مِحْصَنٍ، أَنَّ عَمَّةً لَهُ أَتَتِ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِي حَاجَةٍ، فَفَرَغَتْ مِنْ حَاجَتِهَا، فَقَالَ لَهَا النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: " أَذَاتُ زَوْجٍ أَنْتِ؟ " قَالَتْ: نَعَمْ، قَالَ: " كَيْفَ أَنْتِ لَهُ؟ " قَالَتْ: مَا آلُوهُ إِلَّا مَا عَجَزْتُ عَنْهُ، قَالَ: " فَانْظُرِي أَيْنَ أَنْتِ مِنْهُ، فَإِنَّمَا هُوَ جَنَّتُكِ وَنَارُكِ


Dari Al Hushain bin Mihshan bahwa bibinya pernah mendatangi Nabi shallallahu 'alaihi wasallam untuk suatu keperluan. Setelah urusannya selesai, Nabi shallallahu 'alaihi wasallam pun bertanya kepadanya: "Apakah kamu mempunyai suami?" ia menjawab, "Ya." Beliau bertanya lagi: "Bagaimana engkau baginya?" ia menjawab, "Saya tidak pernah mengabaikannya, kecuali terhadap sesuatu yang memang aku tidak sanggup." Beliau bersabda: "Perhatikanlah, akan posisimu terhadapnya. Sesungguhnya suamimu adalah yang menentukan surga dan nerakamu (dengan kerodhaannya terhadapmu atau ketidak sukaannya terhadapmu.pent). HR. Ahmad 31/341 no.19003. Dishahihkan oleh al-Albani di Silsilah al-Ahadits ash-Shahihah 6/220 no.2612  

wallahu ta'ala a'lam

PERTANYAAN TERKAIT

© 2020 - Www.SalamDakwah.Com