SALWA RADIO - Menebar Salam, Menyebar Dakwah
Stay in touch with us:

Orang Tua Mengambil Uang Anaknya


Akhwat (Tegal)
7 months ago on Keluarga

Assalamualaikum ustad, saya mau tanya. Orangtua saya suka mengambil uang saya secara diam2 padahal sudah saya kasih uang setiap bulannya, apakah saya durhaka apabila saya memarahinya?
Redaksi salamdakwah.com
6 months ago

وعليكم السلام ورحمة الله وبركاته

 

Seorang ayah boleh mengambil harta anaknya tanpa seizin si anak bila dia membutuhkan. Ini berdasarkan hadits Nabi shallallahu alaihi wa sallam. Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam pernah bersabda kepada seorang laki-laki ketika ia berkata: "Ayahku ingin mengambil hartaku." Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda: "Kamu dan hartamu milik ayahmu."
(HR. Ahmad, II/204, Abu Dawud no. 3530, dan Ibnu Majah no. 2292, dari Ibnu 'Amr radhiyallahu 'anhu). Sebagian Ulama' berpandangan bahwa kedudukan ibu juga sama dengan ayah. Sebagaimana ini diriwayatkan oleh Ibnu Hazm dalam al Muhalla (6/385) dari jabir bin Abdillah. Dan dari Uama' kontemporer ada syaikh Sholeh al-Fauzan yang berpandangan demikian.

Orang tua boleh mengambil harta anaknya tanpa izin dengan tiga syarat sebagaimana yang disebutkan oleh syaikh Utsaimin rahimahullahu, yaitu:

1.   Ketika harta itu diambil si anak tidak sedang membutuhkan  harta tersebut. Misalnya si anak membutuhkan mobil untuk transportasi harian dan tidak ada penggantinya maka si ortu tidak boleh mengambil mobil itu.

2. Pengambilan harta itu tidak membuat si anak terkena mudhorot

3. Tidak melakukan pengambilan harta anak dengan niat memberikannya kepada anak lain

Diringkas dari Fatawa Islamiah  4/108

Apabila syarat ini terpenuhi maka ayah boleh mengambil uang anaknya.

Apabila penanya ingin meminta kembali uang yang diambil orang tuanya maka lakukanlah dengan lemah lembut dan penuh penghormatan. Janganlah orangtujdimarahi karena ini dikhawatirkan masuk ke dalam sikap durhaka. Dalam surat al-Isra' ayat 23 kita dilarang oleh Allah ta'ala untuk berkata Uf (semacam Ah) kepada orang tua kita yang telah lanjut usia dan membentaknya:


وَقَضَى رَبُّكَ أَلا تَعْبُدُوا إِلا إِيَّاهُ وَبِالْوَالِدَيْنِ إِحْسَانًا إِمَّا يَبْلُغَنَّ عِنْدَكَ الْكِبَرَ أَحَدُهُمَا أَوْ كِلاهُمَا فَلا تَقُلْ لَهُمَا أُفٍّ وَلا تَنْهَرْهُمَا وَقُلْ لَهُمَا قَوْلا كَرِيمًا


Dan Rabbmu telah memerintahkan supaya kamu jangan menyembah selain Dia dan hendaklah kamu berbuat baik pada ibu bapakmu dengan sebaik-baiknya. jika salah seorang di antara keduanya atau Kedua-duanya sampai berumur lanjut dalam pemeliharaanmu, Maka sekali-kali janganlah kamu mengatakan kepada keduanya Perkataan "ah" dan janganlah kamu membentak mereka dan ucapkanlah kepada mereka Perkataan yang mulia

Berkata Imam Al Qurtubi mudah-mudahan Allah merahmatinya: "Termasuk‘Uquuq (durhaka) kepada orang tua adalah menyelisihi/ menentang keinginan-keinginan mereka dari (perkara-perkara) yang mubah, sebagaimana Al Birr (berbakti) kepada keduanya adalah memenuhi apa yang menjadi keinginan mereka. Oleh karena itu, apabila salah satu atau keduanya memerintahkan sesuatu, wajib engkau mentaatinya selama halitu bukan perkara maksiat, walaupun apa yang mereka perintahkan bukan perkara wajib tapi mubah pada asalnya, demikian pula apabila apa yang mereka perintahkan adalah perkara yang mandub (disukai/ disunnahkan).(Al Jami’ Li Ahkamil Qur’an Jil 6 hal 238). 

Salah satu contoh bagi kita terkait proses memberikan masukan ke orang tua adalah Nabi Ibrohim alaihissalam. Berikut ini kisah dakwah Nabi Ibrahim kepada ayahnya yang tidak beriman dalam surat Maryam


قَالَ أَرَاغِبٌ أَنْتَ عَنْ آلِهَتِي يَا إِبْرَاهِيمُ لَئِنْ لَمْ تَنْتَهِ لأرْجُمَنَّكَ وَاهْجُرْنِي مَلِيًّا (٤٦)قَالَ سَلامٌ عَلَيْكَ سَأَسْتَغْفِرُ لَكَ رَبِّي إِنَّهُ كَانَ بِي حَفِيًّا


46. berkata bapaknya: "Bencikah kamu kepada tuhan-tuhanku, Hai Ibrahim? jika kamu tidak berhenti, Maka niscaya kamu akan kurajam, dan tinggalkanlah aku buat waktu yang lama".

47. berkata Ibrahim: "Semoga keselamatan dilimpahkan kepadamu, aku akan memintakan ampun bagimu kepada Rabbku. Sesungguhnya Dia sangat baik kepadaku.

Syaikh Abdurrahman bin Nashir As-Sa'di menafsirkan ayat yang menunjukkan respon Nabi Ibrohim terhadap sikap keras kepala ayahnya padahal sudah didakwahi:

Maka alkholil (Ibrahim.pen) menjawab dengan jawaban hamba Allah ketika berbicara dengan orang yang tidak mengetahui. Beliau tidak mencelanya dan tidak meresponnya dengan sesuatu yang tidak disukai, akan tetapi beliau bersabar. Beliau mengatakan:


سَلاَمٌ عَلَيْكَ


Anda akan selamat dari celaanku yang tidak Anda sukai.


سَأَسْتَغْفِرُ لَكَ رَبِّي إِنَّهُ كَانَ بِي حَفِيًّا


Aku tetap mendoakan Anda supaya mendapat hidayah untuk memeluk Islam dan supaya Anda mendapat maghfiroh sehingga Anda mendapat ampunan. Taisir Al-Karim Ar-Rahman Abdurrahman bin Nashir As-Sa'di hal.494

 

 

PERTANYAAN TERKAIT

© 2020 - Www.SalamDakwah.Com