SALWA RADIO - Menebar Salam, Menyebar Dakwah
Stay in touch with us:

Hutang Bisnis


Akhwat (Jakarta)
2 months ago on Mu'ammalah

Assamualaikum ustad, Dulu waktu semasa hidup kakek saya berdagang Emas. Dengan sistem, dimana kakek saya menggambil barang kepada si A (Pihak pertama) kemudian dijual lagi oleh kakek saya kepada si C (pihak ketiga). Suatu ketika terjadi musibah dimana kakek saya ditipu oleh si C (Pihak ketiga) dimana emas itu dibawa kabur tanpa membayar sepeserpun. Waktu terus berlalu pada tahun 2004 kakek saya meninggal dunia, pada saat itu om saya (anak pertama) dari kakek saya menanyakan masalah hutang - piutang dagang dimasa dulu itu dan bagaimana pembayarannya kepada si A (Pihak pertama) yang memberikan emas dagang tersebut. Namun Jawaban dari si A yang masih bersaudara dengan keluarga kami mengentengkan "Nati saja, santai saja" seperti itu. Tiba - Tiba 2 tahun belakangan ini pihak A mendesak untuk dibayarkannya hutang jual beli emas tersebut. Pihak A ingin hutang tersebut dibayar dengan harga emas saat ini, apakah itu benar? Mohon penjelasan ustad bagaimana solusi baiknya bagi pihak A dan keluar kami? karena pihak A tidak ingin duduk bersama dibicarakan secara kekeluargaan dan terbuka bagaimana rincian hutang sebenarnya dia hanya minta agar hutang dibayarkan sebanyak barang yang diambil dan dengan harga emas sekarang.
Redaksi salamdakwah.com
2 months ago

وعليكم السلام ورحمة الله وبركاته

 

Seseorang yang menghutangi emas berhak untuk meminta pengembalian dalam bentuk emas atau meminta pembayaran dalam bentuk lain senilai harga emas saat pembayaran. Ulama' yang duduk di Komite Tetap Reset Ilmiah dan Fatwa Arab Saudi pernah ditanya:
Apa hukum meminjam emas batangan atau yang berantai kepada orang lain lalu mengembalikannya dalam bentuk emas dengan berat dan harga yang sama dan hukum meminjam uang dinar emas dari orang lain lalu mengembalikannya dalam bentuk dinar emas dengan nilai yang sama?
Mereka menjawab:
Meminjam emas lalu membayarnya dalam bentuk emas dengan ukuran dan berat yang sama merupakan tindakan yang tidak dilarang, berdasarkan sabda Nabi Shallallahu `Alaihi wa Sallam


«الذَّهَبُ بِالذَّهَبِ، وَزْنًا بِوَزْنٍ، مِثْلاً بِمِثْلٍ »


Emas dengan emas, sama timbangannya dan semisal

Jika peminjam melebihkan bayarannya tanpa ada pensyaratan atau kesepakatan atas penambahan terlebih sebelumnya, maka hukumnya juga boleh, berdasarkan sabda Nabi Shallallahu `Alaihi wa Sallam


«إِنَّ خِيَارَ النَّاسِ أَحْسَنُهُمْ قَضَاءً »


Sesungguhnya manusia yang paling baik adalah yang paling baik dalam membayar hutangnya...Fatawa Al-Lajnah ad-Daimah 14/113 Pertanyaan Pertama dari Fatwa Nomor 19173

Dalam hadis Abdullah bin Umar radhiyallahu `anhuma, dia  berkata Kami bertanya kepada Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam,

« يَا رَسُوْلَ اللهِ، إِنَّا نَبِيْعُ بِالدَّرَاهِمِ وَنَأْخُذُ الدَّنَانِيْرَ، وَنَبِيْعُ باِلدَّنَانِيْر وَنَأْخُذُ الدَّرَاهِمَ، فَقَالَ: لاَ بَأْسَ أَنْ تَأْخُذَهَا بِسِعْرِ يَوْمِهَا مَا لَمْ تَفْتَرِقَا وَبَيْنَكُمَا شَيْءٌ»


"Dulu kami menjual dengan dinar dan kami mengambil dirham. Terkadang kami menjual dengan dirham dan mengambil dinar." Lantas Nabi Shallallahu 'Alaihi wa Sallam bersabda, "Tidaklah masalah kamu mengambil nya sesuai harganya di hari itu selagi kalian berdua belum berpisah dan masing-masing telah memegang barangnya (kontan)."(HR.An-Nasai; Abu Daud no.3354; Ahmad 2/139; Ad-Darimi no.2581)

Idealnya sebelum warisan dibagikan ke ahli waris hutang yang bersangkutan harus segera dibayar dan tidak boleh ditunda-tunda. Ini bila ternyata kakek penanya bukan wakil dari si A. Tapi kalau kakek penanya adalah wakil si A atau agen resminya maka kehilangan barang yang tidak ada kelalaian dari kakek penanya tidak wajib ditanggung oleh kakek penanya. Semoga Allah ta'ala mudahkan urusan penanya dan keluarganya.

Wallahu ta'ala a'lam

PERTANYAAN TERKAIT

© 2020 - Www.SalamDakwah.Com