SALWA RADIO - Menebar Salam, Menyebar Dakwah
Stay in touch with us:

Apa Salah dan Dosa Saya Sehinga Terjadi Hal Ini


Akhwat (Palembang)
9 months ago on Keluarga

Assalamualaikum warahmatullahi wabarokatu Pak ustadz saya ingin bertanya kepada bapak. Apa dosa saya sehingga saya harus menjali hidup seperti ini.. Saya nikah di 2017, tapi saya di benci sama mertua saya, bahkan mertua saya mau misahkan saya sama anak nya, bahkan saya di hina di maki.. 2017 sampai 2019 saya tidur terpisah kami d rumah masing masing, karna saya tidak mau suami saya durhaka sama org tua nya, dan saya mengizinkan suami tinggal sama org tua nya karna salah satu org tua nya ada yg sakit dan butuh bantuan suami saya, suami pun di sana mengerjakan semua tugas rumah dan bahkan juga d hina d bentak tidak seperti perilaku seorang anak. 2019 febuari saya hamil dan saya di izinkan tinggal sama mertua mereka ada perubahan yg baik, dan saya senag dan merespon bahagia, tapi saya di sana lagi hamil muda sampai tua di suru kerja tugas rumah sampai kelelahan, bahkan org hamil pun tidak pantas mengangkat barang berat.. Tapi saya huznuzon sama mereka asal saya dan suami bisa bersama karna baru pertama kali serumah.. Tapi saya hamil cuma batas 7 bulan lahiran prematur, karna sering kerja dan setres.. Bayi saya cuma bertahan beberapa hari, saya dan suami sedih dan terpukul sekali.. Dan ahkir nya saya kembali d hina d kata katai, saya pulang kerumah org tua saya, kadang suami certia saya masih d hina dan omongi ke semua krg kalau saya tidak becus merawat kandungan, mereka omongi saya dgn tetanga kalau saya ni yg buat anak saya melahirkan dini, padahal sebenarnya tidak seperti itu.. Saya dan suami harus gimana pak ustadz, saya dan suami saling mencintai.. Kenapa hidup saya harus seperti ini, saya dan suami ngk pernah tinggal kan sholat dan bahkan kami termasuk golongan umat yg rajin ibadah.. Tapi coba an kami seperti ini, rasa nya tidak sangup pak ustadz, saya ingin sekali bersatu sama suami tapi suami harus merawat org tua nya yg sakit.. Saya juga sayang sama mertua tidak ada dendam, saya ingin sekali berkumpul sama suami pak ustadz.. Kenapa tuhan memberi saya cobaan seberat ini, saya sedih sekali d tingal anak dan d pisahkan suami 😢
Redaksi salamdakwah.com
9 months ago

وعليكم السلام  ورحمة الله وبركاته

 

Tidak diragukan lagi bahwa kesabaran akan bertambah seiring dengan bertambahnya keimanan seseorang kepada Allah ta'ala dan kepada qadha' serta qadar-Nya, sehingga mustahil kesabaran karena Allah ta'ala bisa ada dan meningkat tanpa keberadaan iman dan peningkatan iman kepada-Nya. Kewajiban kita sebagai seorang muslim adalah berusaha menjaga iman dan meningkatkannya dalam keadaan apapun.

Setiap kita perlu meyakini bahwa apa yang menimpa kita tidak lepas dari takdir Allah ta'ala. Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda:


وَتَعْلَمَ أَنَّ مَا أَصَابَكَ لَمْ يَكُنْ لِيُخْطِئَكَ، وَأَنَّ مَا أَخْطَأَكَ لَمْ يَكُنْ لِيُصِيبَكَ


Ketahuilah bahwa apa yang semestinya tidak menimpa kamu, tidak akan menimpamu, dan apa yang semestinya menimpamu tidak akan terhindar darimu. HR. Ahmad 35/465 Abu Daud 4699 dan yang lainnya. Dishahihkan oleh al-Albani

Apabila ini sudah diyakini oleh seorang hamba maka biidznillah dia akan memiliki ketahanan dan kesabaran dalam menghadapi ujian, musibah dan cobaaan.

Perlu kita fahami  bahwa sesuatu yang menimpa kita dalam bentuk yang tidak mengenakkan  dalam pandangan kita belum tentu dikarenakan dosa, bisa jadi itu merupakan cobaan dari Allah ta'ala untuk hamba. Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda:


إِنَّ عِظَمَ الجَزَاءِ مَعَ عِظَمِ البَلَاءِ، وَإِنَّ اللَّهَ إِذَا أَحَبَّ قَوْمًا ابْتَلَاهُمْ، فَمَنْ رَضِيَ فَلَهُ الرِّضَا، وَمَنْ سَخِطَ فَلَهُ السَّخَط


"Sesungguhnya besarnya balasan tergantung dari besarnya ujian, dan apabila Allah cinta kepada suatu kaum Dia akan menguji mereka, barangsiapa yang ridla maka baginya keridlaan Allah, namun barangsiapa yang murka maka baginya kemurkaan Allah." HR. Tirmidzi no. 2396 dan Ibnu Majah no. 4031. Dihasankan oleh Al-Albani.

Bisa jadi juga apa yang menimpa kita merupakan efek dosa yang tidak kita sadari. berikut ini keterangan syaikh Ibnu Baz berkenaan dengan status yang menimpa kita. 

Syaikh Abdul Aziz bin Abdullah bin Baz pernah ditanya," Apabila seseorang ditimpa suatu penyakit atau bencana buruk pada diri atau hartanya, bagaimana cara mengetahui bahwa bencana yang datang itu sebagai ujian atau kemurkaan Allah?"


Beliau menjawab," Allah 'Azza wa Jalla menguji para hamba-Nya dengan kesenangan dan kesusahan dan dengan kesulitan dan kelapangan. Terkadang Allah menguji mereka untuk menaikkan derajat mereka dan mengangkat kedudukan diri mereka serta melipatgandakan pahala amal kebaikan yang mereka lakukan. Hal itu juga Allah berlakukan pada para nabi dan para rasul 'Alaihimush Shalatu was Salam dan para hamba-Nya yang saleh. Hal ini sebagaimana sabda Nabi Shallallahu 'Alaihi wa Sallam,

أشد الناس بلاء الأنبياء ثم الأمثل فالأمثل

"Orang yang paling berat ujiannya adalah para nabi kemudian orang-orang pilihan setelah mereka."

Terkadang Allah menurunkan musibah karena maksiat dan dosa sehingga musibah yang datang adalah azab yang disegerakan. Allah Subhanahu berfirman (asy-Syuro:30),

وَمَا أَصَابَكُمْ مِنْ مُصِيبَةٍ فَبِمَا كَسَبَتْ أَيْدِيكُمْ وَيَعْفُو عَنْ كَثِيرٍ

Dan musibah apa saja yang menimpa kalian maka itu adalah disebabkan oleh perbuatan tangan kalian sendiri, dan Allah memaafkan sebagian besar (dari kesalahan-kesalahan kalian).

Kebanyakan manusia itu lalai dan enggan melakukan kewajiban sehingga musibah yang menimpanya adalah karena dosa dan kelalaiannya dalam menjalankan perintah Allah. Apabila seorang hamba saleh ditimpa cobaan penyakit atau sejenisnya, maka cobaan ini sama dengan ujian yang pernah menimpa para Nabi dan para Rasul untuk mengangkat derajat dan melipatgandakan pahala serta menjadi contoh teladan bagi orang lain dalam kesabaran dan keikhlasan di dalam menerima cobaan. Kesimpulannya adalah bahwa suatu musibah bisa jadi untuk mengangkat derajat dan melipagandakan pahala sebagaimana ujian yang pernah ditimpakan Allah kepada para Nabi dan orang-orang saleh dan bisa jadi ujian itu untuk menghapus amal-amal buruk sebagaimana firman Allah Ta'ala (an-Nisa':123),

مَنْ يَعْمَلْ سُوءًا يُجْزَ بِهِ

Barangsiapa yang mengerjakan kejahatan, niscaya akan diberi pembalasan dengan kejahatan itu

Dan sabda Nabi Shallallahu 'Alaihi Wa Sallam,"

ما أصاب المسلم من هم ولا غم ولا نصب ولا وصب ولا حزن ولا أذى إلا كفر الله به من خطاياه حتى الشوكة يشاكها

Tidak ada kegelisahan, kegundahan, keletihan, sakit, kesedihan atau gangguan yang dirasakan seorang Muslim, bahkan duri yang melukainya, kecuali Allah mengampuni dosa-dosanya karena hal-hal tersebut."

Serta sabda Nabi Shallallahu 'Alaihi wa Sallam,"

(من يرد الله به خيرا يصب منه)

Barangsiapa diinginkan Allah mendapat kebaikan, maka Dia akan menurunkan musibah."

Ujian juga bisa jadi sebagai azab yang disegerakan oleh Allah karena maksiat dan pelakunya tidak mau segera bertobat sebagaimana hadis dari Nabi Shallallahu `Alaihi wa Sallam bahwasanya ia bersada, "

إذا أراد الله بعبده الخير عجل له العقوبة في الدنيا وإذا أراد الله بعبده الشر أمسك عنه بذنبه حتى يوافي به يوم القيامة

Jika Allah menginginkan kebaikan pada hamba-Nya, maka Dia menyegerakan hukumannya di dunia. Jika Allah menginginkan keburukan pada hamba-Nya, maka Dia tidak langsung menghukumnya karena dosanya hingga kelak Dia menghukumnya pada hari kiamat." Hadits ini diriwayatkan oleh Tirmidzi yang menyatakannya sebagai hadis hasan.
https://www.binbaz.org.sa/fatawa/115#ftn2

Berdasarkan keterangan umum dari syaikh Masyhur bin Hasan hafidhohullahu ta'ala terkait musibah yang datag sebagai hukuman, Yang perlu anda laksanakan sekarang adalah
- bertaubat
- beristighfar
- bersabar
- ridho,
- berusaha menambah ketakwaan
- meminta tolong kepada Allah ta'ala
- memperbaiki jalan hidup
- berusaha untuk istiqomah di jalan Allah ta'ala
- berusaha menyesuaikan diri dengan sunnatullah.

Solusi yang bisa kami usulkan adalah, mungkin anda dan suami mengontrak rumah yang biayanya sesuai dengan kemampuan dan rumah yang dekat dengan orang tua. Dengan begini diharapkan anda tetap nyaman dengan kemandirian berumah tangga  hanya bersama suami dan di sisi lain suami anda bisa dengan mudah ke rumah orang tuanya bila dibutuhkan

 

والله تعالى أعلم بالحق والصواب

 

© 2020 - Www.SalamDakwah.Com