SALWA RADIO - Menebar Salam, Menyebar Dakwah
Stay in touch with us:

Suami Memerintahkan Istrinya Membantu Keluarga Suami


Akhwat (Malang)
1 year ago on Keluarga

Sy baru menikah dan saat ini sy dalam kondisi hamil anak pertama. Selain menikah sy jg sedang kuliah. Skrng sy tinggal di rumah mertua sesuai keinginan suami. Suami jg jarang di rumah krn bekerja di luar kota. Di rumah, ada orang tua dan nenek suami yang ketiganya kurang mampu mengurus diri sendiri sehingga suami meminta saya meladeni mereka. Awalny saya mencoba sekadarny, tp suami meminta supaya sy bisa menghandel banyak hal seperti selalu menyiapkan makan dan membantu apa yang bisa dibantu. Sy prnah cekcok dgn suami krn saya merasa sprt pembantu, tp suami bilang dia ingin sy berbakti ke orang tuanya. Sy bahkan bbrp kali tidak boleh meninggalkan rumah selain keperluan kuliah untuk alasan kepentingan di rumahnya. Sy juga tidak diizinkan pulang k rumah orang tua terlalu lama. Smpai saat ini sy selalu merasa bahwa apa yang sy lakukan adalah beban, terlebih suami selalu menganggap apa yg sy lakukan kurang. Trkadang sy merasa muak, dan dia meminta sy ikhlas, tp sy masih bertanya bagaimana caranya untuk ikhlas. Saat ini sy jg hamil dan ingin dimanja, tp sy terlalu capek untuk melakukan semua hal seharian dan sendirian. Bagaimana sy harus menghadapiny?
Redaksi salamdakwah.com
1 year ago

الحمد لله والصلاة والسلام على رسول الله وعلى آله وصحبه ومن والاه

Wallahu ta'ala a'lam. Yang tepat adalah anda perlu membantu dan berbuat baik kepada mertua dan keluarga suami semampu anda. Anda tidak wajib membantu dan berbuat baik ke mereka di luar kemampuan anda.  Suami anda tidak berhak memaksa anda melakukan hal di luar kemampuan anda.

Ada pertanyaan yang ditujukan kepada Ulama' yang duduk di Komite Tetap Riset Ilmiah dan Fatwa Arab Saudi:Saya memiliki seorang ibu di Suriah yang sudah berusia 70 tahun dan tidak memiliki anak lelaki selain saya. Sementara saya telah meninggalkan negara saya sejak tiga tahun yang lalu. Mengingat situasi sulit yang melanda negara kami, terutama provinsi Hamah yang telah dilanda bencana besar - dan Anda pasti sudah mendengarnya - belakangan ini, maka saya memutuskan untuk tidak kembali ke sana. Tapi masalahnya adalah, ibu saya hidup sendirian, dan bulan lalu dia terkena penyakit yang membuatnya tidak dapat bergerak kemana-mana. Ibu ingin saya mengirimkan istri saya - yang sekarang tinggal bersama saya di sini - ke Suriah untuk membantunya yang sedang menderita penyakit parah. Namun istri saya tidak mau pergi ke sana karena - di satu sisi - situasi di sana sedang gawat, dan - di sisi lain - dia memiliki empat anak yang belum mampu mengurus diri mereka sendiri. Bahkan salah seorang di antara mereka masih kecil dan butuh perawatan intensif, lebih-lebih karena dia menderita penyakit yang membutuhkan perawatan ekstra. Di samping itu, istri saya tidak ingin pergi ke Suriah sendirian. Sebelumnya saya ingin menitipkan istri saya kepada guru-guru yang hendak pulang ke Suriah pada akhir tahun ajaran ini, namun istri saya tidak mau. Pertanyaannya adalah, apakah di dalam syariat Islam ada dalil yang mewajibkan seorang istri untuk membantu ibu suaminya (mertuanya)? Jika istri saya tidak mau pulang ke Suriah, apakah saya dianggap telah durhaka kepada ibu saya, karena barangkali dia marah karena istri saya tidak mau pulang ke Suriah untuk membantunya?

Mereka menjawab: Pertama, di dalam syariat Islam tidak ada dalil yang menunjukkan bahwa seorang istri berkewajiban untuk membantu ibu suaminya, kecuali sebatas untuk berbuat baik dan sesuai dengan kemampuan. Tujuannya adalah untuk menjaga hubungan baik dengan keluarga suaminya dan berbuat baik dengan cara yang semestinya. Kedua, jika istri Anda tidak mau pulang ke Suriah untuk membantu ibu Anda karena takut terkena dampak dari peristiwa dan bahaya yang melanda daerah ibu Anda, mengingat situasi di sana sekarang ini sedang gawat, maka dia dapat dimaklumi. Anda tidak berdosa karena istri Anda tidak mau pergi ke Suriah, meskipun ibu Anda marah. Anda harus berbuat baik kepada ibu Anda - tanpa harus mengirim istri Anda ke suriah - dengan cara yang dapat Anda lakukan, misalnya dengan cara mendatangkan ibu Anda untuk hidup bersama Anda, mengirimkan uang untuk menyewa orang yang membantunya, atau dengan cara lain yang dapat Anda lakukan. Wallahul Musta`an (Hanya Allah, Dzat yang patut dimintai pertolongan). Wabillahittaufiq, wa Shallallahu `Ala Nabiyyina Muhammad wa Alihi wa Shahbihi wa Sallam.

Komite Tetap Riset Ilmiah dan Fatwa
Abdullah bin Qu'ud (Anggota)
Abdullah bin Ghadyan (Anggota)
Abdurrazzaq `Afifi (Wakil Ketua)
Abdul Aziz bin Abdullah bin Baz (Ketua)
Fatawa al-Lajnah ad-Daimah 19/264-265 Fatwa Nomor:4985

Keadaan ini berbeda bila dibandingkan dengan orang tua sendiri, di mana telah banyak dalil yang menunjukkan bahwa seorang anak wajib berbakti kepada orang tuanya. Meskipun demikian berbuat baik kepada orang tua suami lebih ditekankan dibanding berbuat baik ke sesama muslim, namun tetap orang tua sendiri lebih diutamakan dibanding orang tua suami.

Seseorang disyariatkan untuk berbuat baik kepada mertuanya dan orang lain, namun kepada mertuanya lebih ditekankan karena dengan berbuat baik kepada mertuanya dia telah membantu pasangannya untuk berbakti. Dalam salah satu riwayat yang shahih disebutkan:


عَنْ عَلِيٍّ قَالَ: كُنْتُ رَجُلًا مَذَّاءً وَكُنْتُ أَسْتَحْيِي أَنْ أَسْأَلَ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لِمَكَانِ ابْنَتِهِ فَأَمَرْتُ الْمِقْدَادَ بْنَ الْأَسْوَدِ فَسَأَلَهُ فَقَالَ: «يَغْسِلُ ذَكَرَهُ وَيَتَوَضَّأُ»


Dari Ali bin Abi thalib radhiyallahu anhu, ia berkata:”Aku adalah orang yang banyak mengeluarkan madzi, namun aku malu untuk bertanya langsung kepada Rasulullah karena kedudukan putrinya (Fatimah) yang menjadi istriku. Akupun meminta al-Miqdad Ibnu al-Aswad untuk menanyakan kepada Rasulullah, Beliau menjawab:


يَغْسِلُ ذَكَرَهُ وَيَتَوَضَّأُ


“Seharusnya ia mencuci kemaluannya dan berwudhu" HR. Bukhari no.178 dan Muslim no.303. Lafadz ini adalah lafadz Muslim

Setelah membawakan riwayat tersebut imam an-Nawawi rahimahullah menerangkan:

وَفِيهِ اسْتِحْبَابُ حُسْنِ الْعِشْرَةِ مَعَ الْأَصْهَارِ وَأَنَّ الزَّوْجَ يستحب له أن لا يذكر بِجِمَاعِ النِّسَاءِ وَالِاسْتِمْتَاعِ بِهِنَّ بِحَضْرَةِ أَبِيهَا وَأَخِيهَا وَابْنِهَا


Imam an-Nawawi rahimahullah ta'ala terkait hadits itu menerangkan: pada hadits itu ada anjuran untuk berbuat baik kepada keluarga istri. Syarh an-Nawawi Ala Shahih Muslim 3/214

Ada pertanyaan yang ditujukan kepada Ulama' yang duduk di Komite Tetap Riset Ilmiah dan Fatwa Arab Saudi: Apakah sikap baik dan bakti kepada kedua orang tua suami adalah hak suami atas istrinya, meskipun kedua mertua itu non-muslim? Perlu diketahui, bahwa istri tersebut tinggal bersama suaminya di sebuah rumah yang terpisah dari keluarga suami. Istrinya juga mengunjungi kedua mertuanya dari waktu ke waktu. Mohon jelaskan kepada kami. Semoga Allah memberi kebaikan kepada Anda.

Mereka menjawab: Seorang muslimah dituntut bersikap baik kepada kedua mertua dan yang lainnya. Akan tetapi, yang paling ditekankan adalah sikap baik terhadap kedua mertua, karena itu merupakan bentuk bakti kepada suami. Ini juga berarti membantu suami untuk berbakti kepada kedua orang tuanya. Wabillahittaufiq, wa Shallallahu `ala Nabiyyina Muhammad wa Alihi wa Shahbihi wa Sallam.

Komite Tetap Riset Ilmiah dan Fatwa
Bakr Abu Zaid (Anggota)    
Shalih al-Fawzan (Anggota)    
Abdullah bin Ghadyan (Anggota)    
Abdul Aziz Alu asy-Syaikh (Ketua)
Abdul Aziz bin Abdullah bin Baz 
Fatawa al-Lajnah ad-Daimah 19/266 Pertanyaan Ketiga dari Fatwa Nomor:18280

 Wallahu ta'ala a'lam

  

© 2021 - Www.SalamDakwah.Com