SALWA RADIO - Menebar Salam, Menyebar Dakwah
Stay in touch with us:

Menikah Tanpa Izin Dari Wali Karena Tempatnya Jauh (Ini Didasari Pendapat Dalam Salah Satu Madzhab)


Akhwat (Bangka Belitung)
9 months ago on Fiqih

Assalamu'alaikum, Ustadz. Terima kasih atas jawabannya sebelumnya. Ustadz saya pernah baca ini: ( Masalah ) laki laki yang membawa  pergi perempuan dari keluarganya kemudian menjauhkanya dari walinya sampai jarak qosor atau lebih . apabila ada udzur untuk mengembalikanya misal karena takut , dengan demikian apabila perempuan tersebut mengizinkan maka sah nikahnya dengan syarat hakim menikahkanya dengan orang yang sepadan , karena Ashab Syafi’iyyah tidak membedakan antara perginya wali atau  perginya perempuan dan perginya perempuan karena di paksa atau kerena kemauanya sendiri. Bahkan saya berkata apabila dia punya wali di tempat kemudian walinya tidak mau menikahkan dengan orang yang sepadan tapi perempun tersebut sulit membuktikan ketidakmauan wali untuk menikahkan , kemudian oerempuan tersebut pergi kesuatu tempat yang jauh dari wali lalu memberi izin kepada qodli setempat untuk menikahkannya dengan laki laki yang sepadan , maka pernikahanya sah . ( Bugyatul Mustarsyidin Hal : 208 ) Tapi saya juga pernah baca ini: “Wanita manapun yang menikah tanpa seizin walinya, maka pernikahannya bathil, pernikahannya bathil, pernikahannya bathil. Jika seseorang menggaulinya, maka wanita itu berhak mendapatkan mahar, sehingga ia dihalalkan terhadap kemaluannya. Jika mereka terlunta-lunta (tidak mempunyai wali), maka penguasa adalah wali bagi siapa (wanita) yang tidak mempunyai wali.” (At Tirmidzi no 1102) Bagaimana pendapat Ustadz tentang hal tersebut? Apakah boleh menikah tanpa seizin ayah kandung karena tempat tinggalnya jauh (lebih dari 84/90 km) syarat qashar shalat dengan wali muhakkam? Sahkah pernikahannya? Mohon penjelasannya Ustadz. Terima kasih. Wasssalamu'alaikum warohmatullahi wabarokaatuh.
Redaksi salamdakwah.com
9 months ago

وعليكم السلام ورحمة الله وبركاته

 

Nabi Shallallahu Alaihi Wasallam bersabda

(لَا نِكَاحَ إِلَّا بِوَلِيٍّ) 

(Tidak sah pernikahan tanpa adanya Wali ) Hadits riwayat Abu Daud ( 2085 ) At Turmudzi ( 1101 ) Ibnu Majah ( 1881) Dari Hadits Abu Musa Al ‘Asy’ari dan disahihkan oleh Al Albani dalam sahih at Turmudzi.

Dan Rasulullah Shallallahu Alaini Wasallam juga bersabda :

عَنْ عَائِشَةَ رضي الله عنها قَالَتْ : قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : ( أَيُّمَا امْرَأَةٍ نَكَحَتْ بِغَيْرِ إِذْنِ مَوَالِيهَا فَنِكَاحُهَا بَاطِلٌ ، فَنِكَاحُهَا بَاطِلٌ ، فَنِكَاحُهَا بَاطِلٌ 

Dari Aisyah Radliyallahu Anha dia berkata : Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam bersabda : ( Siapapun wanita yang menikah tanpa seizin wali-walinya maka pernikahannya batil, maka pernikahannya batil, maka pernikahannya batil ) Hadits riwayat Ahmad ( 24417 ) dan Abu Daud ( 2083 ) dan At Turmudzi ( 1102 ) dan selain keduanya kemudian disahkan oleh Al Albani dalam Shahih Al Jami’ nomer : ( 2709 )

Syaikh Ibnu Baz rahimahullah ta'ala menyebutkan solusi bila walinya berada di tempat yang jauh:

إذا كان بعيد ويعرف محله فإنه يكاتب، أما إذا كان لا يعرف محله فالولي الذي بعده يقوم مقامه، الذي أدنى منه يقوم مقامه، فإذا كان ماله ولي سوى الغائب الذي يجهل مكانه، فالسلطان يقوم مقامه، يعني: الحاكم أو الأمير إذا ما له حاكم يقوم مقامه.

Jika walinya berada di tempat yang jauh dan tempatnya masih bisa diketahui maka wali itu dikirimi surat. Apabila tidak diketahui tempatnya maka wali lain yang berada di urutan setelahnya yang menempati posisi wali yang tidak diketahui tempatnya tersebut. Apabila wanita itu tidak punya wali, dia punya wali tapi tidak diketahui tempatnya maka sultan yang menempati posisi wali, yakni pemimpin besar , dan itu bila tidak ada maka pemimpin yang lebih kecil. https://binbaz.org.sa/fatwas/11074/حكم-عقد-النكاح-بدون-ولي

Oleh karena itu si perempuan bisa menghubungi walinya perihal dia meminta izin menikah, alhamdulillah zaman sekarang banyak alat komunikasi yang mempermudah komunikasi kita semua. Apabila wali setuju maka ia bisa memberikan perwakilan kepada orang yang tempatnya dekat dengan si wanita. Wallahu ta'ala a'lam. Kami pribadi dalam masalah ini sangat condong ke keterangan syaikh Ibnu Baz karena pendapat itu yang mendekati nash yang ada.  

 

PERTANYAAN TERKAIT

© 2020 - Www.SalamDakwah.Com