SALWA RADIO - Menebar Salam, Menyebar Dakwah
Stay in touch with us:

Sikap Anak Ketika Orang Tua Pilih Kasih


Akhwat (Jakarta)
2 months ago on Keluarga

Assalamualaikum wr.wb Saya merasa orang tua saya pilih kasih.. Karena orang tua saya selalu saja memberi ke kk saya selalu.. saat kk saya menikah diberikan modal, di berikan rumah kontrakan dan sekarang diberikan sebidang tanah buat membuat rumah.. sedangkan saya adiknya dari mulai saya magang hingga saya bekeluarga tidak ada perhatian orang tua saya untuk memberikan sebidang tanah dan rumah.. saya akui saya jarang memberikan uang buat orang tua saya, karena saya berhenti bekerja dan fokus urus anak dan keluarga.. yang berbeda dari kk saya yang masih bekerja dan anaknya di titipkan ke orang tuanya.(padahal saya tidak bekerja itu biar orang tua saya tidak merasa kecapean mengurusi anak kecil, tapi nyatanya saya diolok2 ga kerja dll) sedangkan ketika orang tua saya butuh sesuatu dia suka minta bantuan saya, saya berikan sebutuhnya mereka bahkan melunasi utang mereka. Tetap saja saya rasa selalu saja tidak dipandang. Padahal saya sudah berusaha membantu orang tua saya.. saking keselnya saya berucap "mama papa pilih kasih" dan saya malah di doakan banyak dosa dan saya sedang hamil ini itu ini itu.. saya bicara seperti itu karna saya audah cukup kesal, tapi kenapa mereka tidak pernah terpikirkan kalau mereka sudah melakukan pilih kasih? Malah mendoakan yang aneh aneh.. Saya baca, rasullah saja tidak mau menjadi sanksi orang tua yag memberikan sebidang tanah untuk salah satu anak sedangkan anak lainnya tidak diberikan.. Wajar dong kalau anak lainnya merasa kesal, marah dan cemburu ketika melihat orang tuanya tiba tiba memberikan sebidang tanah tanpa memberitahu ke anak lainnya? Bukankah itu juga dosa?? Ketika saya menitipkan anak saya, anak saya lebih banyak di suru tidur dan tidur.. saya dan suami hubungan jarak jauh.. saya tidak pernah di temani buat ngurus anak.. tetapisaat suami kk saya pergi.. ibu saya buru2 langsung ke rumahnya buat menemani.. Pernah juga saya minta tolong belikan buah tapi orang tua saya tidak membelikannya.. hasilnya saya yang beli berjalan panas2 dengan kondisi hamil besar membawa buah berkilo2.. sedangkan kk saya minta dicarikan ini itu langsung dikerjakan tanpa basa basi.. Saya harus bagaimana ya menanggapinya???
Redaksi salamdakwah.com
2 months ago

 وعليكم السلام ورحمة الله وبركاته

Apabila faktanya memang seperti yang anda sampaikan di pertanyaan padahal anda adalah anak yang baik dan berbakti  maka ada kesalahan yang bersumber dari orang tua anda. Kami sarankan anda tetap memberikan nasehat kepada orang tua anda dengan cara yang baik dan tidak durhaka kepada mereka. Ulama' yang duduk di Komite Tetap Riset Ilmiah dan Fatwa Arab Saudi pernah ditanya tentang pilih kasih yang terjadi di keluarga penanya, kemudian mereka menjawab:

Jika ayah Anda mengizinkan Anda untuk mengambil apa yang Anda perlukan untuk keluarga Anda dari tokonya, walaupun tanpa sepengetahuannya sebagaimana dia juga mengizinkan untuk saudara-saudara Anda, maka Anda boleh mengambil sesuai dengan perintahnya itu.

Jika ayah Anda telah membantu saudara-saudara Anda ketika menikah, maka dia juga wajib membantu Anda seperti mereka. Dari an-Nu’man bin Bashir radhiyallahu ‘anhu,

«أن أباه أتى به رسول الله -صلى الله عليه وسلم- فقال: إني نحلت ابني هذا غلاما كان لي فقال رسول الله -صلى الله عليه وسلم-: أكل ولدك نحلته مثل هذا؟ قال: لا، فقال رسول الله -صلى الله عليه وسلم-: فأرجعه» وفي رواية: فقال رسول الله -صلى الله عليه وسلم-: «أفعلت هذا بولدك كلهم؟ قال: لا، قال: اتقوا الله واعدلوا بين أولادكم، فرجع أبي فرد تلك الصدقة  وفي رواية: فقال رسول الله -صلى الله عليه وسلم-: «يا بشير: ألك ولد سوى هذا؟ قال: نعم، قال: أكلهم وهبت له مثل هذا؟ قال: لا، قال: فلا تشهدني إذا، فإني لا أشهد على جور (2) » وفي رواية: «لا تشهدني على جور (3) » وفي رواية: «أشهد على هذا غيري"، ثم قال: "أيسرك أن يكونوا لك في البر سواء؟ قال: بلى، قال: فلا إذا (4) » متفق عليه.



bahwa ayahnya membawanya menghadap Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam lalu berkata, "Sesungguhnya aku telah memberi putraku ini seorang budak milikku." Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bertanya, "Apakah kamu juga memberikan hal yang sama kepada semua anakmu?" Dia menjawab, "Tidak." Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam pun bersabda, "Ambillah kembali budak tersebut." Dalam riwayat lain disebutkan bahwa kemudian Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda, "Apakah kamu melakukan ini terhadap semua anakmu?" Ayahku menjawab, "Tidak." Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda, "Bertakwalah kepada Allah dan berlaku adillah terhadap anak-anakmu." Kemudian ayahku kembali, lalu mengambil kembali sedekah tersebut."

Dan, dalam riwayat lain disebutkan bahwa kemudian Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda, "Wahai Basyir, apakah kamu memiliki anak selain anak ini?" Basyir menjawab, "Ya." Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bertanya lagi, "Apakah setiap orang dari mereka juga kamu beri seperti anak ini?" Dia menjawab, "Tidak." Kemudian Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda, "Kalau begitu, janganlah kamu jadikan aku sebagai saksi, karena sesungguhnya aku tidak bersaksi untuk kezaliman." Dalam riwayat lain, ”Jangan minta kesaksian kepadaku atas ketidakadilan.” Lalu dalam riwayat lain, "Jadikanlah orang lain sebagai saksi bagi hal ini." Kemudian beliau bersabda, "Bukankah kamu senang jika mereka berbakti kepadamu dengan cara yang sama?" Basyir menjawab, "Ya." Maka beliau bersabda, "Kalau begitu jangan bedakan pemberian untuk mereka." Muttafaq 'Alaih.

Apabila Anda merasa bahwa ayah Anda tidak menunaikan hak Anda, berbeda dengan anak-anaknya yang lain, maka mintalah dengan sopan dan lemah lembut hak yang tidak dia tunaikan. Juga jelaskan kepadanya bahwa bersikap adil kepada seluruh anak adalah kewajiban agama. Apabila kemudian dia bersikap baik kepada kalian, maka alhamdulillah. Jika tidak, maka--meskipun dalam kondisi seperti yang Anda sebutkan--Anda tidak boleh mengambil uangnya sebagai ganti biaya perbaikan apa pun, jika dia tidak mengetahuinya. Anda harus bersabar dan berdoa semoga Allah memberi petunjuk kepada ayah Anda.

Wabillahittaufiq, wa Shallallahu 'ala Nabiyyina Muhammad wa Alihi wa Shahbihi wa Sallam.

Komite Tetap Riset Ilmiah dan Fatwa
Bakar bin Abdullah Abu Zaid (Anggota)
Abdul Aziz bin Abdillah Alu asy-Syaikh (Anggota)     
Shalih bin Fawzan al-Fawzan (Anggota)     
Abdul Aziz bin Abdullah bin Baz (Ketua)
Fatawa al-Lajnah ad-Daimah 16/232 no.17824
 
Ada pertanyaan yang ditujukan kepada Ulama' yang duduk di Komite Tetap Riset Ilmiah dan Fatwa Arab Saudi : Apa hukum Islam tentang orang yang durhaka kepada kedua orang tuanya karena sang ayah pilih kasih dalam memperlakukan anak-anaknya meskipun tidak memperlakukannya dengan kekerasan?

Mereka menjawab: Durhaka kepada kedua orang tua adalah termasuk dosa besar. Seorang anak tidak boleh membalas keburukan orang tua dengan keburukan, tetapi dengan kebaikan. Ia harus bertobat setulus-tulusnya kepada Allah atas kedurhakaan yang telah ia lakukan. Semoga Allah mengampuni dosanya yang lalu.
Wabillahittaufiq, wa Shallallahu 'ala Nabiyyina Muhammad wa Alihi wa Shahbihi wa Sallam.

Komite Tetap Riset Ilmiah dan Fatwa
Abdullah bin Qu'ud (Anggota)    
Abdullah bin Ghadyan (Anggota)     
Abdurrazzaq Afifi (Wakil Ketua)     
Abdul Aziz bin Abdullah bin Baz(Ketua)
Fatawa al-Lajnah ad-Daimah 25/177 Pertanyaan Kedua dari Fatwa Nomor 9017


Al Imam Al Baghowi Rahimahullah berkata dalam kaitannya dengan penjelasan hadits An Nu’man di atas menyebutkan," di dalam hadits tersebut terdapat beberapa faedah diantaranya : sangat dianjurkan menyama ratakan kepada para anak-anak putra maupun yang putri, baik dalam hal pemberian atau bentuk kebaikan yang lain seperti kecupan dan ciuman, sehingga tidak timbul di hati anak yang kurang  diutamakan dan diunggulkan keinginan untuk tidak berbakti kepada kedua orang tua. Diambil dari kitab “ Syarkhus Sunnah ( 8/297 )”.

Dan dari Ibrahim An Nakho’i dia berkata : “Para ulama’ salaf mereka berpendapat sangat dianjurkannya bagi seorang ayah untuk bersikap adil kepada putra-putrinya meski hanya dalam hal pemberian ciuman kepada anak”, Mushonnaf Ibnu Abi Syaibah ( 6/234 ).

Semoga Allah ta'ala memudahkan anda untuk memberikan nasehat dan memberikan anda kesabaran. Berbaktilah kepada orang tua anda karena Allah ta'ala sehingga apapun respon dari orang tua anda tidak mempengaruhi anda. Bila anda berbakti karena Allah ta'ala maka biidznillahi ta'ala meski orang tua responnya kurang baik anda akan diberi balasan baik di sisi Allah ta'ala yang itu bisa terjadi di dunia sebelum di akhirat.

Sedikit catatan penting: bahwa kadang kita boleh tidak adil kepada sebagian anak bila memang anak itu durhaka kepada Allah ta'ala dan tidak bisa diberi masukan. Harapan sikap kita itu adalah dia bisa sadar dan kembali ke jalan yang benar.  Asy Syaikh Abdullah Al Jibriin Rahimahullah berkata : apabila seorang ayah cenderung dan condong kepada salah satu anak-anaknya, maka sesungguhnya itu yang disebut dengan ketidakadilan, akan tetapi aku menganggap bukan termasuk penyimpangan apabila mungkin hal yang semacam itu diperbolehkan yaitu jika seorang ayah cenderung kepada putranya yang shalih sedang yang lain suka mengacau dan tidak tahu malu, sang ayah sudah berusaha berbuat dan mengarahkan kepada kebaikan, namun  yang  satu berkenan untuk mengikuti anjuran sedang yang lain enggan untuk mengikutinya bahkan dia malah menjadi durhaka dan berbuat maksiat kepada kedua orang tuanya, bermaksiat kepada Allah, berpaling dari Allah, tidak berkenan melaksanakan ibadah, asyik mengkonsumsi zat-zat yang memabukkan, melakukan segala bentuk kemungkaran dan kemaksiatan, dan kondisi semacam ini merupakan pelecehan terhadap  perkara agama, dan pada saat yang sama kedua orang  tuanya tidak sanggup memperbaiki perilakunya maka tidak ada pelarangan dan sangat dianjurkan kepada para ayah agar tidak memperlakukan anak yang berbakti dan anak yang  durhaka dengan perilaku yang sama, bahkan harus bersikap yang  tegas dan sedikit keras terhadap anak yang durhaka semisal dengan tidak memberinya nafkah atau kalau memang dianggap perlu maka boleh menghukum mereka dengan asumsi hukuman tersebut dapat membimbingnya untuk menjadi anak yang istiqomah di jalan Allah jika Allah Ta’ala memberikan Taufiq kepadanya. Durus As Syaikh Ibnu Jibriin“. http://audio.islamweb.net/audio/Fulltxt.php?audioid=147787

Wallahu ta'ala a'lam

© 2017 - Www.SalamDakwah.Com