SALWA RADIO - Menebar Salam, Menyebar Dakwah
Stay in touch with us:

Apakah Seseorang Wajib Menafkahi Saudarinya Yang Miskin Meski Sudah Dewasa


Akhwat (Jakarta)
2 years ago on Keluarga

Assalammu'alaykum warahmatullaahi wabarakaatuh. Saya seorang wanita yang telah mencapai usia baligh dan masih berstatus single ( qadarullah belum berjodoh meski telah berikhtiar ). Ibu dan Ayah saya telah meninggal dunia. Saya memiliki satu orang kakak laki-laki dan empat orang kakak perempuan. Qadarullah, saya sedang resign dari pekerjaan dan belum memiliki penghasilan lagi. Kakak-kakak saya telah berkeluarga dengan jumlah anak paling banyak dua. Satu orang berstatus single. Pada bulan-bulan pertama saya resign dari pekerjaan, saya meminta bantuan finansial dari mereka untuk kehidupan saya setiap bulan. Saya meminta sangat sedikit bahkan kurang dari jumlah yang sebenarnya saya butuhkan . Hal ini saya lakukan karena saya merasa tidak ingin merepotkan mereka, sebab saya mengerti bahwa mereka telah berkeluarga. Lagipula, saya juga masih bisa berikhtiar dengan berdagang kecil-kecilan. Selain itu, yang saya ketahui sejak dulu mereka selalu mengatakan mereka tidak memiliki uang yang cukup ketika saya memerlukan bantuan pada saat saya masih kuliah. Pada tiga bulan pertama mereka lupa mengirimkan uang kepada saya dengan alasan sedang kekurangan biaya, hingga pemenuhan kebutuhan saya terlambat. Bulan-bulan berikutnya mereka tidak pernah mengirimkan uang kepada saya, kecuali saya memintanya, dan itupun mereka hanya bisa memberi tidak lebih dari dua puluh persen dari jumlah nominal yg saya mintakan kepada mereka, dengan alasan sedang tidak ada uang. Artinya selama ini nafkah saya tidak pernah cukupi oleh mereka, bahkan ketika saya meminta jumlah yg lebih kecil dari kebutuhan saya. Saya sendiri tidak bisa mencukupinya baik dari berdagang kecil-kecilan ataupun dari sisa tabungan saya. Saat ini sudah enam bulan mereka tidak pernah menngirim uang kepada saya. Meskipun Alhamdulillah, mereka sempat memberikan hadiah uang THR kepada saya. Setelahnya tidak ada lagi pemberian sampai saat ini. Mereka mengetahui sampai saat ini saya belum mendapatkan pekerjaan dan saya tinggal di sebuah rumah kost. Mereka tidak pernah menanyakan kabar saya dan bagaimana saya memenuhi kebutuhan sehari-hari. Perlu di ketahui bahwa Kakak-Kakak saya boleh dikatakan orang-orang dalam kelompok kelas ekonomi menengah. Mereka dapat memiliki mobil bagus, berbelanja pakaian dan sepatu dengan merk-merk bagus, memenuhi kebutuhan anak-anak mereka dengan sangat baik ( primer maupun tersier dan sekunder). Beberapa diantara mereka mengadakan perjalanan liburan ke luar negri paling tidak setahun sekali atau lebih dari itu untuk wilayah Asia. Mereka bisa mengadakan makan-makan di luar rumah setiap minggu dan sesekali pada restauran-restauran yang mahal. Tetapi pada saat bertemu saya mereka selalu meminta maaf karena belum bisa mengirim uang, lagi-lagi dengan alasan sedang banyak pengeluaran. Saya pernah membicarakan kepada mereka mengapa mereka dapat memenuhi segala kebutuhan mereka, bahkan pada hal-hal non primer, namun sulit untuk membantu kebutuhan saya yang jumlahnya sangatlah kecil jika dibandingkan. Mereka katakan, karena saya belum menikah, jadi saya tidak akan mengetahui prediksi keuangan rumah tangga dan pengeluarannya. Saya mencoba memahami hal itu. Perlu diketahui cara mereka memberikan nafkah kepada saya adalah dengan cara kolektif. Jika nominal yg mintakan terkumpul ( yang nota bene jauh dari kebutuhan saya sebenarnya ) ,barulah mereka mengirimkannya kepada saya. Selama masa saya tidak lagi dikirimkan uang oleh mereka, saya juga sempat mengetahui bahwa salah seorang Kakak baru saja membeli mobil baru. Saya telah berusaha keras untuk mencari pekerjaan dan berdagang semampu saya, namun takdir Allah belum menurunkan rizkiNya dan saya mengalami berbagai hambatan, sehingga saya betul-betul tidak bisa menghasilkan nafkah saat ini. Kini, alhamdulillah saya masih diberi izin tinggal di rumah kost meski telah banyak melakukan tunggakan. Untuk pemenuhan kebutuhan primer, seorang sahabat kadang mengirimkan bantuan bahan pangan kepada saya atau Ibu Kost memberikan makanan kepada saya tanpa saya memintanya. Tidak jarang ,saya juga harus menahan lapar. Saya hanya berdoa kepada Allah agar diberikan kekuatan pada hati dan badan saya untuk menghadapi kemiskinan dan saya tidak ingin termasuk dalam golongan orang - orang yang putus asa. Yang saya ingin tanyakan adalah ; 1. Apakah perbuatan kakak-kakak terhadap saya adalah zalim? 2. Apakah saya memiliki hak untuk meminta bantuan finansial kepada kakak-kakak saya dan apakah mereka wajib memenuhinya? Meskipun saya tau bahwa secara islam status saya tidak bisa lagi disebut sebagai Yatim Piatu. 3. Dalam keadaan seperti ini apa yg harus saya lakukan dan bagaimana sebenarnya tanggungan nafkah bagi orang seperti saya? Terima kasih. Jazaakumullah Khayran Katsiran, Salwa.
Redaksi salamdakwah.com
2 years ago

 

Waalaikumussalam warahmatullahi wa barakatuhu

Apabila faktanya sebagaimana yang disampaikan oleh penanya maka dhohirnya penanya berhak memperoleh santunan dari saudara-saudaranya untuk memenuhi kebutuhan pokoknya. Ibnu Quddamah Al-Maqdisi rahimahullah menerangkan:

Diwajibkan untuk memberikan nafkah dengan tiga syarat:

 Pertama:Orang yang diberi nafkah itu adalah orang fakir, tidak punya harta dan tidak punya penghasilan yang mencukupi dirinya supaya tidak perlu bantuan orang lain...

Kedua: orang yang memberi nafkah memiliki kelebihan harta setelah dia memenuhi kebutuhan nya baik itu dari hartanya atau hasil dari pekerjaannya...

Ketiga: orang yang memberi nafkah statusnya bisa mewarisi orang yang diberi nafkah bila dia meninggal terlebih dahulu... Al-Mughni 8/169

Ulama' yang duduk di Komite Tetap Riset Ilmiah dan Fatwa Arab Saudi pernah menerangkan: Komite Tetap Riset Ilmiah dan Fatwa telah menelaah tentang permohonan fatwa dari Kepala Dewan Khusus Kerajaan, No. 1489/93 H, tanggal 19/3/1393 H, yang dilimpahkan kepada Komite Sekretariat Jenderal Dewan Ulama Senior. Direktur Lembaga Riset Ilmiah, Fatwa, Dakwah, dan Penyuluhan menjelaskan bahwa seorang wanita mengirim pengaduannya kepada Yang Mulia Raja tentang suaminya yang wafat dan meninggalkan enam orang anak yang masih kecil-kecil, dan dua anak laki-laki yang telah bekerja, dari istri yang berbeda. Wanita itu meminta kepada mereka berdua untuk memberi nafkah saudara-saudara seayah mereka. Oleh karena itu, Kepala Dewan bertanya apakah menurut syariat keduanya diwajibkan memberi nafkah kepada saudara-saudaranya? Jawaban fatwa atas hal ini akan ditembuskan kepada Yang Mulia Raja.

Setelah melakukan pengkajian terhadap permasalahan yang diajukan, maka Komite menjawab sebagai berikut:
Menurut pendapat yang paling benar, bahwa seseorang berkewajiban memberi nafkah kerabat dekatnya, dengan tiga syarat:
Pertama, orang yang diberi nafkah itu adalah orang miskin, tidak memiliki harta atau penghasilan, yang bertujuan agar mereka tidak meminta sedekah kepada orang lain.

Kedua, nafkah yang diberikan adalah kelebihan dari kebutuhan pribadinya dan orang-orang yang lebih berhak menerima nafkah seperti istri, orang tua, dan anaknya. Ini berdasarkan sabda Rasulullah Shallallahu 'Alaihi wa Sallam yang diriwayatkan dari Jabir bin Abdillah,


: «إذا كان أحدكم فقيرا فليبدأ بنفسه فإن كان فضل فعلى عياله فإن كان فضل فعلى قرابته »


"Jika salah seorang dari kalian fakir, maka mulailah (memberi nafkah) dari dirinya sendiri. Jika terdapat sisa dari hartanya, maka hendaknya dia menafkahi orang-orang yang menjadi tanggung jawabnya. Jika masih terdapat kelebihan dari hartanya, maka hendaklah dia menafkahi para kerabatnya."

Ketiga, orang yang memberi nafkah tersebut adalah ahli warisnya, berdasarkan firman Allah Ta'ala,


{وَعَلَى الْوَارِثِ مِثْلُ ذَلِكَ}


Dan pewaris pun berkewajiban demikian

Itu karena diantara dua orang yang saling mewarisi ada hubungan kekerabatan yang menuntut supaya ahli waris lebih berhak menerima warisan dibanding yang lain sebagai timbal baliknya calon ahli waris tersebut diwajibkan untuk memberi nafkah calon orang yang akan diwarisi, yang ini tidak diwajibkan atas selain ahli waris. Status orang yang diberi nafkah tidak menjdi ahli waris bagi orang yang memberi nafkah tidaklah berpengaruh dalam kewajiban memberi nafkah. Ini sesuai dengan pendapat Hasan, Mujahid, Nakha'i, Qatadah, Hasan bin Shalih, Ibnu Abu Laila, dan Abu Tsaur. Apabila seseorang yang miskin memiliki lebih dari satu ahli waris yang mampu memberi nafkah, maka kewajibannya ditanggung oleh semua ahli warisnya sesuai ketentuan besaran persentase waris mereka, dengan syarat bahwa salah satu ahli waris tersebut bukanlah bapaknya. Sebab, seorang bapak wajib memberi nafkah kepada anaknya yang miskin tersebut sendirian, berdasarkan firman Allah Ta'ala,


{وَعَلَى الْمَوْلُودِ لَهُ رِزْقُهُنَّ}

Dan kewajiban ayah memberi makan kepada para ibu

Rasulullah Shallallahu 'Alaihi wa Sallam berkata kepada Hindun istri Abu Sufyan,


«خذي ما يكفيك وولدك بالمعروف


"Ambillah apa yang mencukupimu dan anakmu secara wajar."
Wabillahittaufiq, wa Shallallahu 'ala Nabiyyina Muhammad wa Alihi wa Shahbihi wa Sallam.

Komite Tetap Riset Ilmiah dan Fatwa
Abdullah bin Sulaiman bin Mani' Anggota
Abdullah bin Abdurrahman bin Ghadyan selaku Anggota
Abdurrazzaq Afifi a selaku Wakil Ketu
Fatawa al-Lajnah ad-Daimah 21/181-183 Fatwa Nomor:455

Apabila setelah dinasehati, saudara-saudara anda tidak berubah maka anda boleh meminta sumbangan ke lembaga atau perorangan sesuai dengan kebutuhan anda saja dan tidak boleh lebih.

Komite Tetap Riset Ilmiah dan Fatwa Arab Saudi menerangkan:
Orang yang membutuhkan (yang tidak bisa memperoleh apa yang mencukupinya serta tidak mampu bekerja) boleh untuk meminta-minta sedikit harta ke orang-orang. Dia boleh meminta-minta sebatas untuk memenuhi kebutuhannya saja. Adapun orang yang tidak membutuhkan atau orang yang membutuhkan namun memiliki kemampuan bekerja maka mereka tidak boleh meminta-minta, apabila tetap dilakukan maka apa yang mereka peroleh dari masayarakat hukumnya haram, ini berdasarkan hadits Qabishah bin Mukhariq al-Hilali radhiallahu’anhu, dia berkata: aku menanggung hutang (gharim, untuk mendamaikan dua orang yang bersengketa atau semisalnya) maka aku mendatangi Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam untuk meminta bantuan Beliau terkait hal itu. Beliau pun mengatakan: 


أَقِمْ حَتَّى تَأْتِيْنَا الصَّدَقَةُ فَنَأْمُر لَكَ بِهَا


Tinggal lah hingga tiba harta sedekah kepada kami. Kami akan bantu engkau dari harta sedekah itu. Kemudian beliau bersabda: 


يَا قَبِيصَةُ إِنَّ الْمَسْأَلَةَ لَا تَحِلُّ إِلَّا لِأَحَدِ ثَلَاثَةٍ رَجُلٍ، تَحَمَّلَ حَمَالَةً، فَحَلَّتْ لَهُ الْمَسْأَلَةُ حَتَّى يُصِيبَهَا، ثُمَّ يُمْسِكُ، وَرَجُلٌ أَصَابَتْهُ جَائِحَةٌ اجْتَاحَتْ مَالَهُ، فَحَلَّتْ لَهُ الْمَسْأَلَةُ حَتَّى يُصِيبَ قِوَامًا مِنْ عَيْشٍ - أَوْ قَالَ سِدَادًا مِنْ عَيْشٍ - وَرَجُلٌ أَصَابَتْهُ فَاقَةٌ حَتَّى يَقُومَ ثَلَاثَةٌ مِنْ ذَوِي الْحِجَا مِنْ قَوْمِهِ: لَقَدْ أَصَابَتْ فُلَانًا فَاقَةٌ، فَحَلَّتْ لَهُ الْمَسْأَلَةُ حَتَّى يُصِيبَ قِوَامًا مِنْ عَيْشٍ - أَوْ قَالَ سِدَادًا مِنْ عَيْشٍ - فَمَا سِوَاهُنَّ مِنَ الْمَسْأَلَةِ يَا قَبِيصَةُ سُحْتًا يَأْكُلُهَا صَاحِبُهَا سُحْتًا 


"Hai Qabishah, sesungguhnya meminta-minta itu tidak boleh (tidak halal) kecuali untuk tiga golongan: 
1. Orang yang menanggung hutang (gharim, untuk mendamaikan dua orang yang saling bersengketa atau semisalnya), orang yang demikian boleh meminta-minta, sehingga hutangnya lunas. Bila hutangnya telah lunas, maka tidak boleh lagi ia meminta-meminta. 

2. Orang yang terkena bencana, sehingga harta bendanya musnah. Orang itu boleh meminta-minta sampai dia memperoleh sumber kehidupan yang layak baginya. 

3. Orang yang ditimpa kemiskinan, (disaksikan atau diketahui oleh tiga orang yang dipercayai bahwa dia memang miskin). Orang itu boleh meminta-minta, sampai dia memperoleh sumber penghidupan yang layak. Selain tiga golongan itu, haram baginya untuk meminta-minta, dan haram pula baginya memakan hasil meminta-minta itu." (HR. Muslim no.1044)
Diriwayatkan oleh Ahmad, Muslim dan an-Nasai dan Abu Daud

Dan hadits:


مَنْ سَأَلَ النَّاسَ تَكَثّرا فَإِنَّمَا يَسْأَلُ جَمْرًا


Barang siapa meminta-minta masyarakat untuk memperkaya diri maka dia benar-benar meminta-minta bara api.

Dan hadits:


إِنَّ الصَّدَقَةَ لَا تَحِلُّ لِغَنِيٍّ وَلَا لِذِيْ مِرَّةٍ سَوِيٍّ 


Sedekah tidaklah halal bagi orang yang berkecukupan dan bagi orang yang masih kuat lagi memiliki anggota badan sempurna 

Yang wajib adalah menasehatinya. Ulama' wajib menjelaskan ini ke masyarakat di khutbah jum'at dan yang lainnya, termasuk di media massa. Nahr pengemis terlarang dalam firman Allah ta'ala (adh-Dhuha:10):


{وَأَمَّا السَّائِلَ فَلا تَنْهَرْ}


Dan terhadap orang yang minta-minta, janganlah kamu menghardiknya.

Maksudnya adalah mencelanya dan mengangkat suara terhadapnya
Ayat ini mencakup orang yang meminta-minta harta dan orang yang bertanya terkait hukum syar'i, namun ini tidak menghalangi pengarahan terhadap peminta yang salah dan tidak menghalangi untuk memberinya nasehat dengan hikmah dan mauidhah hasanah (janji pahala dan peringatan siksa.pent). Fatawa al-Lajnah ad-Daimah 24/375-377 fatwa no.16486 

© 2019 - Www.SalamDakwah.Com