SALWA RADIO - Menebar Salam, Menyebar Dakwah
Stay in touch with us:

Ikhlas melayani suami Karena Allah. Tetapi tidak mencintainya


Akhwat (Bandung)
3 years ago on Keluarga

Assalammualaikum Bagaimana hukumnya jika seorang istri secara ikhlas Dan sepenuh hati menghormati Dan melayani suaminya Dan menunjukan sikap mencintai suaminya semata -mata Karena Allah SWT. Tetapi sang istri tidak mencintai suaminya Karena Ada perilaku dan sifat si suami yang terkadang membuat jengkel istri. Bagaimana hukumnya ? Apakah si istri berdosa? Jazakallah khoir Wassalammualaikum
Redaksi salamdakwah.com
3 years ago

 

وعليكم السلام ورحمة الله وبركاته

الحمد لله والصلاة والسلام على رسول الله وعلى آله وصحبه ومن والاه

Kalau kami boleh memberi masukan maka kami sarankan penanya tidak menjudge dirinya adalah orang yang sudah mencapai ikhlas karena dikhawatirkan itu tanda dia belum ikhlas. Salah seorang ulama' ahli qiraat yang kunyahnya Abu Ya'qub  as-Susi menerangkan

« الإخلاص فقذ رؤية الإخلاص ، فإن من شاهد في إخلاصه الاخلاص فقد احتاج اخلاصه الى الإخلاص

Ikhlas adalah seseorang tidak bisa melihat adanya keikhlasan dalam diri. Siapa yang menyaksikan adanya keikhlasan dalam diri maka ikhlasnya butuh untuk diikhlaskan lagi

Salah seorang Ulama' yang bernama Al-Izz bin Abdussalam menerangkan:

 الإخلاص أن يفعل المكلف الطاعة خالصة لله وحده، لا يريد بها تعظيماً من الناس ولا توقيراً، ولا جلب نفع ديني، ولا دفع ضرر دنيوي". 

Ikhlas itu seorang mukallaf melaksanakan ketaatan murni karena Allah ta'ala. Dengan amalan itu Dia tidak menginginkan pengagungan dan penghormatan orang-orang, dia juga tidak menginginkan manfaat keagamaan dan tidak menginginkan terhindarnya mudhorot duniawi

Disamping menjaga hati. Istri  itu perlu melihat sisi positif dari suaminya sehingga itu akan bisa menutupi sis buruk suami di pandangan istri. Nabi shallallahu alaihi wa sallam bersabda:

(( لاَ يَفْرُكُ مُؤْمِنٌ مُؤْمِنَةً إِنْ كَرِهَ مِنْهَا خُلُقاً رَضِيَ مِنْهَا خُلُقا آخَرَ ))     

“Hendaklah seorang mu’min laki-laki (suami) tidak mencela mu’min wanita (istri), jika dia membenci salah satu prilakunya, masih ada prilaku lainnya yang dia ridhai.” (HR. Muslim).

Syaikh as-Sa'di rahimahullah menerangkan dua faedah dari hadits di atas:

إحداهما: الإرشاد إلى معاملة الزوجة والقريب والصاحب والمعامل، وكل من بينك وبينه علاقة واتصال، وأنه ينبغي أن توطن نفسك على أنه لا بد أن يكون فيه عيب أو نقص أو أمر تكرهه، فإذا وجدت ذلك، فقارن بين هذا وبين ما يجب عليك أو ينبغي لك من قوة الاتصال والإبقاء على المحبة، بتذكر ما فيه من المحاسن، والمقاصد الخاصة والعامة، وبهذا الإغضاء عن المساوئ وملاحظة المحاسن، تدوم الصحبة والاتصال وتتم الراحة وتحصل لك.

الفائدة الثانية: وهي زوال الهم والقلق، وبقاء الصفاء، والمداومة على القيام بالحقوق الواجبة والمستحبة: وحصول الراحة بين الطرفين، ومن لم يسترشد بهذا الذي ذكره النبي r - بل عكس القضية فلحظ المساوئ، وعمي عن المحاسن-، فلابد أن يقلق، ولابد أن يتكدر ما بينه وبين من يتصل به من المحبة، ويتقطع كثير من الحقوق التي على كلٍ منهما المحافظة عليها.

وكثير من الناس ذوي الهمم العالية يوطنون أنفسهم عند وقوع الكوارث والمزعجات على الصبر والطمأنينة. لكن عند الأمور التافهة البسيطة يقلقون، ويتكدر الصفاء، والسبب في هذا أنهم وطنوا نفوسهم عند الأمور الكبار، وتركوها عند الأمور الصغار فضرتهم وأثرت في راحتهم، فالحازم يوطن نفسه على الأمور القليلة والكبيرة ويسأل الله الإعانة عليها، وأن لا يكله إلى نفسه طرفة عين، فعند ذلك يسهل عليه الصغير، كما سهل عليه الكبير. ويبقى مطمئن النفس ساكن القلب مستريحاً.

Pelajaran pertama adalah: Petunjuk bagaimana bergaul dengan istri, sanak saudara,  kawan, karib dan lingkungan pergaulan serta semua orang yang antara anda dan dia memiliki hubungan dan komunikasi. Anda harus menyadari bahwa pada diri tiap-tiap orang pasti terdapat cela, kekurangan dan sesuatu yang tidak disenangi. Maka jika hal tersebut anda dapatkan, bandingkanlah antara hal itu dengan adanya faktor-faktor yang mendukung anda untuk tetap menjaga komunikasi dan saling mencintai, yaitu dengan mengingat kebaikan-kebaikan dan niat-niat kebaikannya, baik yang bersifat khusus maupun umum. Dengan melupakan keburukannya dan mengingat kebaikannya, maka persahabatan dan komunikasi akan tetap terjaga dan ketenanganpun akan tercipta.

Pelajaran kedua adalah: Hilangnya perasaan gundah dan resah, tetapnya kesucian hati serta kesinambungan dalam menunaikan hak-hak orang lain, baik yang wajib maupun yang sunnah serta terciptanya keharmonisan di antara kedua belah pihak.

Siapa yang tidak dapat mengambil pelajaran atas apa yang telah disabdakan Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bahkan melakukan sebaliknya dengan selalu melihat keburukan seorang serta melupakan kebaikan-kebaikannya, niscaya dia akan gelisah, hubungan antara dirinya dan orang yang dicintainya pasti mengalami kekeruhan dan mengabaikan banyak hak yang harus dijaga kedua belah pihak.

Banyak orang yang memiliki kekuatan mental yang tinggi mampu menahan diri saat menghadapi cobaan dan goncangan dengan kesabaran dan ketenangan. Akan tetapi dalam hal-hal yang sepele dan ringan mereka sangat gundah dan tidak tenang. Penyebabnya adalah  mereka menjaga diri mereka pada hal-hal yang besar dan mengabaikan hal-hal sepele sehingga merusak kondisi mereka dan ketenangan mereka.

Orang yang bermental kuat adalah mereka yang mampu mengatasi masalah besar maupun kecil seraya memohon pertolongan kepada Allah dan berdoa kepada-Nya agar nasibnya tidak diserahkan kepada dirinya walau sekejap mata,  maka dengan demikian akan mudah baginya perkara-perkara kecil sebagaimana ringan baginya perkara-perkara besar, sehingga jiwanya tenang dan hatinya lapang.  Al-Wasail al-Mufidah li al-Hayati as-Saidah.

Perlu difahami juga bahwa  cinta dalam rumah tangga bukanlah syarat sahnya nikah. Sehingga seorang pasangan diharapkan tidak buru-buru menuju perceraian karena tidak adanya cinta. Silahkan melihat jawaban sebelumnya terkait ini di link berikut: http://www.salamdakwah.com/pertanyaan/4022-mengatakan-tidak-lagi-mencintai-suamipernikahan-tanpa-cinta

Wallahu ta'ala a'lam

© 2021 - Www.SalamDakwah.Com