SALWA RADIO - Menebar Salam, Menyebar Dakwah
Stay in touch with us:

Mau Memutuskan Pacar Karena Melanggar Syariat Tapi Pacar Mengancam Untuk Menyakiti Dirinya Sendiri


Ikhwan (Tangerang)
1 year ago on Mu'ammalah

Assalamualaikum warahmatullahi wabarakaatuh, pak ustadz yang dirahmati Allah Subhanahu wa ta'ala, saya ingin konsultasi, saya memiliki pacar (waktu itu saya terlena akan dunia dan menganggap bahwa pacaran adalah hal yang wajar) tetapi setelah baru-baru ini saya mendalami islam ternyata pacaran itu tidak sesuai syariat islam bahkan haram. Masalah nya adalah, saya sudah menerangkan kepada pacar saya bahwa pacaran itu tidak sesuai syariat islam dan saya meminta untuk berpisah untuk menghindari segala maksiat dan jodoh itu sudah di tangan Allah, tetapi dia tidak mau dan malah menyiksa dirinya dengan menangis seharian bahkan mengiris-iris tangannya dengan silet, sehingga sampai saat ini saya masih memacarinya, apakah tindakan yang harus saya lakukan? (Kesimpulan: kalau saya terus pacaran, saya akan terus mendapat dosa, jika minta berpisah maka saya akan menyakiti seseorang, bukan hanya hati bahkan fisik, dan saya takutnya lebih dari itu). (Umur saya menginjak 20 tahun dan masih berstatus mahasiswa) Terimakasih sebelumnya, barakallah fiik ustadz.
Redaksi salamdakwah.com
1 year ago

 

وعليكم السلام ورحمة الله وبركاته

الحمد لله والصلاة والسلام على رسول الله وعلى آله وصحبه ومن والاه

Terima kasih atas kunjungan dan kepercayaannya kepada salamdakwah.com. Semoga Allah ta'ala memudahkan kita istiqomah dalam meniti jalan syariat yang lurus.

Perlu diketahui bahwa pernikahan adalah solusi terbaik untuk dua sejoli yang saling mencintai.  Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda:


لَمْ نَرَ لِلْمُتَحَابَّيْنِ مِثْلَ النِّكَاحِ 


“Kami tidak pernah mengetahui sesuatu yang terbaik untuk dua orang yang saling mencintai semisal pernikahan.”HR. Ibnu Majah no.1847 Dishahihkan oleh Al-Albani

Apabila anda memiliki kesiapan untuk menikah dan wanita yang anda ceritakan itu juga siap untuk menjadi wanita sholehah kedepannya maka anda bisa menikahinya. Usia 20 dan studi di perguruan tinggi bukanlah penghalang untuk menikah. Dalam fatwanya syaikh Ibnu Baz menerangkan bahwa pernikahan tidak bertentangan dengan pendidikan," Yang wajib adalah bersegera menikah, tidak selayaknya seorang pemuda mengakhirkan pernikahan dengan alasan study, begitu pula seorang gadis, tidak selayaknya ia mengakhirkan pernikahan demi study, pernikahan tidak menghalangi itu sedikitpun, seorang pemuda bisa menikah (dengan begitu ia menjaga agama, akhlaq dan menundukkan pandangannya), bersamaan dengan itu ia tetap melanjutkan studynya, begitu pula seorang gadis jika Allah memberinya kecukupan. Selayaknya bersegera menikah meski sedang belajar di tingkat sekolah menengah atas atau sekolah tinggi, itu semua tidak menghalangi.

Yang wajib adalah segera dan setuju menikah jika ada laki-laki sepadan yang melamar, dan study tidak menghalangi pernikahan. Seandainya sebagian study terputus (karena pernikahan.pent) maka itu tidak apa, yang penting ia (wanita.pent) belajar apa yang bisa mengantarnya ke pengetahuan ilmu agamanya, adapun ilmu lainnya hanya sebagai faedah biasa. Pernikahan memiliki maslahat yang banyak, khususnya pada zaman sekarang, dan pernikahan yang ditinggalkan akan menimbulkan bahaya untuk pemuda dan gadis." Majmu' Fatawa Ibnu Baz 20/421-422  

Apabila anda merasa masih belum memiliki kemampuan untuk menikah, misalnya belum ada sumber penghasilan maka anda mulai sekarang sudah mulai belajar dan bekerja serta anda bisa katakan kepada wanita yang tidak mau anda putuskan itu,' Belajarlah agama Islam dengan sungguh-sungguh karena Allah ta'ala serta perbaikilah diri dan akhlaqmu. Apabila kemampuan finansialku dirasa cukup untuk menikah dan aku melihatmu telah berubah menjadi wanita sholehah maka aku akan melamarmu."

Apabila dia tetap tidak mau diputuskan maka anda sampaikan baik-baik kepada keluarganya bahwa anda ingin konsentrasi pada kuliah dan kerja, dan mintalah keluarganya supaya menjaga wanita itu baik-baik supaya dia tidak melakukan hal yang bodoh yang akan menyakiti dirinya sendiri. Dulu ada sahabat Nabi yang bernama Sa'ad bin Abi Waqqash yang juga diancam dengan bunuh diri bila dia tidak mau meninggalkan syariat Allah ta'ala. Ibnu Katsir menukil kisah beliau. Dia berkata," 

Ayat berikut {وَإِنْ جَاهَدَاكَ عَلى أَنْ تُشْرِكَ بِي مَا لَيْسَ لَكَ بِهِ عِلْمٌ فَلا تُطِعْهُمَا} turun dalam masalahku,
Dahulu aku seorang laki-laki yang berbakti kepada ibuku, setelah masuk islam ibuku berkata,' Hai Sa'ad, apa yang kulihat pada dirimu telah mengubahmu. Kamu harus meninggalkan agamamu ini atau aku tidak akan makan dan minum hingga aku mati, lalu kamu dipermalukan karenanya dan diolok-olok,' hai pembunuh ibu!" Aku menjawab,' Hai ibu, jangan lakukan itu. Sungguh aku tidak akan meninggalkan agamaku ini karena apapun.

Selama sehari semalam ibunya tidak makan hingga ia menjadi letih. sehari semalam berikutnya ibunya tidak makan hingga ia menjadi semakin letih. Setelah aku melihatnya demikian, aku berkata,' hai ibuku ketahuilah. Demi Allah jika kamu punya seratus nyawa lalu kamu menghembuskannya satu demi satu maka aku tidak akan meninggalkan agamaku ini karena apapun. Engkau bisa makan ataupun tidak sesuai kehendakmu.' Akhirnya dia pun makan. Lihat Tafsi Ibnu Katsir 6/337

Wallahu ta'ala a'lam

PERTANYAAN TERKAIT

© 2019 - Www.SalamDakwah.Com