SALWA RADIO - Menebar Salam, Menyebar Dakwah
Stay in touch with us:

Suami Condong Kepada Keluarganya Saja


Akhwat (Jogjakarta)
3 years ago on Keluarga

Assalamualaikum wr.wb Saya seorang istri, memiliki satu anak dan saat ini sedang mengandung anak kedua. Suami saya seorang karyawan biasa dengab gaji cukup tidak berlebih. Saat ini kami masih tinggal di rumah orangtua saya dan kebetulan keluarga saya berkecukupan sehingga orangtua saya tidak meminta sejumlah uang kepada kami. Saat mengandung anak pertama, suami saya masih memberikan nafkah bulanan yang saya kumpulkan untuk membeli perlengkapan bayi dan kebutuhan saya seperti control kandungan & vitamin. Karena uang yang diberikan suami tidak terlalu besar maka uang tersebut habis. Ketika suami saya tahu bahwa uang yang dia berikan habis, ia mencap saya sebagai istri yang boros padahal sudah saya jelaskan untuk apa saja uang itu digunakan tapi ia tidak mau mengerti. Sejak menikah, saya tidak pernah menggunakan uang suami untuk kebutuhan saya sekecil apapun, bahkan sebagian besar kebutuhan bayi dipenuhi oleh orangtua saya karena uang dari suami tidak cukup. Sejak saat ini sampai sekarang suami tidak mau memberi nafkah kepada saya & anak saya. Tiap bulan ia hanya membelikan 10% kebutuhan anak saya dan sisanya dia bebankan kepada orangtua saya padahal dia tau orangtua saya sdg kesulitan ekonomi tapi dia tidak peduli. Setiap bulan ia memberi uang bulanan kepada orangtuanya (saya setuju bahkan saya yang selalu mengingatkan suami). Tapi saat ini keluarganya terlilit hutang dan suami saya yang mengambil alih sehingga ia memaksa saya bekerja untuk memenuhi kebutuhan keluarga karena dia sudah tidak bisa memberi uang sepeserpun kepada kami. Saya sebenarnya ikhlas apabila suami membantu keluarganya, namun suami saya memaksa saya bekerja dalam keadaan mengandung dan ketika saya menolak, sikapnya berubah menjadi dingin dan pemarah. Dia menyuruh saya bekerja untuk membiayai keluarga, membeli rumah dan kendaraan karena dia yakin tidak akan bisa membeli semua itu sehingga dia membebankan kepada saya. Saya tidak bahagia lahir & batin, setiap hari suami saya mengeluarkan kata2 yg menyakiti hati saya bahkan menjelekan orangtua saya yg sudah membantu keluarga kami. Bahkan dia pernah berkata ingin sekali memukul saya. Saya merasa suami tidak bersikap adil, dia membantu keluarganya yang hidup bermewah2 dari berhutang, sehingga saya dan anak2 terkena imbasnya. Saya bertahan demi anak2, tapi apakah saya salah jika suatu saat saya tidak kuat dan meminta berpisah (karena hanya perpisahan yg selalu ada dibenak saya). Apakah yg dilakukan suami saya sudah benar (mendahulukan orangtua sehingga melepas tanggung jawab terhadap anak istri dan memaksa istri menafkahi keluarga)?
Redaksi salamdakwah.com
3 years ago

 

وعليكم السلام ورحمة الله وبركاته

الحمد لله والصلاة والسلام على رسول الله وعلى آله وصحبه ومن ولاه

Terima kasih atas kunjungan dan kepercayaan saudari kepada salamdakwah.com. Semoga Allah ta'ala memberikan jalan keluar segera untuk kebaikan anda dan keluarga.

Apabila faktanya sebagaimana yang anda sampaikan di pertanyaan maka sikap suami terhadap anda dan anak adalah salah mengingat suami sebagai kepala keluarga berkewajiban untuk memberikan nafkah kepada istri dan anak sesuai dengan kemampuannya. Seorang suami tidak  boleh dengan sengaja meninggalkan kewajiban ini. Terkait menafkahi istri  Allah ta’ala berfirman dalam surat Ath-Tholaq:7 

 

لِيُنْفِقْ ذُو سَعَةٍ مِنْ سَعَتِهِ وَمَنْ قُدِرَ عَلَيْهِ رِزْقُهُ فَلْيُنْفِقْ مِمَّا آتَاهُ اللَّهُ 

 

Hendaklah orang yang mampu memberi nafkah menurut kemampuannya. dan orang yang disempitkan rezkinya hendaklah memberi nafkah dari harta yang diberikan Allah kepadanya.. 

 

Apabila seseorang lalai dalam mencukupi kebutuhan orang yang berada di bawah tanggungannya maka ia telah berdosa. Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda:

 

كَفَى بِالْمَرْءِ إِثْمًا أَنْ يَحْبِسَ، عَمَّنْ يَمْلِكُ قُوتَهُ

 

Cukuplah seseorang itu dikatakan berdosa bila dia menahan makan budaknya. HR. Muslim no.996  

 

Dalam riwayat lain disebutkan

Cukuplah seseorang itu dikatakan berdosa bila dia menyia-nyiakan orang yang menjadi tanggungannya. HR. Abu Daud no.1692  dan yang lainnya

Termasuk perbuatan dosa berdasarkan hadits di atas adalah seorang suami yang tidak memberikan nafkah kepada orang yang berada dibawah tanggungannya seperti istri dan anak-anaknya. 

Al-Imam ash-Shan'ani menerangkan," yang mereka beri nafkah adalah dan berhak atas nafkah itu adalah orang yang wajib diberi infak yakni istri-istri mereka, anak-anak mereka dan budak-budak mereka. Subulussalam 2/323 

Cobalah anda menjalin komunikasi yang baik dengan suami dan cobalah untuk introspeksi diri, mungkin ada kesalahan diri yang menjadikan suami berbuat demikian. Apabila memang benar suami anda yang menjadi sumber masalah anda juga bisa meminta bantuan orang lain untuk menasehatinya bila nasehat anda tidak digubris olehnya. Semoga Allah ta'ala kembali menyatukan keluarga anda dan mengkaruniakan keharmonisan keluarga dalam naungan syariat Islam. Untuk teknis mendakwahi suami silahkan membuka link berikut ini http://www.salamdakwah.com/pertanyaan/5039-menasehati-suami

Terkait pertanyaan meminta cerai, apabila suami tidak berubah setelah diberi nasehat dan setelah mediasi maka anda boleh melayangkan gugatan cerai mengingat apa yang dilakukan suami termasuk hal-hal yang membolehkan istri menggugat cerai. Silahkan membuka jawaban kami sebelumnya terkait hal-hal yang membolehkan istri untuk menggugat cerai istrinya di link berikut: http://www.salamdakwah.com/pertanyaan/6271-menjatuhkan-khulu-terhadap-suami-demi-kebahagiaan-suami

Wallahu ta'ala a'lam

© 2020 - Www.SalamDakwah.Com