SALWA RADIO - Menebar Salam, Menyebar Dakwah
Stay in touch with us:

Makna Hadits Tentang Alamat Hari Kiamat


Akhwat (Kebumen)
4 years ago on Fiqih

Salah satu hadis dari Bukhari dan Muslim yang menyatakan mengenai tanda hari kiamat yang diantaranya adalah “apabila Anda mengetahui orang-orang yang tak beralas kaki, telanjang, tuli dan bisu, menjadi raja-raja (penguasa) di dunia; apabila para penggembala binatang unjuk dalam persaingan mempertinggi (memperbesar dan bermegah-megahan) bangunan (rumah-rumah) mereka. Apakah maksud dari kedua tanda tersebut?
Redaksi salamdakwah.com
4 years ago

Ulama' yang duduk di Komite Tetap Riset Ikmiah dan Fatwa Arab Saudi telah memilih penafsiran Ulama' untuk hadits yang anda tanyakan. Berikut ini kami bawakan keterangan utuh fatwa mereka supaya faedah illmahnya bisa kita ambil. terkait pertanyaan anda kami telah menebalkannya supaya diketahui jawaban pertanyaan anda secara khusus. 


Ulama' yang duduk di Komite Tetap Riset Ilmiah dan Arab Saudi pernah ditanya: Saya sulit memahami hadis-hadis yang pernah saya baca di dalam kitab-kitab sunan. Hadis itu diriwayatkan oleh Abu Dawud sebagai hadis marfu` bahwasanya Rasulullah Shallallahu `Alaihi wa Sallam bersabda, "Ingatlah, sesungguhnya semua bangunan berakibat buruk bagi pemiliknya, kecuali yang tidak bisa dihindari untuk melindungi dirinya dari panas, dingin, binatang buas dan sejenisnya." Dan ath-Thabarani dalam riwayat lain dengan sanad jayyid (baik) sebagai hadis marfu` meriwayatkan, "Jika Allah menginginkan keburukan pada seorang hamba, maka Dia akan membuat batu bata dan tanah menjadi indah dalam pandangannya sehingga dia membuat bangunan." Juga disebutkan dalam riwayatnya yang lain, "Jika Allah menginginkan kehinaan pada seorang hamba-Nya, maka hamba itu akan menggunakan hartanya untuk membuat bangunan". Dan dalam riwayat lain, "Barangsiapa membangun melebihi kebutuhannya, maka pada hari kiamat dia dipaksa untuk membawa bangunan tersebut". Dan diriwayatkan oleh ad-Daraquthni dan al-Hakim sebagai hadis marfu`, "Nafkah yang dikeluarkan oleh seorang hamba, Allah akan menggantinya dan Allah menjamin gantinya, kecuali yang dikeluarkan untuk mendirikan bangunan atau kemaksiatan". Dan dalam Sunan Tirmidzi diriwayatkan juga, "Seorang lelaki diberi pahala karena nafkah yang dia keluarkan, kecuali yang dia keluarkan untuk tanah", atau beliau bersabda, "untuk bangunan". Dan diriwayatkan oleh Tirmidzi sebagai hadis marfu`, "Semua nafkah adalah di jalan Allah, kecuali nafkah yang dikeluarkan untuk mendirikan bangunan, maka tidak ada kebaikan sama sekali di dalamnya". Dan diriwayatkan oleh Abu Dawud dan yang lainnya, "bahwasanya al-`Abbas membangun sebuah kubah, lalu Nabi Shallallahu `Alaihi wa Sallam memerintahkannya untuk menghancurkannya. Al-`Abbas berkata kepada beliau, kalau begitu saya akan bersedekah dengan harga kubah itu. Nabi Shallallahu `Alaihi wa Sallam bersabda, "Tidak, hancurkan kubah itu". Juga diriwayatkan oleh Abu Dawud dan Ibnu Majah, bahwasanya Rasulullah Shallallahu `Alaihi wa Sallam melewati sebuah kubah di depan rumah seorang lelaki Anshar lalu bertanya, "Apa ini?" Orang-orang menjawab, "Ini kubah yang dibangun oleh si Fulan." Maka Rasulullah Shallallahu `Alaihi wa Sallam bersabda, "Semua bangunan yang seperti ini berakibat buruk bagi pemiliknya". Hal itu lalu didengar oleh orang Anshar yang membangunnya, maka dia pun merobohkannya. Kemudian Nabi Shallallahu `Alaihi wa Sallam kembali melintasi tempat kubah tersebut setelah ia dirobohkan, maka beliau menanyakannya dan beliau diberitahu bahwa orang yang membangunnya telah merobohkannya saat mendengar sabda beliau. Maka beliau bersabda, "Semoga Allah merahmatinya, semoga Allah merahmatinya". Dan dalam riwayat Ibnu Abi ad-Dunya dari `Amir bin Ammar sebagai hadis marfu`, "Jika seseorang meninggikan bangunannya melebihi tujuh lengan, maka dia akan diseru, 'Wahai orang yang paling fasik, mau kemana kamu?'"

Mereka menjawab: Hadis-hadis yang Anda sebutkan akan kita jelaskan derajatnya masing-masing terlebih dahulu, setelah itu kita akan mendapatkan jawabannya berdasarkan kesahihannya. Adapun penjelasan derajat hadis masing-masing adalah sebagai berikut.
1- Hadis, "Ingatlah, sesungguhnya semua bangunan berakibat buruk bagi pemiliknya." Diriwayatkan oleh Abu Dawud dari Anas. Al-Manawi berkata dalam kitab Faydhu al-Qadir, mengutip dari Ibnu Hajar bahwasanya dia berkata, "Para perawinya adalah perawi hadis sahih kecuali perawi dari Anas, yaitu Abu Thalhah al-Asadi tidak dikenal, dan hadis-hadis penguat terdapat pada riwayat ath-Thabrani.
2- Hadis, "Jika Allah menginginkan keburukan pada seorang hamba, maka Dia akan membuat batu bata dan tanah menjadi indah dalam pandangannya sehingga dia membuat bangunan." Diriwayatkan oleh ath-Thabrani dengan sanad jayyid sesuai dengan yang Anda sebutkan pada pertanyaan, as-Suyuti mengisyaratkannya sebagai hadis daif dalam kitab al-Jami` ash-Shaghir.
Al-Manawi berkata dengan mengutip perkataan al-Haitsami

- "Para perawinya adalah perawi hadis sahih selain syekh (guru) Bukhari dan saya tidak menemukan ulama yang mendaifkannya". Dan al-Mundziri berkata, "Hadis tersebut diriwayatkan di dalam tiga kitab , maksudnya karya ath-Thabrani dengan sanad jayyid." Dan al-Manawi juga berkata, "Hadis itu dinisbatkan oleh sekelompok ulama kepada Abu Dawud dari hadis Aisyah." Al-`Iraqi berkata, "Sanadnya baik".
3- Hadis, "Jika Allah menginginkan kehinaan terhadap seorang hamba." Hadis. As-Suyuti dalam Al-Jami` ash-Shaghir berkata, "Diriwayatkan oleh al-Baghawi dan al-Baihaqi dalam kitab Syu`abul Iman dari Muhammad bin Basyir al-Anshari dan dia tidak mempunyai riwayat lain selain hadis tersebut, dan Ibnu `Adi dalam kitab al-Kamil dari Anas dan diisyaratkan oleh as-Suyuti sebagai hadis daif". Al-Manawi berkata menurut riwayat Muhammad bin Basyir, " Al-Haitsami berkata, "Hadis tersebut diriwayatkan darinya oleh anaknya Yahya, seandainya riwayat ini sahih, dan pada sanadnya ada Salamah bin Syuraih." Adz-Dzahabi berkata, "Dia adalah rawi majhul (yang tidak diketahui identitasnya)." Al-Manawi berkata, "Dalam riwayat Ibnu Adi dari Anas dalam biodata Zakariya al-Mishri al-Waqqad, dia berkata, "Dia membuat hadis mawdu` (palsu)." Shalih Jazarah dan yang lainnya menganggapnya pendusta. Dan tatkala al-Haitsami menisbatkannya ke ath-Thabrani, dia berkata, "Dalam sanadnya terdapat perawi yang tidak saya ketahui."
4- Hadis, "Barangsiapa membangun melebihi kebutuhannya." Diisyaratkan oleh as-Suyuti pada kitab al-Jami` ash-Shaghir sebagai hadis daif. Dan al-Manawi berkata, "Dia berkata di dalam kitab al-Mizan, "Ini adalah hadis munkar." Dan al-Hafidz al-`Iraqi berkata, "Pada sanadnya ada perawi agak lemah dan terputus."
5- Hadis, "Nafkah yang dikeluarkan oleh seorang hamba." Hadis ini diriwayatkan oleh ad-Daraquthni dan al-Hakim dan di dalam sanadnya terdapat Abdul Hamid bin Hasan al-Hilali "Ia dianggap lemah (hafalannya) oleh sekolompok ulama."
6- Hadis,"Seorang lelaki diberi pahala karena nafkah yang dia keluarkan". Hadis ini dinisbatkan oleh as-Suyuti dalam al-Jami` ash-Shaghir kepada at-Tirmidzi dari Khabbab dan as-Suyuti memberi mengisyaratkan di dalam kitab tersebut bahwa hadis tersebut sahih dan al-Manawi tidak mengomentarinya. Dan dengan makna yang senada diriwayatkan oleh Bukhari dan Muslim dari Khabbab sebagai hadis mauquf dengan redaksi, "Sesungguhnya seorang Muslim diberi pahala dalam semua yang dia nafkahkan, kecuali yang dia nafkahkan untuk tanah ini (untuk membuat bangunan)." Dan hadis tersebut digolongkan sebagai hadis marfu`, karena hadis seperti itu tidak bisa dinilai berdasarkan pendapat akal.
7 -"Semua nafkah adalah di jalan Allah". Hadis ini diriwayatkan oleh Tirmidzi dari Anas dan as-Suyuti mengisyaratkan hadis tersebut sebagai hadis hasan. Dan Tirmidzi berkomentar setelah meriwayatkannya di dalam bab-bab sifat hari Kiamat, bab larangan mengharap kematian, dia berkata, "Hadis gharib."
Dan al-Manawi berkata, " Ash-Shadr al-Munawi berkata dan di dalamnya disebutkan Muhammad bin Humaid ar-Razi, Zafir bin Sulaiman, Syabib bin Bisyr, dan Muhammad." Bukhari berkata, "Sanadnya perlu ditinjau, (Muhammad bin Humaid ar-Razy) dianggap pembohong (diingkari) oleh Abu Zur`ah, dan Zafir mempunyai kelemahan dan Syabib agak lemah."
8- Hadis, "Bahwa al-`Abbas membangun kubah." Hadis ini diriwayatkan oleh Abu Dawud sebagai hadis mursal dari Abu al-`Aliyah dan mursal adalah di antara hadis daif.
9- Hadis bahwasanya Rasulullah Shallallahu `Alaihi wa Sallam melintasi tempat kubah itu. Hadis ini adalah penyabab hadis pertama. Hadis ini telah dijelaskan sebelumnya.
10- Jika seorang mengangkat bangunannya hingga tujuh hasta ... dan seterusnya. Ini adalah perkataan sahabat/tabiin dan kami belum mengetahui ulama yang menganggap hadis ini sahih. Dan al-Hafiz Ibnu Hajar berkata dalam "Fathul Bari" 11/92 sebagai berikut: ["Ada hadis yang secara terang-terangan mencela meninggikan bangunan, yaitu hadis yang diriwayatkan oleh Ibnu Abi ad Dunya dari riwayat `Imarah bin `Amir," "Jika seseorang meninggikan bangunannya melebihi tujuh lengan, maka dia akan diseru, 'Wahai orang yang paling fasik, mau kemana kamu?'" Namun sanad hadis tersebut daif sekalipun hadis tersebut mauquf.]

Hadis-hadis ini dan hadis-hadis yang semakna di antaranya ada yang sahih, ada yang hasan, dan ada juga yang tidak sahih. Hadis yang bisa dijadikan hujjah bermakna pencelaan terhadap orang yang melakukan perbuatan tersebut untuk berbangga-bangga, melampaui batas, dan mubazir. Hukumnya berbeda-beda tergantung kepada keadaan, orang-orang, tempat-tempat, dan waktu. Ada sebuah riwayat di dalam Sahih Muslim dari hadis Umar bin Khathab radhiyallahu `anhu, dari Nabi Muhammad Shallallahu `Alaihi wa Sallam ketika ditanya oleh Jibril `alaihis salam tentang tanda-tanda hari kiamat, "Dan engkau melihat orang-orang yang telanjang kaki, tidak berpakaian dan para penggembala kambing saling berlomba meninggikan bangunan". Ibnu Rajab ketika menjelaskan hadis ini berkata, "Maksudnya adalah bahwa orang-orang yang berada pada tingkatan terendah akan menjadi pemimpin-pemimpin mereka dan harta mereka akan berlimpah ruah sehingga mereka saling berbangga dengan ketinggian bangunan, dekorasi, dan kecanggihannya." Dan an-Nawawi menyebutkan makna yang serupa dalam kitab Syarh Sahih Muslim ketika mengomentari hadis ini.

Adapun jika meninggikan bangunan untuk tujuan syar`i (dibolehkan agama), seperti menyediakan fasilitas dan perumahan bagi yang membutuhkan atau dijadikan sebagai sumber pendapatan atau banyaknya orang yang berkeluarga dan sejenisnya, maka hal itu tidak ada masalah sejauh yang kami ketahui, karena sesungguhnya hukum setiap perkara itu ditentukan oleh niat atau maksudnya. Nabi Muhammad Shallallahu `Alaihi wa Sallam bersabda, Sesungguhnya seluruh amal perbuatan tergantung niatnya dan sesungguhnya setiap orang mendapatkan sesuai dengan apa yang dia niatkan Diriwayatkan oleh Bukhari dan Muslim di dalam kitab Sahih Bukhari dan Sahih Muslim dari Umar radhiyallahu `anhu.

Wabillahittaufiq, wa Shallallahu `Ala Nabiyyina Muhammad wa Alihi wa Shahbihi wa Sallam.

Komite Tetap Riset Ilmiah dan Fatwa
Abdullah bin Mani`selaku Anggota
Abdullah bin Ghadyan selaku Anggota
Abdurrazzaq `Afifi selaku Wakil Ketua Komite
Fatawa al-Lajnah ad-Daimah 4/486-489 Pertanyaan Pertama dari Fatwa Nomor181


© 2021 - Www.SalamDakwah.Com