SALWA RADIO - Menebar Salam, Menyebar Dakwah
Stay in touch with us:

Suami Tidak Pernah Sholat?Cinta Suami Orang?


Akhwat (dki jakarta)
2 years ago on Keluarga

Assalamu'alaikum ustadz Saya ingin bertanya adakah hukumnya bila suami tidak mau sholat dan apakah seorang istri bisa meminta cerai karena suami tidak mau sholat. dan apakah mencintai suami orang itu perbuatan tercela tanpa bermaksud lebih Tolong bimbingannya ustadz
Redaksi salamdakwah.com
2 years ago

Waalaikumussalam wa rahmatullahi wa barakatuhu.

Apabila suami itu tidak mau shalat sama sekali maka suami tersebut perlu dinasehati sebaik mungkin. Apabila tidak ada perubahan positif maka layak untuk dilaporkan ke mahkamah syar'iyyah.  Saat menunggu proses di mahkamah  itu istri selayaknya tidak mendekat ke suami tersebut. Ulama' yang duduk di Komite Tetap Riset Ilmiah dan Fatwa Arab Saudi pernah ditanya,"Apa hukum orang yang menghina dan melaknat Rasulullah Shallallahu 'Alaihi wa Sallam, serta mencaci Allah Subhanahu wa Ta'ala? Sampai sekarang orang tersebut tidak bertaubat. Dia melakukan hal itu di hadapan kami, dan di depan para hadirin sebuah majelis ilmu yang besar.


Istri orang tersebut memberitahu kami bahwa perbuatan suaminya itu bukan yang pertama kali. Akan tetapi, dia sering mengucapkan hinaan seperti itu. Sekarang istrinya meminta penjelasan kepada kami terkait statusnya menurut syariat, apakah dia masih dianggap istri dari lelaki tersebut, atau status pernikahan mereka dianggap telah batal setelah kemurtadan ini?

Perlu diketahui bahwa lelaki itu sama sekali tidak pernah menunaikan salat. Dia juga bekerja sebagai musisi yang tampil di berbagai acara pernikahan dan perayaan, tempat bercampurnya lelaki dan perempuan. Apa saran Anda untuk istrinya yang malang itu? Demikianlah, semoga Allah Ta'ala memberi Anda pahala dan melanggengkan Anda sebagai cahaya kaum muslimin di dunia. Wassalamu`alaikum wa rahmatullah wa barakatuh.


Mereka menjawab: Menghina Allah Subhanahu wa Ta'ala dan Rasulullah Shallallahu 'Alaihi wa Sallam merupakan kekufuran dan murtad dari Islam, jika orang yang bersangkutan merupakan seorang muslim. Ini merupakan ijma' (konsensus) para ulama. Demikian pula meninggalkan salat, itu merupakan kekufuran besar sekalipun dia tidak mengingkari kewajibannya. Inilah pendapat yang paling benar dari dua pandangan ulama. Perkara seperti ini wajib diajukan ke pengadilan syariat.
Istrinya harus menjauh dari suaminya jika mengetahui perilaku dan perbuatan suaminya, seperti yang Anda sebutkan, hingga pengadilan memutuskan perkara ini.
Wabillahittaufiq, wa Shallallahu `ala Nabiyyina Muhammad wa Alihi wa Shahbihi wa Sallam.


Komite Tetap Riset Ilmiah dan Fatwa
Abdullah bin Ghadyan selakun Anggota

Abdurrazzaq `Afifi selaku Wakil Ketua

 Abdul Aziz bin Abdullah bin Baz selaku Ketua

Fatawa al-Lajnah ad-Daimah 1 /403-404 Fatwa Nomor:13641

 

Terkait mencintai suami orang, perlu difahami bila seorang wanita masih dalam ikatan pernikahan dengan seorang laki-laki maka tidak boleh mencintai laki-laki lain seperti bentuk cinta kepada suaminya mengingat itu akan mengantarkan kepada rusaknya hubungan suami istri yang sah. Apabila sudah muncul rasa itu maka wanita itu harus berusaha untuk mengusir rasa itu.

Apabila seorang wanita statusnya belum pernah menikah atau status dia janda maka ketika dia mencintai suami orang lain ada yang brrmasalah dan ada yang tidak bermasalah menurut ulama', Apabila rasa cinta yang timbul dalam diri wanita berasal dari hal-hal yang tidak diharamkan seperti membaca biografi orang tersebut dan kagum kemudian melihatnya sekilas dan tidak dilanjutkan dengan komunikasi yang terlarang maka wanita tersebut tidak tercela dan dia tidak bersalah. Sebaliknya bila rasa cinta itu timbul karena sering khalwat dan komunikasi yang terlarang maka wanita itu tidak diberi udzur. Lebih jelasnya silahkan membaca keterangan Ibnu Qayyim rahimahullahu ta'ala yang telah kami terjemahkan ke bahasa Indonesia,'"Awal mula dan sebab-sebab cinta sifatnya opsional (berada dibawah kendali seorang hamba.pent) dan termasuk dalam lingkaran taklif seorang hamba. Melihat, memikirkan dan membuka diri untuk mencintai sifatnya opsional.

Apabila seseorang mendatangi sebab-sebab tersebut maka efeknya diluar kendali dia...ini seperti efek mabuk setelah meminum khamr, meminum khamr sifatnya opsional sedangkan efek mabuknya di luar kendali orang yang minum.


Ketika sebab itu dilakukan karena pilihan dia sendiri maka dia tidak diberi udzur untuk efek yang tiba di luar kendali. Ketika sebabnya diharamkan maka efek mabuknya tidaklah dimaafkan.

Tidak diragukan lagi bahwa terus memandang dan terus memikirkan kedudukannya sama dengan meminum zat yang memabukkan sehingga dia dicela karena mendatangi sebabnya. Oleh karena itu, bila cinta datang dari hal-hal yang tidak terlarang maka orang yang jatuh cinta itu tidaklah tercela, sebagaimana orang yang mencintai istri atau budak wanitanya kemudian mereka berpisah namun rasa cinta itu tetap lekat dalam diri orang tersebut, kala itu dia tidak tercela sebagaimana berlalu dalam kisah Bariroh dan Mughits.


Begitu pula bila seseorang memandang sekejap kemudian ia memalingkan pandangannya namun cinta telah terlanjur hinggap dalam hatinya tanpa dia bisa kontrol. Meski demikian dia harus berusaha mengusir rasa itu dan memalingkan hati darinya, bila dia masih tersandera oleh rasa cinta itu setelah mengerahkan usaha maksimal untuk mengusir ra'asa tersebut maka dia tidak tercela. Raudhatul Muhibbin 147-148

   Wallahu ta'ala a'lam

© 2019 - Www.SalamDakwah.Com