SALWA RADIO - Menebar Salam, Menyebar Dakwah
Stay in touch with us:

Wali Nikah Mempelai Wanita Yang Tidak Diketahui


Ikhwan (Bekasi)
2 months ago on Keluarga

Assalamualaikum ustadz, semoga ustadz senantiasa selalu diberikan nikmat sehat dan rezeki yang berlimpah oleh allah swt. Maaf ustadz ada yang ingin saya tanyakan. Sebelumnya saya ingin bercerita terlebih dahulu tentang keluarga calon istri saya. Calon istri saya, semenjak dia kecil dari bayi, telah ditinggal oleh bapak kandung nya (sampai saat ini belum diketahui keberadaannya entah masih hidup atau sudah meninggal). Dan tidak ada komunikasi dengan keluarga bapak kandungnya sampai saat ini tidak diketahui keberadaannya. Dari kecil calon istri saya dibesarkan oleh ibunya sama bapak tiri (alm). Sampai saat ini sudah pernah melakukan pencarian, tetapi belum mendapatkan hasil. Jadi saya dan calon istri saya berniat untuk menikah, tetapi saya masih terkendala dari pihak wali calon istri saya. Saya butuh saran dan masukannya ustadz. Maaf ustadz panjang lebar nanya nya. Wassalamualaykum
Redaksi salamdakwah.com
2 months ago

 

وعليكم السلام ورحمة الله وبركاته

الحمد لله والصلاة والسلام على رسول الله وعلى آله وصحبه ومن والاه

Terima kasih atas kunjungan dan kepercayaan anda kepada salamdakwah.com semoga Allah ta'ala mudahkan anda dan kami semua dalam mengurus kebaikan. 

Apabila ayah kandung tidak ada maka silahkan mencari anggota keluarga ayah yang lain sebagaimana disebutkan dalam petikan keterangan syaikh Ibnu Baz rahimahullah berikut:
Urutan perwalian nikah yang diwajibkan  adalah keluarga dekat secara berurutan, inilah yang pendapat yang paling kuat dari pendapat-pendapat ulama' yang ada. Keluarga dekat secara berurutan menjadi wali. Dan yang paling dekat adalah ayah kemudian kakek, anak laki-laki, saudara-saudara kandung, saudara-saudara se ayah, paman kandung sebagaimana urutannya dalam pembagian warisan, inilah pendapat yang kuat ....http://www.binbaz.org.sa/mat/19388

Apabila orang-orang tersebut tidak anda temukan setelah maksimal mencari maka perwalian berpindah ke tangan hakim yang merupakan wakil dari penguasa. Telah disebutkan dalam Fatawa Al-Lajnah Ad-Daimah, 18/14: “Tidak boleh menikahkan seorang wanita kecuali mukallaf (sudah terkena beban kewajiban agama) dan matang kejiwaan. Kalau tidak ada, maka hakim (yang menikahkan). Karena penguasa adalah wali bagi yang tidak mempunyai wali. Hakim adalah penggantinya dalam kondisi seperti ini.

Mukallaf (orang yang terkena beban kewajiban) cirinya adalah dengan keluar mani karena syahwat, baik dengan bermimpi atau lainnya. Atau tumbuh rambut di sekitar kemaluan, atau usianya telah mencapai lima belas tahun.

Rasyid (matang kejiwaan) maksudnya bijak dalam berprilaku. Hal tersebut terwujud dengan sikap hati-hati dalam mencari yang setara dengan tepat untuk kebaikan orang yang ada di bawah wilayahnya. Fatawa al-Lajnah ad-Daimah 18/147 pertanyaan kedua dari fatwa no.17529


Perpindahan perwalian ke tangan penguasa setelah wali nasab tidak ada ini didasari sabda Nabi sallallahu’alai wa sallam:

فَإِنْ اشْتَجَرُوا فَالسُّلْطَانُ وَلِيُّ مَنْ لاَ وَلِيَّ لَهُ 

“Kalau mereka (para wali) berselisih, maka penguasa adalah wali bagi yang tidak mempunyai wali.” (HR. Abu Daud, 2083, Tirmizi, no. 1102)

والله تعالى أعلم بالحق والصواب

PERTANYAAN TERKAIT

© 2017 - Www.SalamDakwah.Com