SALWA RADIO - Menebar Salam, Menyebar Dakwah
Stay in touch with us:

Saya Suka Keponakan Suami Tante


Akhwat (Jakarta)
3 years ago on Keluarga

Assalamualaikum pak ustad, saya mau tanya, saya sudah lama punya perasaan suka sama keponakan nya suami tante saya, dalam islam saya dan dia termasuk sepupuan atau bukan, dan dosa gak kalo menyukainya, saya pun setiap bertemu dengannya hanya bisa liat dari jauh, tidak berani menyapa nya. terima kasih.
Redaksi salamdakwah.com
3 years ago

 

وعليكم السلام ورحمة الله وبركاته

Laki-laki itu bukanlah mahram anda, artinya dia boleh menikah dengan anda. Ini bila dia bukan saudara sepersusuan. Anda tidak boleh dengan sengaja terus melihat lawan jenis tersebut sebab dalam memandang lawan jenis. Allah ta'ala berfirman:


قُلْ لِلْمُؤْمِنِينَ يَغُضُّوا مِنْ أَبْصَارِهِمْ وَيَحْفَظُوا فُرُوجَهُمْ.


“Katakanlah kepada laki – laki yang beriman :”Hendaklah mereka menundukkan pandangannya dan memelihara kemaluannya. An-Nur:30


وَقُلْ لِلْمُؤْمِنَاتِ يَغْضُضْنَ مِنْ أَبْصَارِهِنَّ وَيَحْفَظْنَ فُرُوجَهُنَّ


“Katakanlah kepada wanita-wanita yang beriman : "Hendaklah mereka menundukkan pandangannya, dan kemaluannya” An-Nur:31

Ini adalah hukum larangan dalam memandang lawan jenis yang bukan mahram, Dan bisa jadi perbuatan terus memandang lawan jenis dengan syahwat termasuk zina mata, Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda:


كُتِبَ عَلَى ابْنِ آدَمَ نَصِيبُهُ مِنَ الزِّنَى مُدْرِكٌ ذَلِكَ لاَ مَحَالَةَ فَالْعَيْنَانِ زِنَاهُمَا النَّظَرُ وَالأُذُنَانِ زِنَاهُمَا الاِسْتِمَاعُ وَاللِّسَانُ زِنَاهُ الْكَلاَمُ وَالْيَدُ زِنَاهَا الْبَطْشُ وَالرِّجْلُ زِنَاهَا الْخُطَا وَالْقَلْبُ يَهْوَى وَيَتَمَنَّى وَيُصَدِّقُ ذَلِكَ الْفَرْجُ وَيُكَذِّبُهُ.


“Setiap anak Adam telah ditakdirkan bagian untuk berzina dan ini suatu yang pasti terjadi, tidak bisa tidak. Zina kedua mata adalah dengan melihat. Zina kedua telinga dengan mendengar. Zina lisan adalah dengan berbicara. Zina tangan adalah dengan meraba (menyentuh). Zina kaki adalah dengan melangkah. Zina hati adalah dengan menginginkan dan berangan-angan. Lalu kemaluanlah yang nanti akan membenarkan atau mengingkari yang demikian.” HR. Muslim no.2657

Menyukai atau mencintai lawan jenis bisa jadi bermasalah dilihat dari pandangan syar'i atau tidak bemasalah. Apabila rasa suka yang timbul dalam diri anda berasal dari hal-hal yang tidak diharamkan seperti membaca biografi orang tersebut dan kagum kemudian  melihatnya sekilas dan tidak dilanjutkan dengan komunikasi yang terlarang maka anda tidak tercela dan anda tidak bersalah. Sebaliknya bila rasa cinta itu timbul karena sering khalwat dan komunikasi yang terlarang maka anda tidak diberi udzur. Lebih jelasnya silahkan membaca keterangan Ibnu Qayyim rahimahullahu ta'ala yang telah kami terjemahkan ke bahasa Indonesia,'"Awal mula dan sebab-sebab cinta sifatnya opsional (berada dibawah kendali seorang hamba.pent) dan termasuk dalam lingkaran taklif seorang hamba. Melihat, memikirkan dan membuka diri untuk mencintai sifatnya opsional.

Apabila seseorang mendatangi sebab-sebab tersebut maka efeknya diluar kendali dia...ini seperti efek mabuk setelah meminum khamr, meminum khamr sifatnya opsional sedangkan efek mabuknya di luar kendali orang yang minum.


Ketika sebab itu dilakukan karena pilihan dia sendiri maka dia tidak diberi udzur untuk efek yang tiba di luar kendali. Ketika sebabnya diharamkan maka efek mabuknya tidaklah dimaafkan.

Tidak diragukan lagi bahwa terus memandang dan terus memikirkan kedudukannya sama dengan meminum zat yang memabukkan sehingga dia dicela karena mendatangi sebabnya. Oleh karena itu, bila cinta datang dari hal-hal yang tidak terlarang maka orang yang jatuh cinta itu tidaklah tercela, sebagaimana orang yang mencintai istri atau budak wanitanya kemudian mereka berpisah namun rasa cinta itu tetap lekat dalam diri orang tersebut, kala itu dia tidak tercela sebagaimana berlalu dalam kisah Bariroh dan Mughits.


Begitu pula bila seseorang memandang sekejap kemudian ia memalingkan pandangannya namun cinta telah terlanjur hinggap dalam hatinya tanpa dia bisa kontrol. Meski demikian dia harus berusaha mengusir rasa itu dan memalingkan hati darinya, bila dia masih tersandera oleh rasa cinta itu setelah mengerahkan usaha maksimal untuk mengusir rasa tersebut maka dia tidak tercela. Raudhatul Muhibbin 147-148

Wallahu ta'ala a'lam

 

 

© 2020 - Www.SalamDakwah.Com