SALWA RADIO - Menebar Salam, Menyebar Dakwah
Stay in touch with us:

Membuat Film Nabi


Ikhwan
3 years ago on Aqidah

Assalamualaikum pak ustadz, saya punya pikiran untuk membuat sebuah film tentang Nabi Muhammad SAW. Apakah diperbolehkan? Dan bolehkan wajah Nabi tidak di samarkan?
Redaksi salamdakwah.com
3 years ago

 

وعليكم السلام ورحمة الله وبركاته

الحمد لله والصلاة والسلام على رسول الله وعلى آله وصحبه ومن والاه

 

Terima kasih atas kunjungan dan kepercayaan penanya kepada salamdakwah. Semoga Allah ta'ala berkenan untuk senantiasa memberi kita taufiq dan hidayah Nya. Ada pertanyaan mirip yang disampaikan kepada Ulama' al-Lajnah ad-Daimah, pertanyaan itu berbunyi: Apa hukum memainkan peran (berakting) sebagai salah seorang dari para Nabi ‘alaihimus shalatu was salam, para sahabat atau tabi’in radhiyallahu ‘anhum? Dan apa hukum memerankan para Nabi dan pengikutnya dalam satu pihak dan orang-orang kafir dalam pihak lain?

Mereka menjawab,"
Pertama, film-film yang ada saat ini, yang biasanya memiliki karakter sebagai hiburan, dengan dipenuhi kata-kata pilihan, gerakan yang dibuat-buat dan lain sebagainya, telah mampu menarik perhatian dan hati penontonnya, serta menguasai perasaan mereka meskipun hal itu mengakibatkan kebohongan dalam dialog aktornya, ataupun merubah dan menambahnya. Semua ini tidak pantas dilakukan oleh aktor itu sendiri, apalagi jika ia memerankan seorang atau sejumlah Nabi, sahabat dan para pengikut mereka, baik berupa ucapan yang mereka keluarkan dalam berdakwah dan menyampaikan risalah, maupun perbuatan yang mereka lakukan seperti beribadah dan berjihad demi menunaikan kewajiban dan membela Islam.

Kedua, orang-orang yang berprofesi sebagai aktor pada umumnya tidak memiliki keinginan kuat untuk jujur, tidak berakhlak mulia, berani untuk bertindak serampangan dan tidak peduli walaupun terjatuh pada hal-hal yang tidak pantas, selama tujuannya dapat terpenuhi untuk menghibur orang, memperoleh materi dan menjadi sukses di mata sebagian besar penggemarnya. Jika mereka memerankan tokoh sahabat dan semisalnya, maka hal itu dapat menimbulkan cemoohan dan hinaan, mencoreng kehormatan, dan menjatuhkan martabat mereka, serta merusak kewibawaan dan keagungan mereka dalam hati kaum muslimin.

Ketiga, jika pemerannya ada dua golongan, yaitu golongan kafir seperti Fir`aun dan Abu Jahal dan orang-orang seperti keduanya, dan golongan kaum mukminin, seperti Musa dan Muhammad ‘Alaihimas Shalatu was Salam serta para pengikut mereka, maka pemeran orang-orang kafir akan berakting seperti mereka dan berbicara atas nama mereka sehingga ia akan mengucapkan kata-kata yang berisi kekafiran, mengarahkan ejekan dan celaan kepada para nabi serta menuduh mereka berbuat dusta, melakukan sihir, orang gila dan lain sebagainya. Ia juga akan menganggap bodoh para nabi dan pengikutnya serta menuduh mereka dengan segala keburukan dan dusta yang dibisikkan oleh hatinya -sebagaimana perilaku Firaun dan Abu Jahal dan orang-orang seperti mereka- kepada para nabi dan pengikutnya. Semua itu dinyatakan bukan sebagai pemberitahuan tentang keadaan orang-orang kafir itu, tetapi dinyatakan sebagai ucapan seperti yang mereka ucapkan berupa kata-kata yang mengandung kekafiran dan kesesatan. Ini jika mereka tidak menambahnya dengan sesuatu yang membuat suasana menjadi lebih buruk, mungkar dan penuh dusta. Namun, jika mereka menambahkan itu, maka kejahatan akting dan bencananya menjadi lebih besar karena dapat mengakibatkan hal-hal yang tidak baik seperti kekafiran, kerusakan masyarakat dan penghinaan terhadap para nabi dan orang-orang saleh.

Keempat, anggapan bahwa pementasan film yang bercerita tentang peristiwa perseteruan antara kaum muslimin dengan orang-orang kafir terbukti merupakan suatu metode penyampaian yang berhasil, cara berdakwah yang memberikan pengaruh mendalam dan dapat memberikan pengetahuan tentang sejarah, merupakan anggapan yang bertentangan dengan kenyataan. Meskipun anggapan semacam ini benar, maka keburukannya jauh lebih besar daripada kebaikannya, dan kemudaratannya melebihi kemaslahatannya. Jika hal itu terjadi, maka wajib dilarang dan tidak perlu dipikirkan lagi.

Kelima, ada banyak sarana dakwah dan metode penyampaian dan penyebaran risalah Islam kepada manusia. Para nabi telah menyusunnya bagi umat mereka dan telah memberikan hasil yang baik untuk membela Islam dan memberikan kejayaan bagi kaum muslimin. Kenyataan sejarah telah membuktikan hal itu. Oleh karena itu, hendaknya kita menggunakan jalan yang lurus itu, yaitu jalan para nabi, orang-orang jujur, para syahid dan orang-orang saleh yang telah diberi kenikmatan oleh Allah. Kita harus mencukupkan diri dengan cara tersebut, dan tidak menggunakan cara-cara yang justru lebih dekat kepada permainan, serta pemenuhan keinginan dan hawa nafsu, daripada kepada kesungguhan dan semangat yang tinggi. Segala perkara hanya milik Allah, sebelum dan sesudahnya. Dan Dialah sebaik-baik hakim.
Wabillahittaufiq, wa Shallallahu `Ala Nabiyyina Muhammad wa Alihi wa Shahbihi wa Sallam.

Komite Tetap Riset Ilmiah dan Fatwa

Abdullah bin Qu'ud selaku Anggota    
Abdullah bin Ghadyan selaku Anggota    
Abdurrazzaq `Afifi selaku Wakil Ketua Komite    
Abdul Aziz bin Abdullah bin Baz selaku Ketua
Fatawa al-Lajnah ad-Daimah 3/268-270 fatwa nomor 4723

PERTANYAAN TERKAIT

© 2020 - Www.SalamDakwah.Com