SALWA RADIO - Menebar Salam, Menyebar Dakwah
Stay in touch with us:

Aqiqah Janin 21 Minggu dan Nisan Kuburannya?


Akhwat (Bintaro)
1 month ago on Ibadah

assalamualaikum maaf ustad saya mau tanya, apakah wajib hukumnya janin berusia 5 bulan meninggal dalam kandungan di aqiqahi ? dan bolehkah saya memasang batu nisan di makam anak saya ? mohon dijawab ustad .Terimakasih
Redaksi salamdakwah.com
1 month ago

 

 

وعليكم السلام ورحمة الله وبركاته

Kami ikut bersedih dengan musibah yang menimpa anda semoga Allah t'ala memberikan ganti yang lebih baik dan memberikan karunia sabar kepada anda dan keluarga.

Terkait mengaqiqahi janin yang berumur 5 bulan. Berikut ini kami terjemahkan fatwa Syaikh Muhammad bin Shaleh Al-Utsaimin Rahimahullah: Janin yang keguguran sebelum sempurna empat bulan berada di kandungan maka dia tidak diaqiqahi, tidak diberi nama, tidak dishalati dan boleh dikuburkan dimanapun.


Adapun setelah berumur empat Bulan dalam kandungan maka janin ini telah ditiupkan Ruh kepadanya, maka dia diberi nama, dimandikan dikafani, dishalati, dikuburkan di pekuburan kaum muslimin, dan diaqiqahi (pendapat kami)...karena dia akan dibangkitkan pada hari Kiamat dan menjadi pemberi syafa'at untuk orang tuanya. Majmu' Fatawa wa Rasail Al-Utsaimin 25/229

Ulama' yang duduk di Komite Tetap Riset Ilmiah dan Fatwa Arab Saudi juga pernah ditanya dengan pertanyaan semisal," Janin yang keguguran sudah diketahui jenis kelamin lelaki atau perempuan, apakah diakikahi atau tidak? Demikian pula bayi yang lahir kemudian meninggal setelah beberapa hari, sedangkan ia belum diakikahi selama hidupnya, apakah setelah meninggal diakikahi atau tidak? Apabila anak yang lahir telah berusia selama sebulan, dua bulan, setengah tahun, setahun atau sudah tumbuh besar dan belum diakikahi, apakah diakikahi atau tidak?

Mereka menjawab: Mayoritas ulama berpendapat bahwa hukum akikah itu sunah, berdasarkan hadis riwayat Ahmad, Bukhari dan para penulis Kitab Sunan, dari Salmān bin `Āmir dari Nabi Shallallahu `Alaihi wa Sallam, beliau bersabda, "

«مَعَ الغُلاَمِ عَقِيْقَةٌ فَأَهْرِيْقُوْا عَنْهُ دَمًا، وَأَمِيْطُوا عَنْهُ الأَذَى»

Bersama (kelahiran) anak (ada kewajiban) akikah, maka sembelihlah hewan untuknya, dan hilangkanlah kotoran dari badan anak,"dan hadis riwayat Hasan dari Samrah bahwa Nabi Shallallahu `Alaihi wa Sallam bersabda,

«كُلُّ غُلَامٍ رَهِيْنَةٌ بِعَقِيْقَتِهِ تُذْبَحُ عَنْهُ يَوْمَ سَابِعِهِ، وَيُحْلَقُ، وَيُسَمَّى»

 
"Setiap anak yang lahir itu tergadai dengan akikahnya, yang disembelih untuknya pada hari ketujuh (dari kelahirannya), dicukur rambutnya dan diberi nama.” (HR. Ahmad dan dan para penulis Kitab Sunan, dan Tirmidzī menghukuminya sahih).

Begitu juga hadis riwayat Amr bin Syu`aib, dari ayahnya, dari kakeknya, bahwa Nabi Shallallahu `Alaihi wa Sallam bersabda,


مَنْ أَحَبَّ مِنْكُمْ أَنْ يَنسكَ عَنْ وَلَدِهِ فَلْيَفْعَلْ، عَنِ الغُلَامِ شَاتَانِ مُكَافِئَتَانِ، وَعَنِ الجَارِيَةِ شَاةٌ

"Barangsiapa di antara kalian yang ingin mengakikahi anaknya maka lakukanlah, untuk anak laki-laki sebanyak dua ekor kambing dan untuk anak perempuan seekor kambing." (HR. Ahmad, Abū Dāwud dan Nasā'ī dengan sanad hasan).

Janin yang keguguran tidak perlu diakikahi, sekalipun sudah diketahui jenis kelamin lelaki atau perempuan apabila keguguran terjadi sebelum ditiupkan roh ke dalam tubuh janin; karena belum dinamakan sebagai anak dan bayi.

Akikah disembelih pada hari ketujuh setelah kelahiran. Jika janin lahir dalam kondisi hidup lalu mati sebelum hari ketujuh, maka dianjurkan untuk diakikahi pada hari ketujuh dan diberi nama. Namun jika telah melewati hari ketujuh dan masih belum diakikahi, beberapa ahli fikih berpendapat bahwa tidak dianjurkan untuk mengakikahinya setelah hari ketujuh; karena Nabi Shallallahu `Alaihi wa Sallam menentukan waktunya pada hari ketujuh. Mazhab Hanbalī dan sekelompok ulama berpendapat bahwa dianjurkan untuk diakikahi walaupun telah melewati waktu sebulan, setahun atau lebih dari waktu kelahirannya; sesuai hadis-hadis sahih dan sesuai hadis riwayat Baihaqī dari Anas radhiyallahu `anhu, bahwa Nabi Shallallahu `Alaihi wa Sallam mengakikahi dirinya sendiri setelah diutus menjadi Nabi. Pendapat inilah yang lebih berhati-hati.

Wabillāhittaufīq, wa Shallallāhu `alā Nabiyyinā Muhammad wa Ālihi wa Shahbihi wa Sallam.

Komite Tetap Riset Ilmiah dan Fatwa
Abdullāh bin Ghadyān selaku Anggota
Abdurrazzāq `Afīfī selau Wakil Ketua Komite
Abdul `Azīz bin Abdullāh bin Bāz selaku Ketua
Fatawa al-Lajnah ad-Daimah 11/446-447 Pertanyaan Ketiga dari Fatwa Nomor 1528 

Terkait memberi nisan saran kami cukuplah diberi seuatu yang menunjukkan bahwa itu adalah kuburan seperti dengan meletakkan batu di atasnya. Adapun nisan yang ada nama dan tanggal wafatnya serta tulisan lain maka kami sarankan itu tidak dilakukan demi melaksanakan sabda Nabi dan untuk keluar dari perbedaan pendapat di kalangan Ulama' dalam masalah ini. Ulama' yang duduk di Komite Tetap Riset Ilmiah dan Fatwa Arab Saudi dalam salah satu petikan fatwanya menerangkan," 

Haram hukumnya membuat tulisan di atas kuburan, baik itu berisi nama yang dikuburkan, tanggal wafatnya atau tulisan selain itu ini berdasarkan riwayat at-Tirmidzi dan an-Nasai bahwasanya Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam melarang membuat tulisan di atas kuburan

Al-Lajnah ad-Daimah li al-Buhuts al-Ilmiah wa al-Ifta
Abdullah bin Qu'ud selaku anggota
Abdurrazzaq Afifi selaku wakil ketua komite
Abdul Aziz bin Abdullah bin Baz selaku ketua
Fatawa al-Lajnah ad-Daimah 9/54-55 pertanyaan ketiga dari fatwa no.6639

Wallahu ta'ala a'lam

PERTANYAAN TERKAIT

© 2017 - Www.SalamDakwah.Com