SALWA RADIO - Menebar Salam, Menyebar Dakwah
Stay in touch with us:

Aborsi Usia 1 Bulan


Akhwat
3 years ago on Aqidah

Assalammu'alaikum ustadz, saya mau bertanya pertanyaan yang sudah umum, saya wanita berumur 22tahun dan sudah memiliki 1 orang anak berumur 13bulan, dan saat ini saya sedang hamil ustadz, saya berniat menjatuhkan kandungan saya mengingat anak pertama saya masih kecil sekali untuk punya adik lagi. Keputusan ini saya ambil berdasarkan kompromi dengan suami, dan saya juga takut karir saya terganggu karna kehamilan ini, karna anak pertama saya ibu saya yang menjaga dirumah sedangkan saya dan suami bekerja seharian, saya agak kewalahan kalau harus menjaga 2 bayi sekaligus ustadz, dan saya rasa saya tidak mampu, sekarang umur kehamilan saya hampir 1 bulan, bolehkah saya menggugurkan bayi ini ustadz? dan apa hukum nya dalam Islam, terimakasih sebelumnya ustadz
Redaksi salamdakwah.com
3 years ago

 

وعليكم السلام ورحمة الله وبركاته

Apabila yang menjadi dasar anda untuk menggugurkan kandungan hanyalah karena khawati karir anda akan berhenti karena fokus di anak dan akhirnya itu akan berimbas kepada perekonomian keluarga (baik itu yang sekarang atau di masa mendatang) maka dasar ini tidak bisa dijadikan alasan bolehnya menggugurkan kehamilan tersebut mengingat Allah ta'ala telah berfiman di surat al-An'am

{وَلَا تَقْتُلُوا أَوْلَادَكُمْ مِنْ إِمْلَاقٍ نَحْنُ نَرْزُقُكُمْ وَإِيَّاهُمْ }  

“Dan janganlah kalian membunuh anak-anak kalian karena kemiskinan.  Kami akan memberi rezeki kepada kalian dan kepada mereka.”

Allah ta'ala juga telah berfirman di surat al-isra' ayat 31


وَلَا تَقْتُلُوا أَوْلَادَكُمْ خَشْيَةَ إِمْلَاقٍ نَحْنُ نَرْزُقُهُمْ وَإِيَّاكُمْ إِنَّ قَتْلَهُمْ كَانَ خِطْئًا كَبِيرًا 


“Dan janganlah kalian membunuh anak-anak kalian karena takut miskin. Kami lah yang akan memberi rezeki kepada mereka dan juga kepada kalian. Sesungguhnya membunuh mereka adalah suatu dosa yang besar.”
 
Ibnu Katsir rahimahullah telah menerangkan: Dan Allah berfirman:

{ مِنْ إِمْلاقٍ }

“Karena kemiskinan”,

Abdullah bin Abbas radhiyallahu ‘anhuma, Qatadah dan As Siddy berkata: “Imlaq artinya adalah kefakiran” maksudnya yaitu: janganlah kalian membunuh mereka karena kefakiran kalian yang telah terjadi, dan Allah berfirman di dalam surat Al Isra’ ayat 31: “

{ وَلا تَقْتُلُوا أَوْلادَكُمْ خَشْيَةَ إِمْلاقٍ }

Janganlah kalian membunuh anak-anak kalian karena takut miskin”

Maksudnya adalah takut terjadi kefakiran di waktu yang akan datang, oleh sebab inilah disana (di dalam surat Al Isra’: 31) Allah berfirman: “

{ نَحْنُ نَرْزُقُهُمْ وَإِيَّاكُمْ }

Kami yang akan memberikan rezeki mereka dan kalian”

Allah memulai dengan penjaminan rezeki mereka untuk memperhatikan mereka, maksudnya adalah janganlah kalian takut kemiskinan gara-gara mereka, karena rezeki mereka di jamin oleh Allah. Adapun di dalam ayat ini, ketika sudah terjadi kefakiran, Allah berfirman: “

{ نَحْنُ نَرْزُقُكُمْ وَإِيَّاهُمْ }

Kami memberikan rezeki kepada kalian dan mereka,

Karena pada saat ini mereka (orangtua) lebih penting.” Tafsir Ibnu Katsir 3/362
  

Ulama' yang duduk di Komite Tetap Riset Ilmiah dan Fatwa Arab Saudi menerangkan," Komite Tetap Riset Ilmiah dan Fatwa telah mengkaji permohonan fatwa yang ditujukan kepada yang terhormat Mufti Umum dari yang terhormat kepala umum rumah sakit di Kementerian Kesehatan, yang diajukan kepada Komite Sekretariat Jenderal Dewan Ulama Senior dengan nomor (2768) dan tanggal 2 / 7 / 1415 H. Seorang penanya mengajukan pertanyaan sebagai berikut:
Merujuk pertanyaan sebagian Dinas Kesehatan di beberapa daerah yang diajukan kepada Kementrian Kesehatan tentang usia janin yang dianggap sudah meninggal, umur yang dianggap keguguran, serta tingkatannya karena persoalan tersebut masuk dalam masalah syariat dan undang-undang. Saya mengharapkan yang mulia memberikan fatwa syariat tentang umur janin ketika dalam masa kehamilan, dan tingkatan minimal dianggap keguguran, dan maksimal dianggap meninggal supaya kami bisa memberitahu Dinas-dinas Kesehatan untuk melakukan yang semestinya.
Setelah melakukan pengkajian (terhadap permasalahan yang diajukan) maka Komite menjawab sebagai berikut:


Pertama: Hukum Aborsi:
1 - Pada dasarnya menggugurkan kehamilan dalam berbagai macam tahapan-tahapannya tidak dibolehkan menurut syariat.

2 - Menggugurkan kehamilan pada fase pertama, yaitu masa empat puluh hari adalah tidak dibolehkan kecuali untuk menghindari mudarat yang akan terjadi atau mencapai maslahat secara syariat. Setiap kondisi dicek oleh para ahli secara medis dan syariat. Adapun menggugurkannya dalam masa tersebut karena kuatir kesulitan dalam mendidik anak-anak atau takut tidak mampu terhadap beban biaya hidup dan pendidikan, atau demi masa depan mereka, atau karena suami-isteri telah merasa cukup memiliki beberapa anak - maka yang demikian itu tidak dibolehkan.

3 - Tidak dibolehkan menggugurkan kehamilan jika sudah berbentuk `alaqah (segumpal darah) atau mudhghah (segumpal daging) sehingga lembaga medis yang terpercaya memutuskan bahwa membiarkannya dapat membahayakan keselamatan ibunya, yaitu dikuatirkan akan membahayakan ibunya jika dibiarkan. Apabila lembaga tersebut telah memutuskannya, maka boleh menggugurkannya setelah diupayakan seluruh sarana, karena untuk menghindari bahaya-bahaya tersebut.

4 - Setelah fase ketiga dan setelah sempurna empat bulan kehamilan tidak dihalalkan untuk menggugurkannya sehingga sejumlah para dokter ahli dan terpercaya memutuskan bahwa membiarkan janin di perut ibunya bisa menyebabkan kematiannya. Semua itu setelah diupayakan seluruh sarana untuk menyelamatkan kehidupan janin. Menggugurkan janin dengan syarat-syarat tersebut dibolehkan dengan tujuan mencegah mudarat yang lebih besar dan mendapatkan maslahat yang lebih besar.

Kedua: Hukum setelah menggugurkan kehamilan:
Hukumnya berbeda-beda menurut perbedaan masa keguguran pada setiap empat fasenya , sebagai berikut:

Hukum Pertama: Jika kehamilan gugur pada dua fase yang pertama, yaitu: fase nuthfah (sperma) yang bercampur dari dua tetesan air (sperma dan ovum, pent.), fase tersebut terjadi selama empat puluh hari pertama berupa menempelnya sperma pada rahim, dan fase 'alaqah (gumpalan darah), yaitu: fase yang merubahnya menjadi darah beku dalam masa empat puluh hari yang kedua sampai sempurna masa delapan puluh hari. Pada kondisi ini, tidak terdapat hukum atas kegugurannya pada fase nuthfah atau fase 'alaqah tanpa ada perbedaan pendapat. Seorang wanita tetap meneruskan puasa dan salatnya seperti tidak terjadi keguguran. Dia wajib berwudu di setiap waktu salat, jika terdapat darah seperti hukum istihadhah.

Hukum Kedua: Jika kehamilan gugur pada fase ketiga, yaitu: fase mudhghah yaitu: segumpal daging. Pada fase ini tampak bagian-bagian tubuh, gambaran, bentuk dan penampilannya yaitu pada masa empat puluh hari yang ketiga dari hari delapan puluh satu hari sampai sempurna seratus dua puluh hari. Ada dua kondisi, yaitu:

1 - Segumpal darah tersebut tidak memiliki bentuk seperti manusia secara lahir dan tersembunyi, dan juga tidak ada kesaksian para bidan bahwa hal itu merupakan permulaan manusia. Maka hukum gugurnya mudhghah tersebut disamakan dengan hukum keguguran pada dua fase yang pertama, dan tidak terdapat hukum atasnya.

2 - Mudhghah tersebut sudah berbentuk sempurna manusia atau bentuk lahir dari penciptaan manusia; baik itu berupa tangan maupun kaki dan semisalnya, atau bentuk tersembunyi, atau adanya kesaksian para bidan bahwa hal itu permulaan manusia, maka gugurnya mudhghah dalam fase ini sama dengan hukum nifas dan selesainya idah.

Hukum Ketiga: Jika kehamilan gugur pada fase keempat, yakni: setelah ditiupkan roh, yaitu dari awal bulan kelima dari berlangsungnya seratus dua puluh satu hari kehamilan dan sesudahnya. Ada dua kondisi, yaitu:

1 - Tidak kelihatan bentuknya, maka hukumnya adalah kondisi kedua dari mudhghah yang telah disebutkan. Dan ditambahkan, bahwa dia dimandikan, dikafani, disalatkan, diberikan nama dan akikah.

2 - Kelihatan bentuknya, maka hukumnya seperti hukum bayi sempurna, dan hukumnya seperti kondisi sebelumnya, dan ditambahkan di sini, yaitu bahwa dia memiliki harta yang berasal dari wasiat dan warisan, sehingga dia mewarisi dan mewariskan dan lain sebagainya.

Wabillahittaufiq, wa Shallallahu `Ala Nabiyyina Muhammad wa Alihi wa Shahbihi wa Sallam.

Komite Tetap Riset Ilmiah dan Fatwa
Bakar Abu Zaid selaku Anggota    
Abdul Aziz Alu asy-Syaikh selaku Anggota    
Shalih al-Fawzan selaku Anggota    
Abdullah bin Ghadyan selaku Anggota    
Abdul Aziz bin Abdullah bin Baz selaku Ketua

Fataawa al-Lajnah ad-daimah 21/434-438 fatwa no.17576

© 2020 - Www.SalamDakwah.Com