SALWA RADIO - Menebar Salam, Menyebar Dakwah
Stay in touch with us:

Ibu Melarang Menolong Adik


Akhwat (Bogor)
3 years ago on Keluarga

Assalamu'alaikum Wr Wb. Ibu kandung saya melarang saya menolong adik saya dengan alasan macam2 yang dimana alasan tersebut kebanyakan suudzon dan belum terbukti kebenarannya. Ibu saya ini sangat keras, beliau sangat banyak beribadah,puasa,ngaji. Tapi juga gampang berkata yang tidak enak/bisa menyakiti hati orang lain atau anaknya seperti menyebut adik saya dg sebutan seperti penipu,pemeras,dll. Saya udah coba ngomong dg Ibu saya dengan membawa ayat2 Al-Qur'an atau pun Hadist tapi sepertinya tidak berpengaruh malah beliau membilang saya pengikut aliran yg lain. Tolong sarannya apa yang harus saya lakukan dalam ini, saya tidak ingin ibadah Ibu saya nanti hilang di akhirat karena banyak menyakiti hati orang. Dan salahkah saya tetap menolong adik saya karena dengan hal ini berarti saya tidak turut kepada orang tua. Mohon sarannya,..Jazakallah khoiron.
Redaksi salamdakwah.com
3 years ago

 

وعليكم السلام ورحمة الله وبركاته

Selayaknya Anda bersabar dan tetap berusaha menasehati orang tua Anda yang telah melakukan penyimpangan terhadap aturan syariat, bila perlu mintalah bantuan kepada orang yang disegani olehnya untuk mengingatkannya akan kesalahan-kesalahan yang ia perbuat, dengan tidak melupakan do'a kepada Allah ta'ala supaya Dia memberinya hidayah serta petunjuk. Semoga dengan begini dia bisa sadar akan kesalahan-kesalahannya. 

 

Menolong saudara hukum asalnya adalah disyariatkan dan keumuman itu tidak berubah kecuali ada hal syar'i yang menafikannya misalnya adalah tolong-menolong dalam perkara yang batil, Apabila tidak ada alasan syar'i yang bisa dijadikan dasar untuk anda tidak menolong saudara anda maka anda tidak boleh melakukan perintah ibu anda itu, karena itu adalah ketaatan dalam kemungkaran. Syaikh Abdul Aziz bin Abdullah Alu Syaikh pernah ditanya tentang orang tua yang memerintahkan anaknya untuk melakukan isbal. Beliau menjawab:
Adapun mentaati kedua orang tua maka itu hukumnya wajib. Allah ta'ala telah menyandingkan hak keduanya dengan hak Dia dalam firman-Nya al-Isra':23:


(وَقَضَى رَبُّكَ أَلَّا تَعْبُدُوا إِلَّا إِيَّاهُ وَبِالْوَالِدَيْنِ إِحْسَانًا)


Dan Rabbmu telah memerintahkan supaya kalian jangan menyembah selain Dia dan hendaklah kalian berbuat baik pada ibu bapak kalian dengan sebaik-baiknya.

Meski demikian kedua orang tua tidak boleh ditaati dalam hal maksiat kepada Allah ta'ala. Mereka seperti makhluq lainnya, di mana tidak ada ketaatan untuk makhluq dalam dalam rangka bermaksiat kepada sang pencipta (Allah.pent). Seandainya keduanya memerintahkan anda untuk melakukan isbal maka janganlah ditaati, meski demikian anda harus tetap memenuhi hak keduanya:
- berbuat baik kepada mereka
- menjaga hubungan baik dengan keduanya
- berusaha menjadikan mereka ridho khususnya terkait isbal dengan ucapan yang baik, jelaskan kepada keduanya bahwa isbal adalah perkara yang dilarang berdasarkan nash hadits dari Nabi shallallahu alaihi wa sallam, jelaskan pula bahwa kewajiban kita semua adalah mengikuti sunnah Nabi shallallahu alaihi wa sallam, melaksanakan apa yang beliau perintahkan dan tidak melakukan apa yang dilarang serta bersikap dalam batasannya,

Saya doakan semoga Allah ta'ala membuka hati keduanya dan semoga Allah ta'ala memberi taufiq kepada semua orang dalam hal yang Dia cintai dan Dia ridhoi. http://www.mufti.af.org.sa/node/3020

Komite Tetap Riset Ilmiah dan Fatwa Arab Saudi pernah ditanya (berikut ini terjemahan kami):
Sesungguhnya ayah saya terkadang memerintahkan saya untuk melakukan perbuatan yang salah (sepengetahuan saya) seperti dia memerintahkan saya untuk memulangkan saudara-saudara saya dari madrasah supaya mereka bisa begadang sesuai keinginan dia. Bila ayah saya tidak shalat saya menasehati dia namun ketika itu dia duduk sambil mendoakan kebinasaaan atas diri saya, apajkah benar bahwa do'anya orang sakit tidak ada hijabnya (antara dia dengan Allah)? Apakah saya berdosa karena menggangu dia dengan nasehat tersebut?

Mereka menjawab:
Pertama taatlah kepada ayah anda dalam perkara yang ma'ruf dan bukan perkara yang mungkar.

Kedua: teruslah menasehatinya terkait masalah agama seperti shalat dan yang lainnya. Dengan begitu anda memperoleh pahala (biidznillah). Doanya yang buruk tidak akan membahayakan anda. Semoga Allah memberi manfaat dengan cara itu. Fatawa al-Lajnah ad-Daimah 25/185 pertanyaan kedua dari fatwa no.9452

 

Anda selayaknya tidak patah arang dalam menasehati ibu anda. Syaikh Sholeh al-Fauzan pernah ditanya:
Allah memerintahkan hambanya kaum mukminin untuk melaksanakan Amar makruf dan nahi munkar, apakah menasehati orang tua bila Salah seorang Dari mereka terjatuh dalam kesalahan termasuk kedurhakaan. Jawablah kami terkait hal itu. Semoga Allah memberkahi anda sekalian ?

Beliau menjawab:
Ya. Allah memerintahkan Amar makruf nahi mungkar sebisa mungkin. Nabi shallallahu alaihi wa sallam bersabda,"


«مَنْ رَأَى مِنْكُمْ مُنْكَرًا فَلْيُغَيِّرْهُ بِيَدِهِ، فَإِنْ لَمْ يَسْتَطِعْ فَبِلِسَانِهِ، فَإِنْ لَمْ يَسْتَطِعْ فَبِقَلْبِهِ، وَذَلِكَ أَضْعَفُ الإِيْمَانِ»


"Barang siapa di antara kalian yang melihat kemungkaran maka hendaknya dia mengubahnya dengan tangannya. Jika tidak mampu maka hendaknya dia ubah dengan lisannya. Jika tidak mampu maka hendaknya dia ubah dengan hatinya dan itulah iman yang paling lemah” HR. Muslim no. 49 dan yang lainnya

Dan dalam riwayat lain


(( وَلَيْسَ وَرَاءَ ذلِكَ مِنَ اْلإِيْمَانِ حَبَّةُ خَرْدَلٍ ))


“Dan tidak ada sesudahnya sebiji sawi pun dari iman.” (HR. Muslim, Kitab Al-Iman, Bab Bayanu Kurhin Nahyi Anil Mungkar).

Kedua orang tua dan selainnya hukumnya sama dalam masalah ini. Mereka wajib diingkari bila mereka melaksanakan maksiat, dan mereka selayaknya diberi nasehat kala itu, ini adalah termasuk bentuk berbakti yang paling utama. Ini bukanlah termasuk kedurhakaan sebagaimana yang disangka oleh penanya, bahkan ini adalah termasuk bakti kepada keduanya, sebab anda ingin keduanya selamat serta berlepas diri dari neraka

Anda menndengar firman Allah ta'ala terkait Nabi Ibrahim kekasih Allah, dia memulai dengan menasehati ayahnya(Maryam 42-45):


إِذْ قَالَ لِأَبِيهِ يَاأَبَتِ لِمَ تَعْبُدُ مَا لَا يَسْمَعُ وَلَا يُبْصِرُ وَلَا يُغْنِي عَنْكَ شَيْئًا
يَاأَبَتِ إِنِّي قَدْ جَاءَنِي مِنَ الْعِلْمِ مَا لَمْ يَأْتِكَ فَاتَّبِعْنِي أَهْدِكَ صِرَاطًا سَوِيًّا
يَاأَبَتِ لَا تَعْبُدِ الشَّيْطَانَ إِنَّ الشَّيْطَانَ كَانَ لِلرَّحْمَنِ عَصِيًّا
يَاأَبَتِ إِنِّي أَخَافُ أَنْ يَمَسَّكَ عَذَابٌ مِنَ الرَّحْمَنِ فَتَكُونَ لِلشَّيْطَانِ وَلِيًّا


42. Ingatlah ketika ia berkata kepada bapaknya; "Wahai bapakku, mengapa kamu menyembah sesuatu yang tidak mendengar, tidak melihat dan tidak dapat mencukupi kamu sedikitpun?
43. Wahai bapakku, Sesungguhnya telah datang kepadaku sebahagian ilmu pengetahuan yang tidak datang kepadamu, Maka ikutilah Aku, niscaya aku akan menunjukkan kepadamu jalan yang lurus.
44. Wahai bapakku, janganlah kamu menyembah syaitan. Sesungguhnya syaitan itu durhaka kepada Tuhan yang Maha Pengasih.
45. Wahai bapakku, Sesungguhnya aku khawatir kamu akan ditimpa adzab dari Tuhan yang Maha pengasih, Maka kamu menjadi kawan bagi syaitan".

Ini Nabi Ibrahim kekasih Allah ta'ala, beliau menasehati ayahnya, mendakwahinya ke jalan Allah ta'ala dan berusaha menyelamatkannya dari neraka, ini menunjukkan bahwasanya menasehati para orang tua termasuk kewajiban yang paling ditekankan, dan seseorang memulai dengan mendakwahi mereka sebelum mendakwahi orang lain. Ini termasuk berbakti dan bakti yang paling agung bagi keduanya. Namun dakwah itu harus dengan hikmah (ilmu. Lih. Fatawa al-Lajnah ad-Daimah 12/245 no.16024.pent), mauidhah hasanah (memperingatkan dengan dalil yang menyemangati dan mengandung ancaman.pent), perkataan yang lembut, cara yang baik, dakwahnya juga harus dakwah yang paling halus, semoga Allah memberi mereka berdua hidayah. Majmu' Fatawa Fadhilatu asy-Syaikh Shaleh al-Fauzan 2/587-588

Syaikh Ibnu Baz rahimahullah pernah ditanya (berikut terjemahan kami):
Ayah saya tidak melaksanakan shalat, apakah saya wajib mendakwahinya dan memerintahkannya untuk melaksanakan shalat. Beberapa orang memberitahu saya bahwa saya bertanggung jawab terkait ayah saya kelak di hari kiamat dan dihadapan Allah...?

Beliau menjawab:
Anda wajib mendakwahinya ke jalan Allah ta'ala serta wajib menasehatinya dengan metode yang bagus, dengan kelembutan dan bahasa yang indah sebagaimana Alah jalla wa ala berfirman:


أَنِ اشْكُرْ لِي وَلِوَالِدَيْكَ إِلَيَّ الْمَصِيرُ


Bersyukurlah kepada-Ku dan kepada dua orang ibu bapakmu, hanya kepada-Kulah kembalimu (Luqman:14)

Apabila orang tua (dua orang tua yang musyrik) memaksa anaknya berbuat syirik maka


وَإِنْ جَاهَدَاكَ عَلى أَنْ تُشْرِكَ بِي مَا لَيْسَ لَكَ بِهِ عِلْمٌ فَلاَ تُطِعْهُمَا وَصَاحِبْهُمَا فِي الدُّنْيَا مَعْرُوفًا


Dan jika keduanya memaksamu untuk mempersekutukan dengan aku sesuatu yang tidak ada pengetahuanmu tentang itu, Maka janganlah kamu mengikuti keduanya, dan pergaulilah keduanya di dunia dengan baik (Luqman:15)

Allah subhanahu wa ta'ala memerintahkannya untuk mempergauli kedua orang tuanya yang kafir di dunia dengan baik. Anda wajib mempergauli mereka dengan baik, dengan cara menasehati dan mengarahkan dan dengan kelembutan. Anda bisa meminta bantuan saudara-saudara yang baik (Dari kalangan kerabat, saudara dan paman-pamannya) supaya mereka juga menasehatinya. Semoga Allah memberinya hidayah melalui kalian, Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda:


مَنْ دَلَّ عَلىَ خَيْرٍ فَلَهُ مِثْلُ أَجْرِ فَاعِلِهِ


Barang siapa menunjukkan kepada kebaikan maka ia mendapatkan pahala seperti pahala orang yang melakukan kebaikan itu.

Dan Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda kepada Ali radhiyallahu anhu:


لَأَنْ يَهْدِيَ اللَّهُ بِكَ رَجُلًا وَاحِدًا خَيْرٌ لَكَ مِنْ أَنْ يَكُونَ لَكَ حُمْرُ النَّعَمِ


sungguh petunjuk Allah yang diberikan kepada seseorang melalui perantaraanmu, adalah lebih baik bagimu daripada kamu memperoleh unta merah (nikmat yang besar)

Berusahalah dengan keras dan bersungguh-sungguhlah terhadap Allah. Berdoalah kepada Rabb anda semoga Allah memberinya hidayah. Doakanlah dia kala sujud, di akhir shalat dan di waktu-waktu lainnya. Mintalah kepada Allah supaya Dia memberinya hidayah, supaya Dia melapangkan hatinya untuk kebenaran dan membantunya untuk menerima kebenaran. Berusahalah sekuat tenaga untuk itu. Bersabarlah dan kuatkanlah kesabaran...

Silahkan menyimak audio tanya jawab beliau dalam bahasa Arab di
http://www.alandals.org/gets.php?fid=36&id=8133&pid=150504

 

 

PERTANYAAN TERKAIT

© 2020 - Www.SalamDakwah.Com