SALWA RADIO - Menebar Salam, Menyebar Dakwah
Stay in touch with us:

Istri Berzina


Ikhwan (bandung )
3 years ago on Keluarga

Assalamualaikum wr. Wb. Saya mau bertanya boleh kah istri kita ceraikan dan langsung kita nikahkan dengan lelaki lain karena mereka telah melakukan zinah.. Soalnya sampai sekarang saya belum bisa menerima kejadian ini.. Terima kasih
Redaksi salamdakwah.com
3 years ago

 

وعليكم السلام ورحمة الله وبركاته

 

Apabila seorang istri terbukti atau mengaku melakukan perzinahan dan tidak bertaubat dari zina sedangkan si suami tidak bisa menjaga istrinya itu supaya tidak mendekati zina  maka seharusnya si suami mentalaknya supaya dia tidak menjadi seorang dayyuts. Silahkan melihat pengertian dayyuts di link berikut http://www.salamdakwah.com/pertanyaan/1744-dayyus

Di sisi lain ada arahan Nabi shallallahu alaihi wa sallam untuk wanita yang tidak menjaga dirinya, dalam salah satu hadits Nabi shallallahu alaihi wa sallam disebutkan


جَاءَ رَجُلٌ إِلَى النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَ: إِنَّ امْرَأَتِي لَا تَمْنَعُ يَدَ لَامِسٍ قَالَ: «غَرِّبْهَا» قَالَ: أَخَافُ أَنْ تَتْبَعَهَا نَفْسِي، قَالَ: «فَاسْتَمْتِعْ بِهَا


Seorang laki-laki datang menghadap Nabi dan berkata: Istri saya tidak menolak menolak sentuhan tangan lelaki lain. Nabi menjawab: asingkanlah dia (ceraikan.pent). Laki-laki itu berkata: Saya khawatir diri saya masih sayang. Nabi berkata: Kalau begitu, bersenang-senanglah dengannya (pertahankan). Hadits riwayat (HR) Abu Daud no.2049; an-Nasai no.3229 dan yang lainnya

Dalam riwayat Syafi'i disebutkan,"


أَتَى رَجُلٌ إِلَى رَسُولِ الله صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَ: يَا رَسُولَ الله، إِنَّ لِيَ امْرَأَةٌ لَا تُرَدُّ يَدَ لَامِسٍ، فَقَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: «فَطَلِّقْهَا» . قَالَ: إِنِّي أُحِبُّهَا، قَالَ: «فَأَمْسِكْهَا إِذًا»


Seorang laki-laki datang menghadap Rasul shallallahu alaihi wa sallam dan berkata: Istri saya tidak menolak sentuhan tangan lelaki lain. Nabi menjawab: ceraikan dia. Laki-laki itu berkata: Tapi saya mencintainya. Nabi berkata: Kalau begitu, pertahankan.

Syaikh Ali al-Qari menerangkan perihal riwayat tersebut,"
(Istri saya tidak menolak sentuhan tangan lelaki lain) Dia tidak menjaga dirinya dari orang yang ingin berbuat kekejian dengannya
(Nabi shallallahu alaihi wa sallam berkata," talaklah dia" Dia berkata," saya mencintainya. Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda,"kalau begitu pertahankan") maksudnya jagalah dia supaya dia tidak berbuat kekejian. Hadits ini menunjukkan bahwa mentalak perempuan semacam ini lebih utama sebab Nabi shallallahu alaihi wa allam mendahulukan opsi mentalak dari mempertahankan. Bila susah untuk mentalaknya misalnya karena mencintainya atau memperoleh anak darinya yang susah terpisah dari ibunya, atau si suami punya hutang kepada istri tersebut dan belum mampu melunasinya, bila demikian boleh baginya untuk tidak mentalaknya namun dengan syarat dia bisa menjaga istrinya dari perbuatan keji, bila dia tidak mampu menjaganya dari perbuatan keji maka dia telah berbuat maksiat dengan tidak mentalaknya. Mirqat al-Mafatih Syarh Misykat al-Mashabih 5/2171 

Ash-Shan'ani  memiliki  pandangan berbeda dengan keterangan syaikh Ali al-Qari di atas, setelah membawakan hadits di atas ash-Shan'ani menerangkan perbedaan pendapat di kalangan Ulama' terkait makna la taruddu yada lamis. Beliau menyebutkan pendapat pertama menerangkan bahwa istri tersebut tidak menjaga dirinya dari laki-laki lain yang ingin berzina dengannya, kemudian beliau mengatakan, "adapun pendapat pertama maka itu sangat jauh bahkan tidak benar ini berdasarkan ayat ( surat an-Nur  ayat 3) dan tidak mungkin Nabi shallallahu alaihi wa sallam memerintahkan seseorang untuk menjadi Dayyuts...Pendapat yang terdekat adalah maksud hadits itu: istri itu adalah wanita yang gampangan, dia tidak punya sifat ingin menjauh dan rasa malu dari orang luar (laki-laki). Subulussalam 2/284

Ibnu Quddamah menerangkan keadaan suami dalam hal talak: keempat:(Talak hukumnya) Mandub/dianjurkan bila suami mendapati istrinya lalai dalam hak Allah yang wajib dilaksanakan oleh istrinya seperti shalat dan semacamnya sedangkan suami tidak memungkinkan untuk memaksanya. Atau istrinya adalah seorang wanita yang tidak menjaga kehormatannya. Imam Ahmad menerangkan," tidak layak untuk tetap mempertahankannya sebagai istri sebab itu menjadi pengurang agamanya dan istri itu bisa jadi merusak kehormatan tempat tidurnya (dengan melakukan zina) kemudian istri itu menasabkan kepadanya anak yang buka darah dagingnya. Al-Mughni 7/364

Oleh karena itu anda cukup mencerainya dan tidak perlu menikahkan istri anda dengan laki-laki jahat yang merusak rumah tangga anda, mengingat itu adalah urusan mereka sendiri. yang penting bagi anda adalah berlepas diri dari wanita yang tidak baik. Ini semua bila memang benar terbukti bahwa istri anda melakukan perzinahan atau dia mengakuinya dalam keadaan ucapannya bisa dipertanggungjawabkan.

Wallahu ta'ala a'lam  

 

PERTANYAAN TERKAIT

© 2020 - Www.SalamDakwah.Com