SALWA RADIO - Menebar Salam, Menyebar Dakwah
Stay in touch with us:

Berbalik Saat Perang?Mati Syahid?Mempertahankan Daerah Termasuk Jihad Yang Bila Mati Termasuk Syahid?Derajat JIhad?


Ikhwan (Bekasi)
2 years ago on Aqidah

Assalamualaikum Ustadz apakah seseorang tidak boleh kabul dari medan perang? Apa arti Mati Syahid Apakah mempertahan daerahnya dari musuh termasuk jihad? Apakah amalan paling besar jihad?
Redaksi salamdakwah.com
2 years ago

 

وعليكم السلام ورحمة الله وبركاته

 

Jawaban pertanyaan pertama

Lari dari medan perang termasuk (dosa besar) kecuali pada beberapa keadaan. Dalam salah satu riwayat shahih disebutkan:

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ، عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: «اجْتَنِبُوا السَّبْعَ المُوبِقَاتِ» ، قَالُوا: يَا رَسُولَ اللَّهِ وَمَا هُنَّ؟ قَالَ: الشِّرْكُ بِاللَّهِ، وَالسِّحْرُ، وَقَتْلُ النَّفْسِ الَّتِي حَرَّمَ اللَّهُ إِلَّا بِالحَقِّ، وَأَكْلُ الرِّبَا، وَأَكْلُ مَالِ اليَتِيمِ، وَالتَّوَلِّي يَوْمَ الزَّحْفِ، وَقَذْفُ المُحْصَنَاتِ المُؤْمِنَاتِ الغَافِلاَتِ

Dari Abu Hurairah radhiyalahu anhu dari Nabi shallallahu alaihi wa sallam beliau bersabda," Jauhilah tujuh perkara yang membawa kehancuran !, para sahabat bertanya : Apakah ketujuh perkara itu wahai Rasulullah ?, beliau menjawab : yaitu menyekutukan Allah, melakukan sihir, membunuh jiwa yang diharamkan oleh Allah kecuali dengan sebab yang dibenarkan oleh agama, memakan riba, memakan harta anak yatim, membelot dari peperangan, menuduh zina terhadap wanita yang kehormatannya terjaga, tidak memikirkan untuk melakukan dosa, lagi beriman kepada Allah [HR Bukhori no.2766 dan Muslim no.89 dan yang lainnya]
Syaikh Muhammad bin Sholih al-Utsaimin berkata : lari dari medan temasuk dosa besar karena ia merupakan sikap berpaling dari jihad fi sabilillah, menjatuhkan mental umat islam, menguatkan musuh Alloh yang kesemuanya berakibat pada kekalahan umat islam.


Namun hadits ini dikhususkan oleh firman Allah ta'ala [di surat al anfal :15-16] 

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا إِذَا لَقِيتُمُ الَّذِينَ كَفَرُوا زَحْفًا فَلَا تُوَلُّوهُمُ الْأَدْبَارَ وَمَنْ يُوَلِّهِمْ يَوْمَئِذٍ دُبُرَهُ إِلَّا مُتَحَرِّفًا لِقِتَالٍ أَوْ مُتَحَيِّزًا إِلَى فِئَةٍ فَقَدْ بَاءَ بِغَضَبٍ مِنَ اللَّهِ وَمَأْوَاهُ جَهَنَّمُ وَبِئْسَ الْمَصِيرُ

15. Hai orang-orang yang beriman, apabila kalian bertemu dengan orang-orang yang kafir yang sedang menyerangmu, Maka janganlah kalian membelakangi mereka (mundur).


16. Barangsiapa yang membelakangi mereka (mundur) di waktu itu, kecuali berbelok untuk (sisat) perang atau hendak menggabungkan diri dengan pasukan yang lain, Maka Sesungguhnya orang itu kembali dengan membawa kemurkaan dari Allah, dan tempatnya ialah neraka Jahannam. dan Amat buruklah tempat kembalinya. 
Majmu' Fatawa wa Rasail al-Utsaimin 9/504

 

Jawaban pertanyaan kedua:

Ulama' yang duduk di Komite Tetap Riset Ilmiah dan Fatwa Arab Saudi pernah ditanya," Siapakah para syuhada itu? Berapa jumlahnya di dalam hadis? Apakah orang yang terkena epilepsi termasuk syahid? Sebagaimana diceritakan dalam sebuah hadis bahwa seorang wanita meminta kepada Rasulullah Shallallahu 'Alaihi wa Sallam agar mendoakannya sembuh dari epilepsi, karena jika penyakit epilepsinya kambuh, dia sering membuka bajunya. Apakah ini umum untuk seluruh umat Muhammad, atau khusus bagi wanita tersebut?


Mereka menjawab,"  Syahid yang hakiki adalah orang yang meninggal dunia ketika berperang di jalan Allah, atau terluka karena berperang hingga akhirnya meninggal dunia.

Beberapa kematian yang tidak disebabkan oleh perang juga dinamakan "mati syahid". Ini berdasarkan hadis yang diriwayatkan oleh Bukhari dari Abu Hurairah radhiyallahu `anhu, bahwa Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wa Sallam bersabda, "

الشهداء خمسة: المطعون والمبطون والغرق وصاحب الهدم والشهيد في سبيل الله

Orang-orang yang mati syahid itu ada lima macam:

(1) orang yang meninggal karena wabah penyakit tha'un,

(2) orang yang meninggal karena sakit perut,

(3) orang yang meninggal karena tenggelam,

(4) orang yang meninggal karena tertimpa reruntuhan (benturan),

(5) orang yang meninggal saat berjihad di jalan Allah."

Bukhari telah menulis penjelasan mengenai para syuhada. Dalam kitabnya, beliau menulis judul "Bab: Mati Syahid Ada Tujuh Macam Selain Terbunuh (dalam Perang)". Pada bab itu disebutkan beberapa orang yang dikategorikan syahid, yaitu dalam hadis yang diriwayatkan oleh Malik dari Jabir bin `Atik, bahwa Nabi Shallallahu 'Alaihi wa Sallam datang menjenguk Abdullah bin Tsabit... dan seterusnya.

Di dalam hadis tersebut disebutkan, "

«ما تعدون الشهيد فيكم؟ قالوا: من يقتل في سبيل الله»

... Di antara kalian, siapa yang disebut sebagai orang yang mati syahid?"

Para shahabat menjawab, "Orang yang terbunuh di jalan Allah."

Di dalam hadis itu juga disebutkan, "

الشهداء سبعة سوى القتل في سبيل الله ، فذكر- زيادة على ما في حديث أبي هريرة السابق-: الحريق وصاحب ذات الجنب والمرأة تموت بجمع 

Orang yang mati syahid selain karena terbunuh di jalan Allah ada tujuh macam."

Dia juga menyebutkan tambahan redaksi dari hadis Abu Hurairah sebelumnya, "(Mereka yang masuk kategori syahid adalah) orang yang meninggal karena terbakar, meninggal karena penyakit radang selaput dada, dan wanita yang meninggal bersama janin dalam kandungan.."

Para penyusun kitab Sunan meriwayatkan hadis, yang dipandang sahih oleh Tirmidzi dari Said bin Zaid dengan sanad marfu`, "

من قتل دون ماله فهو شهيد، ومن قتل دون دينه فهو شهيد، ومن قتل دون دمه فهو شهيد، ومن قتل دون أهله فهو شهيد 

Orang yang terbunuh karena membela hartanya, maka dia syahid. Orang yang terbunuh karena membela agamanya, maka dia syahid. Orang yang terbunuh karena mempertahankan nyawanya, maka dia syahid. Orang yang terbunuh karena membela keluarganya, maka dia syahid."

Diriwayatkan oleh Nasa'i dari Suwaid bin Muqarrin dengan sanad marfu', "

«من قتل دون مظلمته فهو شهيد »

Orang yang terbunuh karena menuntut keadilan atas kezaliman yang dilakukan terhadap dirinya, maka dia syahid."

Secara global, Nabi Shallallahu 'Alaihi wa Sallam tidak bermaksud membatasi. Ibnu Hajar menjelaskan di dalam kitab Fathul Bari, "Ada dua puluh macam hadis yang kami kumpulkan mengenai hal ini, dan semuanya memiliki sanad yang valid."

Mengenai hadis yang bercerita tentang wanita epilepsi tersebut, tidak ada dalil yang menyebutkan bahwa itu hanya khusus berlaku bagi dirinya. Dengan begitu, tentunya orang-orang yang terkena epilepsi seperti wanita tersebut memperoleh kesabaran dan berharap diberikan balasan dari Allah hingga dia meninggal dunia dengan kondisi seperti itu. Selain golongan syuhada yang telah kami sebutkan, kami tidak mengetahui dalilnya.


Wabillahittaufiq, wa Shallallahu `ala Nabiyyina Muhammad wa Alihi wa Shahbihi wa Sallam.

Fatwa ini ditandatangani oleh:

Abdullah bin Qu'ud selaku  Anggota

Abdurrazzaq `Afifi selaku Wakil Ketua Komite

Abdul Aziz bin Abdullah bin Baz selaku Ketua

Fatawa al-Lajnah ad-Daimah 12/19-20. Pertanyaan Kedua dari Fatwa Nomor:6564

 

Jawaban pertanyaan ketiga:

Syaikh Utsaimin rahimahullah ta'ala pernah ditanya dengan pertanyaan yang mirip," Apa hukum bela negara?

Beliau menjawab," Bela negara terbagi menjadi dua:

Pertama: Membela negara hanya karena itu negaranya maka ini tidak termasuk fi sabilillah Azza wa Jalla. Orang Muslim dan non Muslim sama derajatnya, mengingat orang kafir juga membela negaranya


Kedua: Membela negara karena itu adalah negara Islam, dengan begitu pembelaannya termasuk jihad fi sabilillah azza wa jalla mengingat ia berperang demi membela Islam dan didasari kekhawatiran orang non muslim akan menguasai negerinya kemudian merubah gaya kehidupan negara Islam. Oleh karena itu siapa yang berperang dalam rangka mempertahankan Islam yang merupakan agama negaranya maka dia statusnya adalah mujahid fi sabilillah azza wa jalla. Majmu' Fatawa wa Rasail al-Utsaimin 25/310-311

 

Jawaban pertanyaan keempat

Rasul shallallahu alaihi wa sallam bersabda kepada Muadz bin Jabal radhiyallahu anhu


«رَأْسُ الأَمْرِ الإِسْلَامُ، وَعَمُودُهُ الصَّلَاةُ، وَذِرْوَةُ سَنَامِهِ الجِهَادُ»

"Pokok dari seluruh perkara adalah Islam, dan tiangnya adalah salat, dan puncak tertinggi dari segala urusan tersebut adalah jihad di jalan Allah."HR. Tirmidzi no.2616; Ibnu Majah no.3973 dan yang lainnya

PERTANYAAN TERKAIT

© 2020 - Www.SalamDakwah.Com