SALWA RADIO - Menebar Salam, Menyebar Dakwah
Stay in touch with us:

Antara Hutang dan Nafkah


Akhwat (Garut)
3 years ago on Keluarga

Assalamualaikum ustadz . saya perempuan berusia 22 tahun .saya menikah dengan suami saya baru 10 bulan . saya ingin bertanya bagai mana caranya berdiskusi bersama suami mengenai nafkah lahir .setiap saya berbicara tentang uang suami saya tidak suka .suami saya tidak mau kalau saya tau berapa pendapatan suami . Dan suami saya tidak memikirkan untuk kebutuhan makan sehari hari . Memang ada sebab nya .gara gara kami mempunyai cicilan hutang ke bank yang lumayan buat kami . Dan suami saya tidak mau tau untuk urusan dapur . Dia hanya memikirkan hutang nya saja .tanpa memikirkan yang lain.bahkan setiap hari nya untuk makan kami .masih dari orang tua saya . Apa yang harus saya lakukan jika seperti ini . ??Mohon bantuan nya ..
Redaksi salamdakwah.com
3 years ago

 

 

وعليكم السلام ورحمة الله وبركاته

 

Perlu difahami bahwa membayar hutang hukumnya wajib (terlebih bila itu hutang ribawi harus segera diselesaikan)  dan menafkahi istri juga wajib hukumnya, tidak  boleh seseorang sengaja meninggalkan salah satu dikarenakan yang lain. Terkait menafkahi istri Allah ta’ala berfirman dalam surat Ath-Tholaq:7 

 

لِيُنْفِقْ ذُو سَعَةٍ مِنْ سَعَتِهِ وَمَنْ قُدِرَ عَلَيْهِ رِزْقُهُ فَلْيُنْفِقْ مِمَّا آتَاهُ اللَّهُ 

 

Hendaklah orang yang mampu memberi nafkah menurut kemampuannya. dan orang yang disempitkan rezkinya hendaklah memberi nafkah dari harta yang diberikan Allah kepadanya.. 

 

Apabila seseorang lalai dalam mencukupi kebutuhan orang yang berada di bawah tanggungannya maka ia telah berdosa. Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda:

 

كَفَى بِالْمَرْءِ إِثْمًا أَنْ يَحْبِسَ، عَمَّنْ يَمْلِكُ قُوتَهُ

 

Cukuplah seseorang itu dikatakan berdosa bila dia menahan makan budaknya. HR. Muslim no.996  

 

Dalam riwayat lain disebutkan

Cukuplah seseorang itu dikatakan berdosa bila dia menyia-nyiakan orang yang menjadi tanggungannya. HR. Abu Daud no.1692  dan yang lainnya

 Termasuk perbuatan dosa berdasarkan hadits di atas adalah seorang suami yang tidak memberikan nafkah kepada orang yang berada dibawah tanggungannya seperti istri dan anak-anaknya. 

Al-Imam ash-Shan'ani menerangkan," yang mereka beri nafkah adalah dan berhak atas nafkah itu adalah orang yang wajib diberi infak yakni istri-istri mereka, anak-anak mereka dan budak-budak mereka. Subulussalam 2/323 

Cobalah anda menjalin komunikasi yang baik dengan suami dan cobalah untuk introspeksi diri, mungkin ada kesalahan diri yang menjadikan suami berbuat demikian. Apabila memang benar suami anda yang menjadi sumber masalah anda juga bisa meminta bantuan orang lain untuk menasehatinya bila nasehat anda tidak digubris olehnya. Semoga Allah ta'ala kembali menyatukan keluarga anda dan mengkaruniakan keharmonisan keluarga dalam naungan syariat Islam. Untuk teknis mendakwahi suami silahkan membuka link berikut ini http://www.salamdakwah.com/pertanyaan/5039-menasehati-suami  

 

والله تعالى أعلم بالحق والصواب

© 2020 - Www.SalamDakwah.Com