SALWA RADIO - Menebar Salam, Menyebar Dakwah
Stay in touch with us:

Keluarga Istri Yang Mengompori Terjadinya Perceraian


Ikhwan (Surabaya)
3 years ago on Keluarga

Assalamualaikum ustadz.... Istri saya sudah hampir 1bulan tidak pulang kerumah kerana telah lari kerumah orang tuanya. Saya memujuknya untuk pulang tidak mahu. Ceritanya begini.. Sebelum istri saya kluar rumah, saya selama 2hari telah mendiamkan diri tanpa menegur sapa istri saya dan juga saya ada juga membanting barang kerana saya marah kerana istri selalu keluar rumah dan seperti mengabaikan saya kerana pabila sya pulang kerumah tiada makanan untuk saya. Tapi walaupun saya mendiamkan diri apabila saya keluar rumah atas urusan kerja dan dalam perjalanan pulang saya ada bertanya pada istri saya dirumah sama ada mahu dibelikan apa2 makanan. Pada keesokannya juga saya masih mendiamkan diri dan kluar bekerja tanpa menghiraukan istri saya. Pada hari itu isteri keluar rumah dan kerumah keluarganya. Sya ada pergi kerumah orang tuanya dan memujuk istri untuk pulang tapi istri enggan pulang kerana sudah tidak tahan hidup bersama saya kerana sikap saya yang suka banting barang. Setelah beberapa hari istri tidak pulang kerumah, istri mengatakan ingin menuntut cerai, dan ibunya seperti mendesak istri saya untuk bercerai dengan saya dan ibunya juga yang akan membantu untuk proses menuntut cerai.. Saya ada meminta ibunya untuk saya bertemu dengan isteri saya untuk membincangkan hal ini berdua bersama isteri saya tapi ibunya menghalang..  Sepertinya ibunya sudah ikut campur urusan rumah tangga saya, dan membuatkan masalah menjadi lebih besar. Sedangkan nafkah untuk isteri dan tempat tinggal yang lengkap sudah saya penuhi.Saya juga tidak memukul istri saya.  Saya tidak menyangka istri saya berubah begitu dan ingin menuntut cerai sedangkan sebelum ini istri saya tidak begitu walaupun ada kalanya kami bertengkar. Saya masih sayang rumahtangga saya dan sayangkan anak. Istri saya juga sedang hamil..  Saya sangat kwatir dengan keadaan istri saya yang sedang hamil jika istri berjauhan dengan saya.. Saya bingung ustadz.. saya harus gimana.. Saya berharap ada saran dari ustadz saya harus gimana sekarang... setiap hari saya berdoa supaya istri dilembutkan hatinya... Saya berharap saran dari ustadz.... Terima Kasih ustadz...
Redaksi salamdakwah.com
3 years ago

 

وعليكم السلام ورحمة الله وبركاته

الحمد لله والصلاة والسلام على رسول الله وعلى آله وصحبه ومن والاه ولا حول ولا قوة إلا بالله

 

Apabila apa yang anda ceritakan di pertanyaan merupakan fakta maka kami merasa sungguh sedih dan ikut prihatin atas masalah yang menimpa anda. Berikut ini beberapa hal yang bisa anda perbuat:

Pertama:

Banyak berdoa kepada Allah ta'ala semoga Allah ta'ala segera memberikan jalan keluar terbaik untuk keluarga anda, disertai usaha supaya penghalang terkabulnya doa disingkirkan.

Kedua:

Meningkatkan ketakwaan kepada Allah ta'ala. Allah telah berfirman (ath-Thalaq ayat 2)


وَمَنْ يَتَّقِ الله يَجْعَلْ لَهُ مَخْرَجًا


Dan barangsiapa bertakwa kepada Allah niscaya Allah akan memberinya jalan keluar

Allah ta'ala juga berfirman ( ath-Thalaq ayat 4)


وَمَنْ يَتَّقِ الله يَجْعَلْ لَهُ مِنْ أَمْرِهِ يُسْرًا


Dan barangsiapa bertakwa kepada Allah niscaya Allah akan memudahkan urusannya.

Ketiga:

Berusaha menyampaikan maklumat penting yang berisi nasehat berikut ke istri

- Tidak layak seorang wanita keluar rumah tanpa izin suaminya, Ada pertanyaan yang ditujukan kepada Ulama' yang duduk di Komite Tetap iset Ilmiah dan Fatwa Arab Saudi,"Apa hukum istri yang pergi ke pasar tanpa izin suaminya?"

Mereka menjawab,"Apabila seorang istri ingin keluar rumah, maka dia harus memberitahu suaminya tempat yang akan dia tuju. Suami boleh mengizinkannya untuk pergi ke tempat yang tidak berdampak negatif baginya, karena suami lebih memahami maslahat istrinya. Ini juga berdasarkan makna umum dari firman Allah Ta'ala (al-Baqarah:228),


{وَلَهُنَّ مِثْلُ الَّذِي عَلَيْهِنَّ بِالْمَعْرُوفِ وَلِلرِّجَالِ عَلَيْهِنَّ دَرَجَةٌ}

dan para wanita mempunyai hak yang seimbang dengan kewajibannya menurut cara yang makruf. Akan tetapi para suami mempunyai satu tingkatan kelebihan daripada isterinya.

Allah juga berfirman (an-Nisa:34),



{الرِّجَالُ قَوَّامُونَ عَلَى النِّسَاءِ بِمَا فَضَّلَ اللَّهُ بَعْضَهُمْ عَلَى بَعْضٍ}

Kaum lelaki itu adalah pemimpin bagi kaum wanita, karena Allah telah melebihkan sebagian mereka (lelaki) atas sebagian yang lain (wanita)

Wabillahittaufiq, wa Shallallahu `ala Nabiyyina Muhammad wa Alihi wa Shahbihi wa Sallam.

Komite Tetap Riset Ilmiah dan Fatwa
Fatwa ini ditandatangani oleh
Abdullah bin Mani` selaku Anggota    
Abdullah bin Ghadyan selaku Anggota    
Abdurrazzaq `Afifi Wakil Ketua    
Abdul Aziz bin Abdullah bin Baz selaku Ketua
Fatawa al-Lajnah ad-Daimah 19/367-368 Pertanyaan Kedua dari Fatwa Nomor:1136

- Bahkan seorang wanita yang sedang dalam masa iddah pun tidak boleh keluar rumah suaminya, diantara hikmahnya adalah ketika suami hendak rujuk maka keutuhan rumah tangga akan mudah terjalin lagi. Aturan ini tertera dalam surat atTholaq ayat 1.


يَا أَيُّهَا النَّبِيُّ إِذَا طَلَّقْتُمُ النِّسَاءَ فَطَلِّقُوهُنَّ لِعِدَّتِهِنَّ وَأَحْصُوا الْعِدَّةَ وَاتَّقُوا اللَّهَ رَبَّكُمْ لا تُخْرِجُوهُنَّ مِنْ بُيُوتِهِنَّ وَلا يَخْرُجْنَ إِلا أَنْ يَأْتِينَ بِفَاحِشَةٍ مُبَيِّنَةٍ


Wahai Nabi, jika kalian mentalak istri kalian, maka talaklah sesuai iddah mereka, dan hitunglah iddahnya. Dan bertakwalah kalian kepada Allah Rabb kalian. Janganlah kalian mengeluarkan mereka dari rumah kalian dan jangan pula mereka keluar dari rumah kalian kecuali jika mereka melakukan perbuatan keji yg nyata...(Q.S atTholaq ayat 1)

- Istri yang baik dan selamat adalah istri yang tidak mudah-mudah meminta cerai tanpa alasan yang syar'i. Meminta talaq kalau tanpa alasan yang syar’i adalah haram berdasarkan hadits Nabi shallallahu alaihi wa sallam:



«أَيُّمَا امْرَأَةٍ سَأَلَتْ زَوْجَهَا طَلاَقًا فِي غَيْرِ مَا بَأْسٍ، فَحَرَامٌ عَلَيْهَا رَائِحَةُ الجَنَّةِ»

“Wanita manapun yang meminta talak kepada suaminya tanpa ada alasan (yang dibenarkan oleh syareat), maka haram baginya mencium wangi Surga.”HR. Abu Daud no.2226;at-Tirmidzi no.1187; Ibnu Majah no.2055  

Keempat:

Berusaha menyampaikan maklumat penting yang berisi nasehat berikut ke keluarga istri

 - Berusaha memisahkan antara suami dengan istri adalah perbuatan yang disukai oleh Iblis. Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda:



إِنَّ إِبلِيسَ يَضَعُ عَرْشَهُ عَلَى الْماَءِ ثُمَّ يَبْعَثُ سَرَايَاهُ فَأَدْنَاهُمْ مِنهُ مَنْزِلَةً أَعْظَمُهُمْ فِتْنَةً، يَجِيءُ أَحَدُهُم فَيَقُولُ: فَعَلْتُ كَذَا وَكَذَا. قَالَ: مَا صَنَعْتَ شَيْئًا. ثُمَّ يَجِيْءُ أَحَدُهُمْ فَيَقُولُ: مَا تَرَكْتُهُ حَتَّى فَرَّقْتُ بَيْنَهُ وَبَيْنَ امْرَأَتِهِ. قَالَ: فَيُدْنِيهِ مِنْهُ وَيَقُولُ: نِعْمَ أَنْتَ


Sesungguhnya iblis meletakkan singgasananya di atas air lantas ia mengirim kan tentara-tentaranya. Maka yang paling dekat kedudukannya dengan dia  adalah yang paling besar fitnah yang ditimbulkannya. Datang salah seorang dari anak buah iblis menghadap iblis seraya berkata, “Aku telah melakukan ini dan itu.” Iblis menjawab, “Engkau belum melakukan apa-apa.” Lalu datang setan yang lain melaporkan, “Tidaklah aku meninggalkan dia (manusia) hingga aku berhasil memisahkan dia dengan istrinya.” Maka iblis pun mendekatkan anak buahnya tersebut dengan dirinya dan seraya memuji, “Engkaulah yang terbaik.” (HR. Muslim no. 2813) 

Oleh karena itu manusia yang ikut membantu terwujudnya apa yang dicintai iblis dalam hal ini maka tentu manusia itu adalah manusia yang jahat

- Merusak rumah tangga orang adalah perbuatan yang ancamannya keras. 

Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda,"

( مَنْ خَبَّبَ زَوْجَةَ امْرِئٍ أَوْ مَمْلُوكَهُ فَلَيْسَ مِنَّا )

“Barang siapa yang merusak istri orang lain atau merusak hamba sahayanya, maka bukanlah termasuk golongan kami”. (HR. Abu Daud no.5170)

Dalam riwayat lain disebutkan,"


( لَيْسَ مِنَّا مَنْ خَبَّبَ امرَأَةً عَلَى زَوجِهَا )

“Bukan termasuk golongan kami seseorang yang merusak hubungan seorang wanita dengan suaminya”. (HR. Abu Daud 2175)

Syaikh Sholeh al-fauzan menerangkan

Telah ada ancaman keras bagi orang yang merusak hubungan istri terhadap suaminya atau menipu si wanita terkait suaminya. Telah ada hadits


( لَيْسَ مِنَّا مَنْ خَبَّبَ امرَأَةً عَلَى زَوجِهَا )

“Bukan termasuk golongan kami seseorang yang merusak hubungan seorang wanita dengan suaminya”. (HR. Abu Daud 2175)

Artinya adalah merusak akhlaq istri terhadap suami dan menjadi sebab pembangkangan istri kepada suami. Keluarga istri wajib berusaha keras memperbaiki hubungan istri itu dengan suaminya mengingat itu termasuk maslahat bagi istri dan bagi mereka. Fatawa Ulama' al-Balad al-Harom Hal. 497

 

Kelima:

Apabila istri belum sadar karena pengaruh keluarganya dan keluarga dia juga belum mau menerima nasehat anda maka anda bisa meminta bantuan kepada orang bijak (yang didengar perkataannya oleh istri dan keluarganya) supaya dia mau memberi masukan kepada istri dan keluarganya.

 

Keenam:

Apabila itu tidak berfaedah maka anda bisa meminta bantuan pengadilan agama untuk ikut memediasi anda dengan istri

Semoga Allah ta'ala mudahkan anda kembali menjalin hubungan suami istri dengan istri yang anda sayangi tersebut  

 

© 2019 - Www.SalamDakwah.Com