SALWA RADIO - Menebar Salam, Menyebar Dakwah
Stay in touch with us:

Jika Suami Tidak Ridho


Akhwat (Bandung)
5 years ago on Keluarga

Jika seorang suami berkata tidak bahagia hidup dengan istrinya. Dan ketika ditanya Apa yang bisa membuat suaminya bahagia dia tidak menjawab. Tetapi juga tidak mau menceraikan istrinya. Apakah si istri berdosa? Karena tidak Dapat membhagiakan suaminya. Sedangkan menurut si istri dia Sudah berusaha maksimal untuk membahagiakan suaminya. Sedangkan salah satu syarat istri masuk Surga adalah Dapat membhagiakan suaminya Dan membuat suaminya ridho.
Redaksi salamdakwah.com
5 years ago

 

الحمد لله والصلاة والسلام على رسول الله وعلى آله وصحبه ومن والاه ولا حول ولا قوة إلا بالله

Terima kasih atas kunjungan dan pertanyaan yang disampaikan semoga penanya bisa memperoleh jawaban yang memuaskan dan semoga istri tersebut bisa memperoleh karunia dari Allah ta'ala berupa surga. Nasehat kami  kepada istri tersebut adalah

1. Kembali memperhatikan nash-nash yang berbicara mengenai wanita dan istri sholehah kemudian menerapkannya dalam kehidupan dia sehari-hari. Diantara nash-nash tersebut adalah 

- Firman Allah ta'ala di surat an-Nisaa ayat 34

فَالصَّالِحَاتُ قَانِتَاتٌ حَافِظَاتٌ لِلْغَيْبِ بِمَا حَفِظَ اللَّهُ

Maka wanita yang saleh, ialah yang taat kepada Allah lagi memelihara diri[289] ketika suaminya tidak ada, oleh karena Allah telah memelihara (mereka). 

Qotadah rahimahullah berkata


فَالصَّالِحَاتُ قَانِتَاتٌ "

Yaitu wanita-wanita yang taat kepada Allah dan kepada suami-suami mereka

- Nabi shallallahu alahi wa sallam bersabda terkait laki-laki dan wanita penduduk surga

أَلَاْ أُخْبِرُكُم بِرِجَالِكُم فِي الجَنَّةِ ؟! النَّبِي فِي الجَنَّةِ ، وَالصِّدِّيقُ فِي الجَنَّةِ ، وَالشَّهِيدُ فِي الجَنَّةِ ، وَالمَوْلُودُ فِي الجَنَّةِ ، وَالرَّجُلُ يَزُورُ أَخَاهُ فِي نَاحِيَةِ المِصْرِ - لَاْ يَزُورُهُ إِلَّا لِلَّهِ - فِي الجَنَّةِ .أَلَاْ أُخبِرُكُم بِنِسَائِكُم فِي الجَنَّةِ ؟! كُلُّ وَدُودٍ وَلُودٍ ، إِذَا غَضِبَت أَو أُسِيءَ إِلَيهَا أَو غَضِبَ زَوجُهَا ، قَالَت : هَذِه يَدِي فِي يَدِكَ ، لَاْ أَكْتَحِلُ بِغُمضٍ َحتَّى تَرضَى

"Maukah kalian aku beritahu laki-laki di antara kalian yang menjadi penghuni surga?! Nabi di surga, orang yang jujur di surga, orang yang mati syahid di surga, anak yang meninggal saat dilahirkan di surga, seseorang yang mengunjungi saudaranya di ujung kota semata karena Allah di surga. Maukah kalian aku beritahu wanita di antara kalian yang menjadi penghuni surga?! Setiap wanita yang penuh kasih (kepada suaminya), banyak keturunannya, jika dia marah, atau suaminya marah kepadanya, dia berkata, 'Tanganku di tanganmu, mataku tak dapat terpejam sebelum engkau ridha kepadaku." HR. An-Nasa'i dalam Sunan Nasa'i Al-Kubro, 5/371, Ath-Thabrani dalam Al-Mu'jam Al-Kabir, 19/14, Al-Ausath, 2/242, 6/301, Abu Nu'aim dalam Al-Hilyah, 4/303.

- cerita tentang wanita sholehah di zaman Nabi shallallahu alaihi wa sallam

عَنْ أَنَسٍ، قَالَ: مَاتَ ابْنٌ لِأَبِي طَلْحَةَ، مِنْ أُمِّ سُلَيْمٍ، فَقَالَتْ لِأَهْلِهَا: لَا تُحَدِّثُوا أَبَا طَلْحَةَ بِابْنِهِ حَتَّى أَكُونَ أَنَا أُحَدِّثُهُ قَالَ: فَجَاءَ فَقَرَّبَتْ إِلَيْهِ عَشَاءً، فَأَكَلَ وَشَرِبَ، فَقَالَ: ثُمَّ تَصَنَّعَتْ لَهُ أَحْسَنَ مَا كَانَ تَصَنَّعُ قَبْلَ ذَلِكَ، فَوَقَعَ بِهَا، فَلَمَّا رَأَتْ أَنَّهُ قَدْ شَبِعَ وَأَصَابَ مِنْهَا، قَالَتْ: يَا أَبَا طَلْحَةَ أَرَأَيْتَ لَوْ أَنَّ قَوْمًا أَعَارُوا عَارِيَتَهُمْ أَهْلَ بَيْتٍ، فَطَلَبُوا عَارِيَتَهُمْ، أَلَهُمْ أَنْ يَمْنَعُوهُمْ؟ قَالَ: لَا، قَالَتْ: فَاحْتَسِبِ ابْنَكَ، قَالَ: فَغَضِبَ، وَقَالَ: تَرَكْتِنِي حَتَّى تَلَطَّخْتُ، ثُمَّ أَخْبَرْتِنِي بِابْنِي فَانْطَلَقَ حَتَّى أَتَى رَسُولَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، فَأَخْبَرَهُ بِمَا كَانَ، فَقَالَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: «بَارَكَ اللهُ لَكُمَا فِي غَابِرِ لَيْلَتِكُمَا» قَالَ: فَحَمَلَتْ،

Dari Anas rodhiyallohu ‘anh yang berkata: “Salah seorang anak Abu Tholhah dari Ummu Sulaim meninggal. Maka Ummu Sulaim berkata kepada keluarganya: “Janganlah kalian memberitahu Abu Tholhah bahwasanya anaknya meninggal, sampai akulah yang akan memberitahu dia.” Lalu Abu Tholhah datang, kemudian Ummu Sulaim mendekatkan padanya makan malam. Lalu Abu Tholhah makan dan minum. Kemudian Ummu Sulaim berhias untuknya dengan dandanan yang lebih cantik daripada sebelumnya. Maka Abu Tholhah pun menggaulinya. Manakala Ummu Sulaim melihat bahwasanya Abu Tholhah telah kenyang dan telah menggaulinya, dia berkata: “Wahai Abu Tholhah, apa pendapatmu jika ada suatu kaum yang meminjamkan suatu pinjaman pada suatu keluarga, kemudian mereka meminta kembali pinjaman mereka tadi. Apakah keluarga itu boleh untuk menghalanginya?” Abu Tholhah menjawab: “Tidak boleh.” Ummu Sulaim berkata: “Maka harapkanlah pahala atas kematian anakmu.” Maka Abu Tholhah marah dan berkata: “Engkau membiarkan aku sampai aku menggaulimu kemudian engkau mengkhabarkan aku tentang kematian anakku?” Lalu Abu Tholhah berangkat hingga menjumpai Rosululloh shollallohu ‘alaihi wasallam, kemudian dia mengkhabarkan kepada beliau apa yang terjadi. Maka Rosululloh shollallohu ‘alaihi wasallam bersabda: “Semoga Alloh memberkahi untuk kalian berdua di puncak malam kalian berdua.” Maka Ummu Sulaim pun hamil.”... (HR. Muslim 2144)).

Apabila kesulitan mengetahui nash-nash dalam masalah ini maka bisa membaca buku panduan untuk menjadi istri sholihah yang pengarangnya berkompeten dalam masalah itu. Bisa juga mendengarkan kajian-kajian nasrasumber yang terpercaya keilmuannya dalam masalah ini. 

2. Memperhatikan kebiasaan baik para istri di masyarakatnya yang tidak menyelisihi syariat kemudian melaksanakannya, misalnya kebiasaan istri yang menyiapkan kopi bagi para suami setiap pagi bila suaminya menyukai kopi

3. Mengulang pertanyaan dengan bijak kepada suami terkait apa yang bisa membahagiakan dia. Bila dia jawab maka alhamdulillah si istri bisa langsung melaksanakan, dan sebaliknya bila suami masih tidak menjawab maka tidak usah berkecil hati, Istri bisa juga mencari tahu dari sumber lain yang terpercaya terkait apa yang diinginkan oleh suami dari istrinya.

Apabila usaha istri sudah maksimal namun suami masih juga mengucapkan hal yang sama maka bersabarlah dan insyaAllah kewajiban istri tersebut sudah gugur karena dia sudah berusaha semampu dia mencari ridho suami. Allah ta'ala berfirman  dalam surat at-Taghabun ayat 16

{فَاتَّقُوا الله مَا اسْتَطَعْتُمْ}

Bertakwalah kepada Allah semampu kalian

dan Allah Jalla Dzikruhu juga juga berfirman dalam surat al-Haj ayat 78

{وَمَا جَعَلَ عَلَيْكُمْ فِي الدِّينِ مِنْ حَرَجٍ}

Dan Dia sekali-kali tidak menjadikan untuk kalian dalam agama suatu kesempitan/kesulitan.

Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda

وَإِذَا أَمَرْتُكُمْ بِأَمْرٍ فَأْتُوا مِنْهُ مَا اسْتَطَعْتُمْ»

Dan apabila aku memerintahkan kalian sesuatu maka jalankanlah semampu kalian

HR. Bukhari no.7288 dan Muslim no.1337

Wallahu ta'ala a'lam

 

© 2022 - Www.SalamDakwah.Com