SALWA RADIO - Menebar Salam, Menyebar Dakwah
Stay in touch with us:

Profesi Auditor Eksternal Bank Konvensional


Ikhwan (Surabaya)
5 years ago on Riba

Assalamuallaikum Wr. Wb. Ustadz. Nama saya Ferdi dari kota Surabaya. Saya bekerja di Kantor Akuntan Publik di Divisi Auditor Bank. Apakah gaji saya sebagai auditor eksternal bank halal atau haram? Saya sangat takut menafkahi keluarga saya dengan uang haram. Terimakasih.
Redaksi salamdakwah.com
5 years ago

 

وعليكم السلام ورحمة الله وبركاته

 

Apabila karakter pekerjaan anda adalah membantu pencatatatan atau memeriksa keuangan bank supaya alur keuangan sesuai dengan aturan yang bersifat ribawi maka ini termasuk membantu dalam dosa. Ulama' yang duduk di Komite Tetap Riset Ilmiah dan Fatwa Arab Saudi pernah ditanya," Saya berkesempatan untuk bekerja di kantor-kantor akuntan dan auditor keuangan, yang di antara pekerjaannya adalah memeriksa dan melakukan audit terhadap keuangan perusahaan-perusahaan asuransi, bank-bank riba, dan bank-bank non riba serta mengawasi keuangan tempat-tempat hiburan dan perusahaan-perusahaan pariwisata yang menyediakan hotel-hotel. Apakah berdasarkan syariat saya boleh bekerja di kantor tersebut dan mendapatkan gaji bulanan? Hal tersebut mengingat studi saya sesuai dengan pekerjaan tersebut.

Catatan: Saya paham bahwa obyek kerja kantor-kantor tersebut tidak terbatas pada perusahaan-perusahaan asuransi, bank-bank riba, perusahaan-perusahaan pariwisata, dan tempat-tempat hiburan, tetapi juga mengawasi keuangan perusahaan-perusahaan investasi dan profesi-profesi mandiri yang baik, seperti dokter, insinyur, guru, dan pengrajin.
Oleh karena itu, saya mohon jawaban dari Anda atas pertanyaan saya ini agar hati saya tenang dan bahagia. Semoga Allah memberi taufik kepada Anda untuk melakukan apa yang mengandung maslahat bagi kaum Muslimin dalam urusan agama dan dunia mereka.


Mereka menjawab: Apabila realitas kantor, tempat yang Anda inginkan untuk bekerja, sebagaimana yang Anda sebutkan, yaitu melakukan audit terhadap keuangan perusahaan-perusahaan asuransi dan bank-bank riba dan mengawasi keuangan tempat-tempat hiburan, maka Anda tidak boleh bekerja di sana untuk tugas-tugas ini karena bekerja di tempat-tempat tersebut berarti saling membantu dengan para pemiliknya dalam perbuatan dosa dan pelanggaran. Allah Ta'ala berfirman, Dan tolong-menolonglah kamu dalam (mengerjakan) kebaikan dan takwa, dan jangan tolong-menolong dalam berbuat dosa dan pelanggaran. Namun, jika pekerjaan Anda bukan untuk urusan-urusan tersebut, yaitu usaha-usaha yang dibolehkan, seperti melakukan audit terhadap keuangan para wiraswasta dan para dokter, maka tidak apa-apa. Hanya saja, pekerjaan ini lebih baik dihindari karena dikhawatirkan ikut melakukan pekerjaan-pekerjaan yang diharamkan sebagaimana yang telah disebutkan.

Wabillahittaufiq, wa Shallallahu `ala Nabiyyina Muhammad wa Alihi wa Shahbihi wa Sallam.

Komite Tetap Riset Ilmiah dan Fatwa

Abdullah bin Qu'ud selaku Anggota  

  Abdullah bin Ghadyan  selaku Anggota    

 Abdurrazzaq Afifi selaku Wakil Ketua    

 Abdul Aziz bin Abdullah bin Baz selaku Ketua
 Fatawa al-Lajnah ad-Daimah  15/6-7   fatwa no.5516

 

Mereka juga pernah ditanya,"  Apa maksud dari “penulis riba” dalam hadis Jabir yang diriwayatkan oleh Muslim, dia berkata,

لَعَنَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ آكِلَ الرِّبَا، وَمُؤْكِلَهُ، وَكَاتِبَهُ، وَشَاهِدَيْهِ» ، وَقَالَ: «هُمْ سَوَاءٌ

"Rasulullah Shallallahu `Alaihi wa Sallam melaknat orang yang memakan harta riba, orang yang menyebabkannya berbuat riba, penulis, dan kedua saksinya. Beliau bersabda, 'Mereka semua sama.'"

Apakah maksud “penulis riba” adalah penulis akad riba saja, ataukah mungkin termasuk semua orang yang benar-benar jauh dari tempat terjadinya transaksi riba namun dengan pekerjaannya sebagai akuntan melakukan penjumlahan dan penghitungan di buku catatan lain, bukan dokumen riba itu sendiri, yang memang harus dia lakukan. Apakah akuntan itu juga dianggap sebagai “penulis riba”? Ataukah redaksi hadis tersebut hanya ditujukan kepada penulis transaksi riba dan tidak berlaku kepada yang lain, sehingga laknat itu pun tidak menjalar kepada yang lain? Berilah kami penjelasan, semoga Allah membalas Anda dengan kebaikan.

Mereka menjawab: Hadis yang melaknat penulis riba bersifat umum, mencakup penulis akad pertama, penyalinnya jika dokumen riba itu rusak, pencatat uang dalam jurnal, akuntan yang menghitung persentase riba dan menjumlahkan dengan pokok dana, pengirimkan uang ke penyimpan, dan lain sebagainya.

Wabillahittaufiq, wa Shallallahu `ala Nabiyyina Muhammad wa Alihi wa Shahbihi wa Sallam.

Komite Tetap Riset Ilmiah dan Fatwa

Abdullah bin Qu'ud selaku Anggota  

  Abdullah bin Ghadyan selaku Anggota    

  Abdurrazzaq `Afifi  selaku  Wakil Ketua  

  Abdul Aziz bin Abdullah bin Baz  selaku Ketua

Fatawa al-Lajnah ad-Daimah 15/5. Fatwa Nomor:7180

© 2021 - Www.SalamDakwah.Com