SALWA RADIO - Menebar Salam, Menyebar Dakwah
Stay in touch with us:

Apakah Menolak Lamaran Ketika Tidak Ada Kecondongan Hati Setelah Istikhoroh


Akhwat (Jakarta)
7 months ago on Ibadah

Assalamu'alaikum ustadz Saya seorang wanita yang bisa dibilang sudah waktunya menikah. Dua minggu lalu saya di kenalkan sepupu saya ke seorang ikhwan (dalam hal ini taaruf an). Kita sudah tukar cv dan foto. Kata sepupu saya ikhwan tersebut baik agamanya, tetapi selama proses taaruf dan saya sudah solat istikharah, saya belum ada keyakinan terhadap ikhwan tersebut. Apakah saya salah jika saya memutuskan untuk tidak melanjutkan proses taaruf ini dan apa yang seharusnya saya lakukan? Terimakasih atas jawabannya,
Redaksi salamdakwah.com
7 months ago

 

وعليكم السلام ورحمة الله وبركاته

الحمد لله والصلاة والسلام على رسول الله وعلى آله وصحبه ومن والاه

Ibnu Hajar al-Asqalani menerangkan," Imam an-Nawawi menyebutkan dalam kitab al-Adzkar,"Setelah istikhoroh  seseorang melakukan apa yang mengantarkan kepada ketenangan hati. Kemudian beliau berdalil dengan hadits Anas yang dikeluarkan oleh Ibnu as-Sunni," Apabila engkau berkeinginan kuat melakukan sesuatu maka beristikhorohlah kepada Rabb mu sebanyak tujuh kali kemudian perhatikan apa yang terbersit di hatimu, sesungguhnya kebaikan ada padanya."Seandainya riwayat ini kuat maka sungguh ini bisa dijadikan acuan namun sanadnya lemah sekali. Yang dijadikan acuan adalah dia tidak melakukan apa yang menyenangkan hatinya dari apa yang memang dia condong sekali kepadanya sebelum istikhoroh, beginilah yang diisyaratkan pada akhir hadits Abu Said, tidak ada daya dan upaya kecuali dari Allah. Fath al-Baari 11/187

Hasil istikhoroh bisa terlihat dari kemudahan proses atau sulitnya proses menuju pernikahan sebagaimana yang diisyaratkan dalam salah satu hadits Nabi shallallahu alaihi wa sallam ketika mengajarkan istikhoroh kepada Jabir



عَنْ جَابِرٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ، قَالَ: كَانَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يُعَلِّمُنَا الِاسْتِخَارَةَ فِي الأُمُورِ كُلِّهَا، كَالسُّورَةِ مِنَ القُرْآنِ: " إِذَا هَمَّ بِالأَمْرِ فَلْيَرْكَعْ رَكْعَتَيْنِ ثُمَّ يَقُولُ: اللَّهُمَّ إِنِّي أَسْتَخِيرُكَ بِعِلْمِكَ،وَأَسْتَقْدِرُكَ بِقُدْرَتِكَ، وَأَسْأَلُكَ مِنْ فَضْلِكَ العَظِيمِ، فَإِنَّكَ تَقْدِرُ وَلاَ أَقْدِرُ، وَتَعْلَمُ وَلاَ أَعْلَمُ، وَأَنْتَ عَلَّامُ الغُيُوبِ، اللَّهُمَّ إِنْ كُنْتَ تَعْلَمُ أَنَّ هَذَا الأَمْرَ خَيْرٌ لِي فِي دِينِي وَمَعَاشِي وَعَاقِبَةِ أَمْرِي - أَوْ قَالَ: فِي عَاجِلِ أَمْرِي وَآجِلِهِ - فَاقْدُرْهُ لِي، وَإِنْ كُنْتَ تَعْلَمُ أَنَّ هَذَا الأَمْرَ شَرٌّ لِي فِي دِينِي وَمَعَاشِي وَعَاقِبَةِ أَمْرِي - أَوْ قَالَ: فِي عَاجِلِ أَمْرِي وَآجِلِهِ - فَاصْرِفْهُ عَنِّي وَاصْرِفْنِي عَنْهُ، وَاقْدُرْ لِي الخَيْرَ حَيْثُ كَانَ، ثُمَّ رَضِّنِي بِهِ، وَيُسَمِّي حَاجَتَهُ


dari Jabir radliallahu 'anhu dia berkata; Nabi shallallahu 'alaihi wasallam pernah mengajarkan istikharah kepada kami untuk setiap perkara, sebagaimana mengajarkan surat dari Al Qur'an. (Beliau bersabda): "Jika salah seorang menginginkan sesuatu maka hendaknya ia mengerjakan dua raka'at lalu ia mengucapkan: ALLAHUMMA INNI ASTAKHIRUKA BI 'ILMIKA WA ASTAQDIRUKA BI QUDRATIKA WA AS'ALUKA MIN FADLIKAL ADZIMI FAINNAKA TAQDIRU WALA AQDIRU WA TA'LAMU WALA A'LAMU WA ANTA A'LLAMUL GHUYUB, ALLAHUMMA IN KUNTA TA'LAMU ANNA HADZAL AMRA KHAIRAN LII FII DIENIE WA MA'AASYII WA 'AQIBATI AMRI -atau berkata; FII 'AAJILI AMRII WA AAJILIHI- FAQDURHU LI WA IN KUNTA TA'LAMU ANNA HAADZAL AMRA SYARRAN LI FI DIINII WA MA'AASYII WA 'AAQIBATI AMRII -atau berkata; FII 'AAJILI AMRII WA AAJILIHI- FASHRIFHU 'ANNI WASHRIFNI 'ANHU WAQDURLIIL KHAIRA HAITSU KAANA TSUMMA RADDLINI BIHI kemudian ia menyebutkan hajat yang ia inginkan. (Ya Allah saya memohon pilihan kepada Engkau dengan ilmu-Mu, saya memohon penetapan dengan kekuasaan-Mu dan saya memohon karunia-Mu yang besar, karena Engkaulah yang berkuasa sedangkan saya tidak berkuasa, Engkaulah yang Maha mengetahui sedangkan saya tidak mengetahui apa-apa, dan Engkau Maha mengetahui dengan segala yang ghaib. Ya Allah jikalau Engkau mengetahui urusanku ini adalah baik untukku dalam agamaku, kehidupanku, serta akibat urusanku -atau berkata; baik di dunia atau di akhirat- maka takdirkanlah untukku, sebaliknya jikalau Engkau mengetahui bahwa urusanku ini buruk untukku, agamaku, kehidupanku, serta akibat urusanku, -atau berkata; baik di dunia ataupun di akhirat- maka jauhkanlah aku daripadanya, serta takdirkanlah untukku yang baik baik saja, kemudian jadikanlah aku ridla dengannya.) " Lalu ia menyebutkan hajatnya. HR. Bukhari, Kitab Ad-Da'awat, Bab Ad-Du'a' 'inda Al-Istikhoroh no.6382. Imam Bukhari juga menyebutkannya di tempat lain di nomer 7390
      
Dengan demikian apabila yang dimaksud oleh penanya adalah murni kecondongan hati tanpa didasari alasan yang logis maka kami nasehatkan kepada penanya untuk melihat kembali sosok laki-laki yang melamarnya secara utuh, bisa jadi dengan demikian dia akan mendapati satu alasan yang menjadikan dia menerima. Ini bila dhohirnya laki-laki tersebut baik akhlaq dan agamanya serta fisik pun tidak ada masalah

Apabila tidak ada kecondongan hati kepada si pelamar karena didasari alasan yang logis seperti karena si pelamar belum memiliki kemampuan untuk menafkahi atau karena sikapnya yang kasar (meski dia punya ilmu agama yang cukup banyak) maka tidak masalah bagi si perempuan untuk menolaknya dan mengikuti kecondongan hatinya. Fatimah Binti Qais mengatakan


فَلَمَّا حَلَلْتُ ذَكَرْتُ لَهُ أَنَّ مُعَاوِيَةَ بْنَ أَبِي سُفْيَانَ، وَأَبَا جَهْمٍ خَطَبَانِي، فَقَالَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: «أَمَّا أَبُو جَهْمٍ، فَلَا يَضَعُ عَصَاهُ عَنْ عَاتِقِهِ، وَأَمَّا مُعَاوِيَةُ فَصُعْلُوكٌ لَا مَالَ لَهُ، انْكِحِي أُسَامَةَ بْنَ زَيْدٍ فَكَرِهْتُهُ، ثُمَّ قَالَ: «انْكِحِي أُسَامَةَ» ، فَنَكَحْتُهُ، فَجَعَلَ اللهُ فِيهِ خَيْرًا، وَاغْتَبَطْتُ بِهِ


Ketika selesai masa iddahku aku mendatangi Nabi shallallahu alaihi wa sallam. lalu aku berkata: Sesungguhnya Abu Jahm dan Mu'awiyah itu sama-sama melamar diriku. Lalu Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda:
Adapun Abu Jahm maka dia adalah seorang yang tidak pernah meletakkan tongkat dari bahunya (kasar kepada istri) sedangkan Mu'awiyah maka dia adalah seorang fakir yang tidak mempunyai harta. Nikahlah dengan Usamah bin Zaid, Sebenarnya aku tidak suka dengan Usamah namun sekali lagi Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Menikahlah dengan Usamah”. Ahirnya aku menikah dengannya. Dengan sebab tersebut Allah memberikan kebaikan yang banyak sehingga aku merasa beruntung...HR. Muslim no.1480 dan yang lainnya

Dari hadits di atas juga bisa diambil faedah bahwa ketidak sukaan di awal kepada calon pasangan hidup tidak berarti kehidupan rumah tangga akan jauh dari kebahagiaan

Nasehat kami kepada penanya juga adalah untuk tidak memasang terlalu tinggi kriteria calon pasangan hidup mengingat usia yang semakin tua dan mengingat tidak ada lelaki yang sempurna. Kesempurnaan hanyalah milik Allah ta'ala. Disamping juga sebelum kita mencari calon pasangan yang sesuai, kita juga perlu melihat diri kita sendiri, apakah kita setinggi itu hingga kita berhak mendapatkan pasangan yang tinggi. Semoga Allah ta'ala mudahkan penanya untuk mendapatkan karunia dari Allah ta'ala seorang laki-laki yang baik menurut Allah ta'ala untuk dunia dan akhirat penanya. 

وصلى الله على نبينا محمد وعلى آله وصحبه وسلم

 

PERTANYAAN TERKAIT

© 2017 - Www.SalamDakwah.Com