SALWA RADIO - Menebar Salam, Menyebar Dakwah
Stay in touch with us:

Menafkahi Keluarga Dari Uang Pinjaman


Akhwat (Surabaya)
3 years ago on Fiqih

Assalamu'alaikum wr wb Selamat siang Ustadz.  Saya sdh menikah dan mempunyai seorang anak ( kelas 1 SD). Sudah 2 tahun ini suami saya tidak bekerja. Awal suami saya tidak bekerja karena sakit. Tapi sejak 8 bulan yg lalu, sudah sembuh namun masih belum bekerja lagi karena kami bingung, tidak ada yg menjaga anak saya (kebetulan yg mengasuh anak saya baru beberapa bulan yg lalu meninggal dunia). Dan anak saya tidak mau diasuh orang lain. Selama ini saya memang bekerja, jadi perekonomian keluarga saya yg tanggung. Belakangan ini saya sering meminjam uang di koperasi untuk mencukupi kebutuhan keluarga saya dg sepengetahuan suami. Alhamdulillah, selama ini saya tidak pernah telat membayar.  Yg ingin saya tanyakan, apakah diperbolehkan berhutang utk menutupi kekurangan guna mencukupi kebutuhan sehari-hari keluarga...? Apakah suami saya berdosa, karena tidak memberi nafkah keluarga padahal dia mampu bekerja? Mohon penjelasannya. Terima kasih Wassalam
Redaksi salamdakwah.com
3 years ago

وعليكم السلام ورحمة الله وبركاته

 
Untuk mengetahui hukum hutang yang anda lakukan anda bisa menyesuaikan keadaan anda pada salah satu perincian berikut yang dijabarkan dalam al-Mausu'ah al-Fiqhiyah al-Kuwaitiyah berikut,"Hukum asal dari meminjam adalah dibolehkan ini berdasarkan firman Allah ta'ala (al-Baqarah:282)


{يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِذَا تَدَايَنْتُمْ بِدَيْنٍ إِلَى أَجَلٍ مُسَمًّى فَاكْتُبُوهُ}

“Hai orang-orang yang beriman, apabila kamu bermu`amalah tidak secara tunai untuk waktu yang ditentukan.”
Dan berdasarkan perbuatan Nabi shallallahu alaihi wa sallam yang dulu pernah berhutang. Namun hutang bisa terkena hukum lain sesuai dengan sebab yang mendorongnya seperti:
- Mandub (dianjurkan) ketika orang yang berhutang dalam keadaan susah.
- Wajib bila orang yang berhutang dalam keadaan terdesak
- Haram bagi orang yang berniat untuk tidak membayar atau berniat mengingkari hutang yang ia tanggung
- Makruh bila dia tidak mampu untuk membayar namun dia tidak dalam keadaan terdesak dan dia tidak berniat untuk lari dari hutang. Al-Maushuah al-Fiqhiyah al-Kuwaitiyah 3/262-263

Ibnu Quddamah juga menerangkan hukum asal hutang, beliau menerangkan ,"apabila seseorang menghutanginya secara mutlak (tanpa syarat) kemudian orang yang berhutang membayarnya dengan nilai yang lebih besar atau dengan sesuatu yang sifatnya lebih bagus, atau (sebaliknya) membayar dengan yang lebih rendah (dengan didasari ridho keduanya) maka itu dibolehkan. Al-Mughni 4/241-242

Suami anda sebagai seorang kepala rumah tangga wajib untuk memberi nafkah lahir dan batin kepada istrinya, ia wajib untuk berusaha mencari rizki yang halal untuk mencukupi kebutuhan keluarganya. Allah ta’ala berfirman dalam surat ath-Tholaq ayat 7:


لِيُنْفِقْ ذُو سَعَةٍ مِنْ سَعَتِهِ وَمَنْ قُدِرَ عَلَيْهِ رِزْقُهُ فَلْيُنْفِقْ مِمَّا آتَاهُ اللَّهُ


Hendaklah orang yang mampu memberi nafkah menurut kemampuannya. dan orang yang disempitkan rezkinya hendaklah memberi nafkah dari harta yang diberikan Allah kepadanya.. Ath-Tholaq:7


Apabila seseorang lalai dalam mencukupi kebutuhan orang yang berada di bawah tanggungannya maka ia telah berdosa. Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda:


كَفَى بِالْمَرْءِ إِثْمًا أَنْ يَحْبِسَ، عَمَّنْ يَمْلِكُ قُوتَهُ


Cukuplah seseorang itu dikatakan berdosa orang-orang yang menahan makan (upah dan sebagainya) orang yang menjadi tanggungannya. HR. Muslim no.996

Nasehatilah suami anda untuk kembali berusaha semaksimal mungkin untuk menafkahi keluarganya. Apabila nasehat anda tidak digubris anda bisa meminta orang lain yang dia segani dan dia dengar perkataannya untuk menasehatinya. Semoga Allah memperbaiki keadaan anda dan keluarga.

PERTANYAAN TERKAIT

© 2020 - Www.SalamDakwah.Com