SALWA RADIO - Menebar Salam, Menyebar Dakwah
Stay in touch with us:

terlanjur poligami


Ikhwan (jakarta)
3 years ago on Keluarga

assalamu alaikum saya sudah melakukan poligami selami 2 tahun lebih,  tp istri kedua hanya nikah siri,  diketahui dan diijinkan istri pertama. Diawal poligami berjalan baik2 saja, tp ketika menginjak tahun kedua, stelah mertua tahu saya poligami, mulailah goyah keyakinan istri pertama. Dan akhir2 ini istri pertama meminta saya utk melepaskannya, tp saya tidak mau, karena saya punya tiga anak dgn istri pertama. Sbelum terjadi poligami, saya sering berzina sama selingkuhan (skrg istri kedua), dikarenakan syahwat saya yg sering tertahan oleh penolakan istri pertama Dari hasil perzinaan kami, terlahir seorang anak perempuan, dan saya berjanji akan menikahinya Mohon pencerahan dari ustad, apa yg sebaiknya saya lakukan untuk saat ini jazakumullah khairon

Redaksi salamdakwah.com
3 years ago

وعليكم السلام ورحمة الله وبركاته 

Saran kami, kembali eratkan hubungan anda dengan istri pertama dan ambillah hatinya. Informasikanlah kepadanya bahwa tidak boleh bagi seorang wanita yang dipoligami untuk meminta cerai kecuali ada mudhorot yang jelas dan memmaksanya untuk meminta cerai. Perlu diketahui bahwa kecemburuan istri adalah normal dan ini bukanlah termasuk mudhorot, kecuali bila kecemburuan besar ini menyiksa batin dan badan istri dan tidak bisa diatasi dengan usaha apapun dari suami.  Syaikh al-Albani pernah ditanya Apakah boleh bagi seorang wanita yang suaminya menikah lagi untuk minta dicerai jika poligami ini memberi mudhorot maknawi atasnya?

Beliau menjawab,"...Namun bisa saya ingatkan kepada penanya dan para hadirin di sini terkait hadits Nabi shallallahu alaihi wa sallam

«أَيُّمَا امْرَأَةٍ سَأَلَتْ زَوْجَهَا طَلَاقًا مِنْ غَيْرِ مَا بَأْسٍ، فَحَرَامٌ عَلَيْهَا رَائِحَةُ الْجَنَّةِ»

" Perempuan mana saja yang meminta suaminya untuk meceraikannya tanpa ada sebab (yang syar'i) maka haram baginya mencium bau Syurga." HR. Abu Daud no.2226; Ibnu Majah no.2055 dan yang lainnya

Penanya ini yang melontarkan pertanyaan yang menyebutkan bahwa dia kadang terkena mudhorot maknawi hendaknya dia memikirkan hadits tersebut, apakah dia meminta ditalak benar dikarenakan sesuatu yang memudhorotkan dia ataukah telah memudhorotkannya? Jawabannya tidaklah diambil dari saya, tapi penanya mengambil jawabannya dari Nabinya shallallahu alaihi wa sallam    

«أَيُّمَا امْرَأَةٍ سَأَلَتْ زَوْجَهَا طَلَاقًا مِنْ غَيْرِ مَا بَأْسٍ، فَحَرَامٌ عَلَيْهَا رَائِحَةُ الْجَنَّةِ»

" Perempuan mana saja yang meminta suaminya untuk meceraikannya tanpa ada sebab (yang syar'i) maka haram baginya mencium bau Syurga." HR. Abu Daud no.2226; Ibnu Majah no.2055 dan yang lainnya
Yang saya fahami dari hadits ini

مِنْ غَيْرِ مَا بَأْسٍ

Adalah dari masalah yang telah menimpanya dan bukan masalah yang bisa jadi menimpanya
(dan dengannya kita menutup jawaban untuk pertanyaan ini)
Oleh karena itu bisa aku katakan berdasarkan point penting itu bahwa  wanita muslimah bila suaminya ingin menikah lagi tidak boleh baginya untuk meminta talak  kecuali bila setelah menikah dia mendapati masalah/sebab syar'i. http://alalbany.me/play.php?catsmktba=22799

Syaikh Utsaimin menerangkan," Apabila seorang istri tidak mampu bersabar dari perlakuan suami dan istri juga khawatir tidak mampu menegakkan hukum-hukum Allah yang diwajibkan atasnya (untuk suaminya) maka boleh bagi istri untuk meminta talak. Fatawa Nur Ala Ad-Darbi lil Utsaimin. Fatawa Nur Ala ad-Darbi li al-Utsaimin 

Intinya pertahankanlah ikatan pernikahan dengan dua istri anda bila anda memiliki kemampuan untuk berpoligami. Nasehatilah istri anda yang pertama untuk menjauhi pikiran bercerai karena perceraian akan berefek buruk untuk anak keturunan. Apabila istri pertama anda goyah pendiriannya karena bisikan dari orang tuanya maka nasehatilah mertua anda supaya berhenti memberikan nasehat yang menyelisihi syariat, apabila mereka masih terus memberikan arahan yang tidak baik maka anda boleh membatasi komunikasi istri dengan orang tuanya sampai mereka berhenti memberikan pengaruh buruk. Syaikh Ibnu Baz menerangkan," Suami berkewajiban untuk memberi istri kesempatan mengunjungi ayah dan saudara-saudaranya dalam rangka silaturrahim kecuali bila kunjungan itu akan berefek timbulnya kerusakan, jika di rumah ayahnya keburukan atau ayahnya bukan orang baik dan mengunjunginya akan memberikan mudharat atau ayahnya mengajaknya kepada kemungkaran maka ketika itu boleh bagi suaminya untuk melarangnya. http://www.binbaz.org.sa/noor/11660

Semoga Allah ta'ala memberikan keberkahan kepada anda dan keluarga serta mengkaruniakan kepada anda keluarga yang dipenuhi sakinah, mawaddah dan rahmah.

 

والله تعالى أعلم بالحق والصواب 

© 2020 - Www.SalamDakwah.Com