SALWA RADIO - Menebar Salam, Menyebar Dakwah
Stay in touch with us:

Transaksi Barang Ribawi


Ikhwan (Bandung)
5 years ago on Riba

Assalamu'alaikum.... Merujuk pada hadits mengenai produk ribawi berikut : “Jika emas dijual dengan emas, perak dijual dengan perak, gandum dijual dengan gandum, sya’ir (salah satu jenis gandum) dijual dengan sya’ir, kurma dijual dengan kurma, dan garam dijual dengan garam, maka jumlah (takaran atau timbangan) harus sama dan dibayar kontan (tunai). Jika jenis barang tadi berbeda, maka silakan engkau membarterkannya sesukamu, namun harus dilakukan secara kontan (tunai).” (HR. Muslim no. 1587) Diantara produk ribawi adalah kurma yang mana transaksinya harus langsungs(tidak tertunda pembayarannya)  dan sama takarannya (untuk sama jenisnya) Produk ribawi lainnya adalah uang (setara dengan emas, dinar sebagai alat tukar). Sementara kini marak penjualan online kurma yang tentunya pembayarannya dan penerimaan kurmanya tertunda . Bagaimana hukumnya jualan kurma online ? Karena kurma dituker dengan uang yang sama - sama produk ribawi. Padahal syaratnya harus tunai jika beda jenis. Jazakallah atas jawabannya. Wassalam.
Redaksi salamdakwah.com
5 years ago

 

وعليكم السلام ورحمة الله وبركاته

Secara umum bisa dikatakan bahwa bila terjadi pembelian kurma dengan uang maka yang terjadi adalah adanya pertukaran komoditi ribawi yang berbeda illat dan jenis. Bila ada pertukaran barang ribawi berbeda illat dan jenis maka boleh terjadi perbedaan ukuran/berat dan boleh juga pembayaran salah satu komoditi tidak kontan. Dalam salah satu petikan fatwa Ulama' yang duduk di Komite Tetap Riset Ilmiah dan Fatwa Arab Saudi disebutkan,"

Ketentuan riba:
1. Barang ribawi yang memiliki kesamaan 'illat (sebab hukum) dan jenis, tidak boleh ada kelebihan timbangan pada salah satu dari yang dipertukarkan dan tidak boleh ditunda pembayarannya. Misalnya emas dengan emas, atau perak dengan perak, meskipun yang dipertukarkan adalah benda yang berkualitas bagus dengan benda yang berkualitas rendah.


2. Tidak boleh menukar emas atau perak yang sudah dibuat menjadi perhiasan, dengan emas atau perak juga, dengan melebihkan timbangan salah satunya dengan alasan dikenakan upah pengerjaannya.


3. Jika yang dipertukarkan adalah barang ribawi dengan 'illat yang sama, namun jenisnya berbeda, maka boleh dilebihkan timbangan salah satunya namun tetap tidak boleh ditunda pembayarannya, contohnya emas ditukar dengan perak. Yang seperti ini boleh ditukar satu sama lain dengan adanya kelebihan, namun disyaratkan melakukan serah terima di tempat akad sebelum berpisah.


4. Jika 'illat dan jenisnya berbeda, maka boleh melebihkan dan menunda pembayaran, seperti emas dengan gandum, atau perak dengan gandum sya'ir (jelai).

 Wabillahittaufiq, wa Shallallahu 'ala Nabiyyina Muhammad wa Alihi wa Shahbihi wa Sallam.
Fatwa ini ditandatangani oleh:
Bakar Abu Zaid  selaku Anggota    
Abdul Aziz Alu asy-Syaikh selaku Anggota    
Shalih al-Fawzan  selaku Anggota    
Abdullah bin Ghadyan selaku Anggota    
Abdul Aziz bin Abdullah bin Baz selaku Ketua
Fatawa al-Lajnah ad-Daimah 13/500-501. Pertanyaan pertama dari fatwa no.17321
 

Apabila penyerahan dua komoditi tersebut tidak kontan maka ini tidak boleh. Ada pertanyaan yang ditujukan kepada Ulama' yang duduk di Komite Tetap Riset Ilmiah dan Fatwa Arab Saudi, bunyinya," Apa hukum menunda penyerahan uang dan barang setelah terjadi kesepakatan jual beli secara kontan?


Mereka menjawab: Jika barangnya telah ditentukan dan tersedia, seperti rumah dan mobil, serta telah ditentukan sifat-sifatnya sehingga tidak ada kesamaran lagi, maka menunda penyerahan uang dan barang hukumnya boleh meskipun telah terjadi kesepakatan jual beli secara kontan, selama keduanya bukan termasuk jenis barang riba. Jika keduanya termasuk jenis barang riba, maka serah terima wajib dilakukan di tempat transaksi, berdasarkan hadis `Ubadah bin ash-Shamit radhiyallahu 'anhu dari Nabi Shallallahu 'Alaihi wa Sallam, beliau bersabda,



الذَّهَبَ بِالذَّهَبِ، وَالفِضَّةُ بِالفِضَّةِ، وَالبُرُّ بِالبُرِّ، وَالشَّعِيْرُ بِالشَّعِيْرِ، وَالتَّمْرُ بِالتَّمْرِ، وَالمِلْحُ بِالمِلْحِ، مِثْلاً بِمِثْلٍ، سَوَاءٌ بِسَوَاءٍ، يَدًا بِيَدٍ، فَإِذَا اخْتَلَفَتْ هَذِهِ الأَصْنَافُ، فَبِيْعُوا كَيْفَ شِئْتُمْ، إِذَا كَانَ يَدًا بِيَدٍ

“Jika emas dijual dengan emas, perak dijual dengan perak, jelai dijual dengan jelai, gandum dijual dengan gandum, kurma dijual dengan kurma, dan garam dijual dengan garam, maka jumlah (takaran atau timbangan) harus sama dan dibayar kontan. Jika jenis barang tadi berbeda, maka silakan engkau membarterkannya sesuka kalian, namun harus dilakukan secara kontan (tunai).” HR. Muslim no.1587

Wabillahittaufiq, wa Shallallahu 'ala Nabiyyina Muhammad wa Alihi wa Shahbihi wa Sallam.

Komite Tetap Riset Ilmiah dan Fatwa
Bakar Abu Zaid selaku Anggota    
Shalih al-Fawzan selaku Anggota    
Abdullah bin Ghadyan selaku Anggota    
Abdul Aziz Alu asy-Syaikh Wakil selaku Ketua    
Abdul Aziz bin Abdullah bin Baz selaku Ketua
Fatawa al-Lajnah ad-Daimah 13/159 Pertanyaan Pertama dari Fatwa Nomor 19209

wallahu ta'ala a'lam

PERTANYAAN TERKAIT

© 2022 - Www.SalamDakwah.Com