SALWA RADIO - Menebar Salam, Menyebar Dakwah
Stay in touch with us:

Anak Saya Dinasabkan Ke Siapa Karena Saya Kawin Lari


Akhwat (serang banten)
3 years ago on Keluarga

Asslmkm wr wb pak ustad.


Saya menikah tanpa sepengetahuan dan restu dari orang tua, tapi skarang saya sudah berpisah dan saya punya putra. yang mau saya tanyakan anak saya bin siapa?, karena orang2 bilang pernikahan saya tidak lah sah.


Mohon jawabannya pak ustad.



Terima kasih



Wasslmkm wr wb


وعليكم السلام ورحمة الله وبركاته


Nampaknya anda tidak faham ketika menikah bahwa nikah tanpa wali hukumnya tidak sah. Bila memang benar demikian maka anak anda dinasabkan ke ayah biologisnya sebab anak itu lahir dari nikah syubhat. Ulama' yang duduk di Komite Tetap Riset Ilmiah dan Fatwa Arab Saudi pernah ditanya," Saya seorang mahasiswa kuliah kedokteran yang duduk di tahun keempat, saya kuliah di salah satu negara eropa yang pernah dikuasai oleh paham komunisme selama beberapa masa. Di sini tidak ada islamic center resmi dan ada kesulitan bagi saya untuk bersafar ke negara tetangga yang memiliki islamic center disebabkan alasan politik. Saya telah menikahi salah seorang gadis setempat pada tahun kedua kuliah, agamanya nasrani. Surat ini saya kirim setelah saya ragu akhir-akhir terhadap keabsahan pernikahan saya, berikut ini cerita bagaimana saya menikah dan pertanyaan-pertanyaan yang meliputi saya dengan harapan itu akan menarik perhatian cukup dari anda. Terima kasih atas kerja keras dan usaha anda.



Saya tidak sengaja berkenalan dengan istri saya yang sekarang, kala itu saya tidak berfikir tentang pernikahan atau berfikir mencari istri. Setelah beberapa kali diskusi saya berpikir bahwa istri saya mungkin bisa memeluk islam, seminggu setelah perkenalan saya utarakan kepadanya usulan pernikahan. Pemikiran saya tentang pernikahan sangatlah sederhana. Pernikahan terbatas pada adanya Ijab dan Qabul dari kedua belah pihak serta diumumkan dengan minimal diketahui dua orang muslim yang berakal (mereka dikenal sebagai orang yang jujur dan amanah). Pernikahan saya dengan dia ditopang oleh 4 pilar sederhana ini. Kami menikah setelah 3 bulan berkenalan. Saya sudah menginfokan hal ini kepada keluarga saya. Saya dan istri telah bersepakat bahwa pernikahan ini akan kami daftarkan secara resmi setelah saya lulus dan menjadi seorang dokter



Kami tidak akan tinggal serumah hingga masa itu tiba sebab saya masih belum mampu memikul tanggung jawab ini. Pernikahan ini hanyalah untuk supaya bisa mengenal lebih dekat dan untuk menjaga kehormatan diri dan saya sungguh-sungguh ingin menghabiskan sisa hidup saya bersamanya, saya tidak berniat menikah mut'ah dengannya (yang saya tahu itu hukumnya haram). Saya telah menginformasikan kepadanya terkait hak dia, mahar dia dan yang lainnya. Namun dia menolak itu semua dengan alasan dia bukanlah barang dagangan yang diperjual belikan meski saya memohon dengan sangat supaya dia menerima.



Saya telah menikahinya saat dia berusia 19 tahun dan dalam keadaan perawan, dia bekerja kala itu sebagai guru anak-anak dalam asuhan. Dia bertanggung jawab atas dirinya sendiri. Ketika saya bertanya kepadanya tentang pendapat keluarganya terkait pernikahan ini dia menjawab bahwa tidak ada seorangpun yang memiliki kendali atas dirinya sebab dia telah melewati usia 18 tahun dan sebab dia telah bekerja sendiri. Diapun menginformasikan bahwa keluarganya tidak perduli dan memperhatikan siapa yang akan menjadi pasangan hidupnya. Ini adalah kebebasan pribadinya. Dia bertanggung jawab terhadap dirinya sendiri. Pertanyaan saya sekarang adalah apakah pernikahan saya sah tanpa adanya mahar dan bawa-bawaan di depan dan bawa bawaan di akhir. Perlu diketahui bahwa saya siap untuk menyiapkan itu semua?



Apakah pernikahan saya sah tanpa ada cincin kawin dan lamaran? Apakah pernikahan saya sah ketika keluarganya tidak mengetahui hal ini hingga detik ini? Perlu diketahui bahwa ternyata ayahnya seorang laki-laki yang rasis dia tidak akan menerima pernikahan ini apapun yang terjadi. Apa pandangan syariat terkait anak yang lahir dari pernikahan ini? Apakah boleh salah seroang kawan menikahkan saya dengan persaksian sebagian kawan saya disebabkan tidak adanya orang yang memang memiliki otoritas dilihat dari sudut pandang syariat? Apakah pernikahan kami haram sedangkan saya tidak mengetahuinya? Apakah keadaannya bisa berubah bila istri saya memeluk Islam? Berilah kami faedah semoga Allah ta'ala memberi manfaat kepada anda sekalian



Mereka menjawab," Akad nikah tidaklah sah bila tidak ada wali dan dua orang saksi yang adil. Seorang wanita tidak boleh untuk menikahkan dirinya sendiri ini berdasarkan sabda Nabi shallallahu alaihi wa sallam



لاَ نِكَاحَ إِلاَّ بِوَلِيٍّ وَشَاهِدَيْ عَدْلٍ



Tidak sah suatu pernikahan yang tidak ada walinya dan tidak ada dua saksi untuknya. HR. at-Tirmidzi kitab Nikah (1101), Abi Daud kitab nikah (2085), Ibnu Majah kitab Nikah (1881), Musnad imam Ahmad bin Hanbal (4/418), ad-Darimi kitab nikah (2182)



Dan juga berdasarkan sabda Nabi shallallahu alaihi wasallam



لا تزوج المرأة المرأة، ولا تزوج المرأة نفسها



Tidak boleh seorang wanita menikahkan wanita lainnya dan tidak boleh seorang wanita menikahkan dirinya sendiri. HR. Ibnu Majah kitab Nikah (1882)



Oleh karena itu akad nikah yang disebutkan di pertanyaan tidaklah sah dan harus diperbaharui dengan menyertakan persetujuan wali. Wanita ahli kitab dinikahkan oleh ayahnya, apabila tidak ada (atau ada namun menolak menikahkan) maka dinikahkan oleh keluarga (ashabahnya) yang paling dekat, apabila mereka tidak ada (atau ada namun menolak menikahkan) maka dia dinikahkan oleh hakim muslim, apabila tidak ada hakim muslim maka dia dinikahkan oleh pimpinan islamic center setempat sebab dalil syar'i al-Qur'an dan as-Sunnah menunjukkan demikian.



Namun seorang muslim tidak boleh menikahi wanita ahli kitab kecuali bila dia adalah seorang wanita yang muhson yakni seorang wanita merdeka dan terjaga dari perzinahan, ini berdasarkan firman Allah ta'ala (al-Maidah:5)



الْيَوْمَ أُحِلَّ لَكُمُ الطَّيِّبَاتُ وَطَعَامُ الَّذِينَ أُوتُوا الْكِتَابَ حِلٌّ لَكُمْ وَطَعَامُكُمْ حِلٌّ لَهُمْ وَالْمُحْصَنَاتُ مِنَ الْمُؤْمِنَاتِ وَالْمُحْصَنَاتُ مِنَ الَّذِينَ أُوتُوا الْكِتَابَ مِنْ قَبْلِكُمْ إِذَا آتَيْتُمُوهُنَّ أُجُورَهُنَّ مُحْصِنِينَ غَيْرَ مُسَافِحِينَ وَلا مُتَّخِذِي أَخْدَانٍ وَمَنْ يَكْفُرْ بِالإيمَانِ فَقَدْ حَبِطَ عَمَلُهُ وَهُوَ فِي الآخِرَةِ مِنَ الْخَاسِرِينَ



Pada hari ini Dihalalkan bagi kalian yang baik-baik. makanan (sembelihan) orang-orang yang diberi Al kitab itu halal bagi kalian, dan makanan kalian halal (pula) bagi mereka. (dan Dihalalkan mangawini) wanita yang menjaga kehormatan diantara wanita-wanita yang beriman dan wanita-wanita yang menjaga kehormatan di antara orang-orang yang diberi Al kitab sebelum kalian, bila kalian telah membayar mas kawin mereka dengan maksud menikahinya, tidak dengan maksud berzina dan tidak (pula) menjadikannya gundik-gundik. Barangsiapa yang kafir sesudah beriman (tidak menerima hukum-hukum Islam) Maka terhapuslah amalannya dan ia di hari kiamat Termasuk orang-orang merugi



Anda wajib menjauhinya hingga sempurna pelaksanaan nikah yang syar'i sebagaimana yang kami sebutkan. Apabila wanita itu ternyata hamil dan melahirkan dari pernikahannya dengan anda maka anak-anak yang terlahir itu dinasabkan kepada anda dikarenakan adanya syubhat dalam pernikahan.
Wabillahi at-Taufiq wa shallallahu ala Nabiyyina Muhammad wa Aalihi wa sahbihi wa sallam.
Fatwa ini ditandatangani oleh
Abdul Aziz bin Abdullah bin Baz selaku ketua komite
Abdul Aziz Alu Syaikh selaku wakil ketua
Abdullah bin Ghadyan selaku anggota
Sholeh al-Fauzan selaku anggota
Bakr Abu Zaid selaku anggota
Fatawa al-Lajnah ad-Daimah 18/178-181 fatwa no.18486

PERTANYAAN TERKAIT

© 2019 - Www.SalamDakwah.Com