SALWA RADIO - Menebar Salam, Menyebar Dakwah
Stay in touch with us:

Pezina menikahi lelaki shaleh


Akhwat (Palembang)
4 years ago on Keluarga

Assalamualaikum ustd. Saya wanita (23th) yang insha Allah setelah lebaran ini akan menikah. Namun ada hal yang sangat mengganjal dipikiran saya. Maaf, sebelumnya (4tahun yg lalu) saya pernah berhubungan badan dengan mantan pacar saya sebanyak 2 atau 3 kali. Namun setelah itu saya sangat menyesalinya. Saya bertaubat dan memperbaiki diri dengan tulus dan dengan segala keikhlasan hati. Hingga pada akhirnya lelaki soleh ini datang meminang saya. Saya sangat takut menghadapi pernikahan saya nanti. Kebodohan saya di masalalu itu masih menghantui saya hingga saat ini.. saya sangat takut memberi malu pada keluarga. Saya takut untuk jujur dengannya. Takut menghancurkan hati kedua orang tua kami. Jika tak jujur pun saya takut ia akan tahu sendiri kebodohan saya ini. Apa yang harus saya lakukan? Bolehkah saya bersumpah atas nama Allah tentang hal ini nantinya? Bolehkah saya berbohong demi kebaikan? Adakah kesempatan saya untuk hidup normal?

Redaksi salamdakwah.com
4 years ago


وعليكم السلام ورحمة الله وبركاته


Apabila anda sudah bertaubat kepada Allah ta'ala dengan taubat nasuha maka semoga Allah ta'ala menerima taubat anda. Anda tidak perlu untuk memberitahu masa lalu anda kepada calon suami anda kecuali bila dia mensyaratkan di awal bahwa dia menginginkan istri yang masih perawan. Ulama' yang duduk di Komite Tetap Riset Ilmiah dan Fatwa Arab Saudi menerangkan," 

Kedua, pintu tobat selalu terbuka bagi semua pelaku maksiat bahkan kafir sekalipun hingga matahari terbit dari barat (Hari Kiamat). Syarat tobat atas pelanggaran terhadap hak Allah adalah berhenti dari perbuatan dosa, menyesali dosa yang telah lalu, dan bertekad untuk tidak mengulanginya lagi. Pelaksanaan hukum had tidak termasuk dalam syarat tobat. Allah Ta'ala berfirman,"  


{قُلْ يَا عِبَادِيَ الَّذِينَ أَسْرَفُوا عَلَى أَنْفُسِهِمْ لا تَقْنَطُوا مِنْ رَحْمَةِ اللَّهِ إِنَّ اللَّهَ يَغْفِرُ الذُّنُوبَ جَمِيعًا}  


Katakanlah: "Hai hamba-hamba-Ku yang melampaui batas terhadap diri mereka sendiri, janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya Allah mengampuni dosa-dosa semuanya".


Allah ta'ala juga berfirman,"  


إِنَّمَا التَّوْبَةُ عَلَى اللَّهِ لِلَّذِينَ يَعْمَلُونَ السُّوءَ بِجَهَالَةٍ ثُمَّ يَتُوبُونَ مِنْ قَرِيبٍ فَأُولَئِكَ يَتُوبُ اللَّهُ عَلَيْهِمْ وَكَانَ اللَّهُ عَلِيمًا حَكِيمًا 


Sesungguhnya taubat di sisi Allah hanyalah taubat bagi orang-orang yang mengerjakan kejahatan lantaran kejahilan, yang kemudian mereka bertaubat dengan segera, maka mereka itulah yang diterima Allah taubatnya; dan Allah Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana.


Ketiga, sebaiknya seseorang yang jatuh dalam perbuatan maksiat berupaya untuk menutupi dan tidak mengumbar dosanya dengan tirai Allah. Ia harus meminta ampun dan bertobat kepada Allah dengan tulus. Sebab, ada hadis yang diriwayatkan oleh Baihaqi  


اجتنبوا هذه القاذورات التي نهى الله عنها، فمن ألم بشيء من ذلك فليستتر بستر الله تعالى، وليتب إلى الله، فإنه من يبد لنا صفحته نقم عليه كتاب الله


"Jauhilah perbuatan-perbuatan keji yang dilarang Allah. Barangsiapa melakukannya, maka hendaklah ia bersembunyi dengan tirai Allah dan bertobat kepada-Nya, karena sesungguhnya orang yang tampak catatan kesalahannya kepada kami, maka kami akan terapkan hukum Allah atasnya."

Menurut adz-Dzahabi, sumber hadis tersebut adalah Shahih Bukhari dan Shahih Muslim...

Fatwa ini ditandatangani oleh

Abdul Aziz bin Abdullah bin Baz selaku ketua

Abdurrazzaq Afifi selaku wakil ketua

Abdullah bin Ghadyan selaku anggota

Abdullah bin Qu'ud selaku anggota

Fatawa al-Lajnah ad-Daimah 24/349-350. Fatwa no.7803 


Seorang laki-laki dan perempuan yang akan menikah selayaknya mencari (dengan usaha maksimal)calon pasangan yang agamanya bagus dan berakhlak mulia. Bila dia sudah memperolehnya maka janganlah dia membuka masa lalu kelam pasangannya dan janganlah dia bertanya tentang maksiat-maksiat pasangannya yang telah lampau, diantara sebabnya adalah: 1. Perbuatan itu termasuk perbuatan mencari-cari aib dan kesalahan orang Muslim lainnya. Sedangkan perbuatan itu terlarang


 عَنْ ابْنِ عُمَرَ قَالَ: صَعِدَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ المِنْبَرَ فَنَادَى بِصَوْتٍ رَفِيعٍ، فَقَالَ: «يَا مَعْشَرَ مَنْ أَسْلَمَ بِلِسَانِهِ وَلَمْ يُفْضِ الإِيمَانُ إِلَى قَلْبِهِ، لَا تُؤْذُوا المُسْلِمِينَ وَلَا تُعَيِّرُوهُمْ وَلَا تَتَّبِعُوا عَوْرَاتِهِمْ، فَإِنَّهُ مَنْ تَتَبَّعَ عَوْرَةَ أَخِيهِ المُسْلِمِ تَتَبَّعَ اللَّهُ عَوْرَتَهُ، وَمَنْ تَتَبَّعَ اللَّهُ عَوْرَتَهُ يَفْضَحْهُ وَلَوْ فِي جَوْفِ رَحْلِهِ

Dari Ibnu Umar radhiyallahu anhuma, dia berkata: Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam pernah menaiki mimbar, kemudian berkata dengan suara lantang: wahai orang yang masuk Islam dengan lisannya sedangkan iman belum merasuk ke dalam hatinya, janganlah kalian menyakiti kaum muslimin janganlah menjelek-jelekannya dan jangan pula mencari-cari cacat/kekurangan mereka. Karena barang siapa mencari-cari kesalahan saudaranya (orang Islam) maka Allah akan mencari-cari kesalahannya. Barang siapa yang Allah cari kesalahannya,maka Allah akan permalukan dia walau dia sedang berada di tengah-tengah tempat tinggalnya. HR. At-Tirmizi no.2032 dan yang lainnya. Al-Albani menerangkan bahwa hadits ini hasan-shahih.


2. Perbuatan itu mendorong orang untuk membuka aib dan dosanya sendiri padahal menerangkan dosa sendiri terlarang hukumnya dalam Islam. Dalam Salah satu hadits disebutkan:


قَالَ: سَمِعْتُ أَبَا هُرَيْرَةَ، يَقُولُ: سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ: " كُلُّ أُمَّتِي مُعَافًى إِلَّا المُجَاهِرِينَ، وَإِنَّ مِنَ المُجَاهَرَةِ أَنْ يَعْمَلَ الرَّجُلُ بِاللَّيْلِ عَمَلًا، ثُمَّ يُصْبِحَ وَقَدْ سَتَرَهُ اللَّهُ عَلَيْهِ، فَيَقُولَ: يَا فُلاَنُ، عَمِلْتُ البَارِحَةَ كَذَا وَكَذَا، وَقَدْ بَاتَ يَسْتُرُهُ رَبُّهُ، وَيُصْبِحُ يَكْشِفُ سِتْرَ اللَّهِ عَنْهُ "

Abu Hurairah berkata: Aku mendengar Raslullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda: Setiap ummatku akan diampuni, kecuali orang-orang yang berterus-terang dengan kemaksiatannya. Diantara sikap berterus-terang dengan kemaksiatan ialah bila seseorang melakukan kemaksiatan pada malam hari, lalu Allah telah menutupi perbuatannya, akan tetapi ia malah berkata pada pagi hari: Wahai fulan, sungguh tadi malam aku telah berbuat demikian dan demikian. Padahal Rabb-Nya telah menutupi perbuatannya, namun ia malah menyingkap tabir Allah (untuk menutupi dosa) dari dirinya." HR. Bukhari no.6069 Dan. Muslim no.2990 Dan yang lainnya


Ada seorang laki-laki yang bercerita kepada Ulama' yang duduk di Komite Tetap Riset Ilmiah dan Fatwa Arab Saudi, dia meminta istrinya untuk menceritakan masa lalu kelamnya seraya berjanji bahwa dia tidak akan mentalak istrinya meskipun itu pahit. Singkat cerita istrinya mengaku bahwa dia pernah diperkosa sebelum pernikahan itu terjadi. Laki-laki itu sangat bersedih dan tidak mampu untuk memegang janjinya hingga dia mentalak istrinya. Diantara nasehat yang diberikan oleh Ulama' Lajnah Daimah adalah,"

Kedua," Selayaknya anda menerimanya dalam keadaan tertutupi dengan tirai Allah ta'ala, dan tidak menyelidiki masa lalu dia setelah anda menikahinya dan selayaknya bila anda ingin mentalaknya maka talaklah tanpa harus memaksanya menceritakan masa lalu dia..."

Fatwa ini ditandatangani oleh

Abdul Aziz bin Abdullah bin Baz selaku ketua

Abdurrazzaq Afifi selaku wakil ketua

Abdullah bin Ghadyan selaku anggota

Fatawa al-Lajnah ad-Daimah 23/115. Pertanyaan kedua dari fatwa no.14358  


Wallahu ta'ala a'lam 


© 2020 - Www.SalamDakwah.Com