SALWA RADIO - Menebar Salam, Menyebar Dakwah
Stay in touch with us:

Harta Dari Usaha Musik


Ikhwan (jakarta)
4 years ago

assalamualaikum ustadz..
saya mau bertanya tentang hukum harta/uang dari hasil pekerjaan yang berhubungan dengan musik..
saya baru mengetahui tentang dilarang/diharamkan nya musik dalam islam,saya pernah bekerja dalam bidang musik yaitu sebagai teknisi sound/soundman untuk acara musik dan kebanyakan yg bernyanyi adalah wanita,
alhamdulillah setelah saya mengetahui tentang diharamkannya musik dalam agama islam,saya mulai meninggalkan pekerjaan tersebut karena saya takut akan dosa/murka Allah subhanahuwataa'la...
yg saya ingin tanyakan bagaimana hukumnya uang/penghasilan dari pekerjaan tersebut..saya ini saya mempunyai sedikit tabungan dari hasil pekerjaaan itu..apakah uang tersebut termasuk uang haram atau bagaimana ustadz karena saya bingung jika akan menggunakan uang tersebut...mohon penjelasan nya...terimakasih
Redaksi salamdakwah.com
4 years ago


وعليكم السلام ورحمة الله وبركاته

Menjual jasa dalam bidang seperti yang penanya sebutkan menurut pendapat yang kuat hukumnya haram dan hasil dari pekerjaan tersebut diharamkan. Apabila penanya memiliki kecukupan harta dari yang halal maka harta hasil teknisi sound musik harus dia keluarkandan tidak boleh dimanfaatkan. Berikut ini keterangan Ulama' dalam masalah ini:

1. Komite Tetap Riset Ilmiah dan Fatwa Arab Saudi
Mereka menerangkan," Bernyanyi dan memainkan alat musik serta memainkan semacam kecapi (dan yang semisalnya) semua ini diharamkan secara syariat. Tidak boleh bekerja dalam bidang ini dan menyebarkannya serta tidak boleh juga membantunya. Setiap orang yang melakukan itu terkena dosa sesuai dengan kadar kerjanya. Penghasilan dari itu adalah penghasilan yang keji dan haram karena ini termasuk tolong menolong dalam dosa. Nash-nash dalam masalah ini banyak dan jelas. Fatawa al-Lajnah ad-Daimah 24/246-247 fatwa no.17108
Fatwa ini ditandatangani oleh
Abdul Aziz bin Abdullah bin Baz selaku ketua
Abdullah bin Ghadyan selaku anggota
Sholeh al-Fauzan selaku anggota
Abdul Aziz Alu Syaikh selaku anggota
Bakr Abu Zaid selaku anggota
Fatawa al-Lajnah ad-Daimah 26/246-247 fatwa no.17108

2. Syaikh al-Albani
Beliau menerangkan," tidak boleh bagi seorang muslim pun untuk mencari penghasilan harta haram dengan salah satu perantara yang diharamkan seperti bernyanyi dengan alat atau bernyanyi dengan suara yang tidak ada rasa malu di dalamnya...apabila dia melakukan taubat nasuha maka dia wajib untuk mengeluarkan seluruh harta haram tersebut dan membelanjakannya pada fasilitas-fasilitas umum yang tidak dimanfaatkan oleh orang tertentu. Dan hendaknya dia memperbaharui metodenya mencari rizki dan merubahnya ke cara yang halal, lagi dibolehkan." Kaset no.383 dari silsilah al-Huda wa an-Nur. Silahkan mendownload audionya di www.alalbany.net/?wpfb_dl=108

3. Komite Tetap Riset Ilmiah dan Fatwa Arab Saudi pernah ditanya tentang pemanfaatan harta haram
1- Seorang Muslim mengumpulkan uang, baik sedikit atau banyak, dengan cara haram, seperti menjual khamar, babi, dan bangkai atau berbisnis narkoba dan barang-barang haram lainnya. Kemudian dia ingin bertobat kepada Allah Ta`ala. Apakah dia mesti membuang semua hartanya yang haram tersebut ataukah sebagiannya boleh digunakan dalam bisnis yang halal?
2-Jika dia mau berhenti berbisnis barang-barang haram, tetapi dia enggan untuk membuang harta tersebut kemudian dia menggunakannya untuk membuat toko yang menjual barang-barang halal, seperti bejana dan pakaian dan lain lain, bolehkah berjual-beli dengannya?
3- Bolehkah bekerja bersama dengannya di toko tersebut dan halalkah gaji yang diperoleh darinya? Perlu saya sampaikan bahwa jika dia diboikot (menolak bekerja sama dengannya), maka bisa jadi boikot akan membuatnya kembali berdagang barang-barang haram.
4- Bolehkah memakan makanannya, memenuhi undangannya atau menerima hadiahnya padahal besar kemungkinan semua yang dibelinya berasal dari hartanya yang haram? Apakah orang yang menerima harta haram ini wajib membuangnya ataukah Allah akan memaafkan dosanya yang telah berlalu?
5- Jika dia ingin menyumbangkan harta haram tersebut atau sebagiannya, apa yang bisa menerima harta tersebut? Bolehkah harta tersebut digunakan untuk membeli buku-buku ilmu pengetahuan dan dibagikan kepada kaum muslimin yang membutuhkan? Bolehkah harta tersebut digunakan untuk menyebarkan dakwah Islam atau membeli atau menyewa tempat sebagai pusat dakwah dan pengajaran Alquran dan ilmu pengetahuan bagi anak-anak kaum muslimin serta membeli alat-alat yang mungkin dibutuhkan oleh markas tersebut untuk keperluan dakwah?
6- Bolehkah meminjam uang tersebut untuk kepentingan dakwah atau kepentingan pribadi ataukah kedua-duanya tidak boleh?

Mereka menjawab," Nabi Muhammad Shalallahu `Alaihi wa Sallam bersabda, "

إن الله تعالى طيب لا يقبل إلا طيبا، وإن الله أمر المؤمنين بما أمر به المرسلين

Sesungguhnya Allah itu baik. Dia hanya akan menerima sesuatu yang baik pula. Sesungguhnya Allah telah memerintahkan kepada orang-orang mukmin seperti yang diperintahkan-Nya kepada para Rasul." Allah Ta`ala berfirman (al-Mukminun:51),

‏{‏يَا أَيُّهَا الرُّسُلُ كُلُوا مِنَ الطَّيِّبَاتِ وَاعْمَلُوا صَالِحًا‏}‏‏.

Hai rasul-rasul, makanlah dari makanan yang baik-baik, dan kerjakanlah amal yang saleh dan Allah Ta`ala berfirman (al-Baqarah: 172) ,

‏{‏يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا كُلُوا مِنْ طَيِّبَاتِ مَا رَزَقْنَاكُمْ‏}‏

Hai orang-orang yang beriman, makanlah di antara rezeki yang baik-baik yang Kami berikan kepada kalian

ثم ذكر الرجل يطيل السفر أشعث أغبر، يمد يديه إلى السماء: يا رب، يا رب، ومطعمه حرام، وملبسه حرام، وغذي بالحرام، فأنى يستجاب لذلك

Kemudian Nabi Shallallahu 'Alaihi wa Sallam menceritakan tentang seorang laki-laki yang telah lama menempuh perjalanan jauh sehingga rambutnya kusut-masai dan berdebu. Orang itu mengangkat tangannya ke langit seraya berdoa, 'wahai, Rabb! wahai, Rabb!' Padahal, makanannya dari barang yang haram, minumannya dari yang haram, pakaiannya dari yang haram, dan makan dengan makanan yang haram, maka bagaimanakah Allah akan memperkenankan doanya?." (HR. Muslim)

Oleh karena itu, seorang Muslim haram mengambil hasil usaha haram. Barangsiapa melakukannya, maka hendaklah dia bertobat dan meninggalkan usaha haram tersebut. Pintu-pintu rezeki -segala puji hanyalah bagi Allah saja- sangat banyak dan mudah. Allah Subhanahu telah berfirman (ath-Thalaq:2-3)

{وَمَنْ يَتَّقِ الله يَجْعَلْ لَهُ مَخْرَجًا} {وَيَرْزُقْهُ مِنْ حَيْثُ لَا يَحْتَسِبُ}

Dan barangsiapa bertakwa kepada Allah, niscaya Dia akan mengadakan baginya jalan keluar. dan memberinya rezki dari arah yang tiada disangka-sangkanya

Barangsiapa bertaubat dan dia mempunyai harta haram, seperti riba dan judi, dan menjual barang-barang yang diharamkan, seperti khamar dan babi, maka dia wajib membuang harta haram tersebut dengan menyalurkannya pada proyek-proyek umum, seperti perbaikan jalan dan WC atau membagikannya kepada orang yang membutuhkan dan tidak menyisakannya atau memanfaatkannya sedikit pun karena harta itu adalah harta haram yang tidak mengandung kebaikan. Konsekuensi taubat dari perbuatan ini adalah membuang dan menjauhkan harta haram tersebut dari dirinya dan beralih kepada usaha yang lain.
Wabillahittaufiq, wa Shallallahu `ala Nabiyyina Muhammad wa Alihi wa Shahbihi wa Sallam.
Komite Tetap Riset Ilmiah dan Fatwa. Fatwa ini ditandatangani oleh
Abdullah bin Ghadyan selaku Anggota
Bakar Abu Zaid selaku Anggota
Shalih al-Fawzan selaku Anggota
Abdul Aziz Alu asy-Syaikh selaku Wakil Ketua
Abdul Aziz bin Abdullah bin Baz selaku Ketua
Fatawa al-Lajnah ad-Daimah 14/61-63 fatwa no.19134

والله تعالى أعلم بالحق والصواب
© 2020 - Www.SalamDakwah.Com