SALWA RADIO - Menebar Salam, Menyebar Dakwah
Stay in touch with us:

Melaksanakan Shalat Setelah Witir


Ikhwan (padangsidimpuan)
4 years ago

Assalamua'laikum
Pernah saya dengar, bila kita sebelum tidur telah melaksanakan witir 3rakaat, kemudian kita terbangun dipertengahan malam untuk shalat tahajjud!!
Kita shalat 1 rakaat dulu untuk menggenapkan yg 3 rakaat tadi...kemudian shalat lagi 2-2 semampunya, kemudian ditutup lagi dengan witir!
Apa bisa dengan cara seperti itu ustadz!
Kata ustadznya, itu pernah dilakukan ibnu umar!
Redaksi salamdakwah.com
4 years ago


وعليكم السلام ورحمة الله وبركاته

Sunnahnya seseorang menjadikan shalat witir sebagai penutup shalatnya di malam hari. Apabila seseorang punya kebiasaan bangun tengah malam atau sepertiga malam terakhir maka sebaiknya dia tidak melaksanakan shalat witir sebelum tidur. Apabila dia merasa khawatir tidak bisa bangun setelah shalat Isya' kecuali ketika adzan fajr dikumandangkan maka tidak masalah dia melaksanakan shalat witir sebelum dia tidur.

Apabila seseorang sudah melaksanakan shalat witir sebelum tidur namun dia ternyata terbangun pada tengah malam atau sepertiga malam terakhir misalnya maka tidak apa-apa bila dia ingin melakukan shalat malam tanpa harus menggenapkan jumlah rakaat witir yang sebelumnya dia laksanakan. Ulama' yang duduk di Komite Tetap Riset Ilmiah dan Fatwa Arab Saudi menerangkan," Sunnahnya witir dilaksanakan di akhir shalat malam /sebagai penutupnya ini berdasarkan sabda Nabi shallallahu alaihi wa sallam

" اجْعَلُوا آخِرَ صَلاتِكُمْ بِاللَّيْلِ وِتْرًا "

“Jadikanlah akhir shalat kalian di waktu malam hari dengan shalat Witir.

Namun bila seseorang melaksaanakan shalat dua raka'at setelah shalat witir maka itu tidak apa-apa ini berdasarkan apa yang diriwayatkan oleh imam Ahmad bin Hanbal rahimahullah ta'ala di kitab Musnadnya dari Abu Umamah

عَنْ أَبِي أُمَامَةَ قَالَ كَانَ رَسُولُ الله صَلَّى الله عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يُوتِرُ بِتِسْعٍ حَتَّى إِذَا بَدَّنَ وَكَثُرَ لَحْمُهُ أَوْتَرَ بِسَبْعٍ وَصَلَّى رَكْعَتَيْنِ وَهُوَ جَالِسٌ فقرأ بـ إذا زلزلت، وقل يا أيها الكافرون

Dari Abu Umamah –radhiyallahu anhu- beliau berkata: Rasulullah shollallahu alaihi wasallam berwitir dengan 9 rokaat hingga ketika menjadi gemuk tubuh beliau, beliau berwitir dengan 7 rokaat dan (kemudian) sholat dua rokaat dalam keadaan duduk Beliau membaca surat az-Zalzalah dan al-Kafirun (H.R Ahmad)

Dan berdasarkan apa yang diriwayatkan oleh Aisyah radhiyallahu anha dia berkata,"

كان رسول الله صلى الله عليه وسلم يوتر بتسع ركعات وركعتين وهو جالس، فلما ضعف أوتر بسبع وركعتين وهو جالس

“Bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam melakukan witir 9 rakaat, kemudian beliau shalat 2 rakaat sambil duduk. Ketika beliau sudah tua, beliau witir 7 rakaat, kemudian shalat 2 rakaat sambil duduk.”

Dan berdasarkan apa yang diriwayatkan oleh imam Ahmad dari Ummu Salamah radhiyallahu anha

أن النبي صلى الله عليه وسلم كان يركع ركعتين بعد الوتر وهو جالس

Sesungguhnya Nabi shallallahu alaihi wa sallam pernah melaksanakan shalat dua dua raka'at dalam keadaan beliau duduk setelah beliau melaksanakan shalat witir.

Perbuatan Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam tersebut menunjukkan bahwa melaksanakan shalat setelah shalat witir dilaksanakan hukumnya boleh dan ini tidak bertentangan dengan hadits-hadits shalat Witir. Shalat witir juga tidak memutuskan pelaksanaan shalat sunnah secara mutlak
Ibnu Qayyim al-Jauziyah menerangkan," pendapat yang benar dikatakan bahwa dua rakaat tersebut statusnya adalah sunnah dan menyempurnakan witir. Shalat Witir adalah ibadah tersendiri apalagi bila dikatakan bahwa hukum witir adalah wajib sehingga dua raka'at setelahnya statusnya sama dengan dua raka'at ba'diah Maghrib. Sedangkan Maghrib adalah witirnya siang. Begitu pula dua raka'at tersebut setelah shalat witir malam. wallahu a'lam.
Wa billahi at-taufiq wa shallallahu ala Nabiyyina Muhammad wa Aalihi wa sahbihi wa sallam
Fatwa ini ditandatangani oleh
Abdullah bin Abdul Aziz bin Baz selaku ketua
Abdul Aziz Aalu Syaikh selaku wakil
Abdullah bin Ghadyan selaku anggota
Shalih al-Fauzan selaku anggota
Bakr Abu Zaid selaku anggota
Fatawa al-Lajnah ad-Daimah 6/57-58 Pertanyaan pertama dari fatwa no.18576

والله تعالى أعلم بالحق والصواب

PERTANYAAN TERKAIT

© 2020 - Www.SalamDakwah.Com