SALWA RADIO - Menebar Salam, Menyebar Dakwah
Stay in touch with us:

Ketika Orang Tua Melarang Anak Menikah Dengan Alasan Study


Ikhwan (jambi)
4 years ago

assalamualaikum ustadz, saya hikmawan,
bukankah dengan berbakti kepada orang tua, salah satu kunci menuju surga ustadz?
saya memiliki seorang ibu yang alhamdulillah begitu sayang kepada kami anak-anaknya, beliau begitu perhatian kepada kami terutama soal pendidikan kami, kebetulan saya pernah berdiskusi dengan ibu saya, saya mengutarakan bahwa saya nanti setelah selesai S2, ingin segera menikah, mendengar saya mengutarakan hal tersebut. ibu saya langsung marah ustadz, dan beliau berkata, kamu tidak boleh menikah sebelum kamu selesai s3,
yang ingin saya tanyakan ustadz, apakah yang harus saya lakukan? apakah saya harus menuruti kata-kata ibu saya? bukan kah islam menyuruh kita untuk tidak menunda-nunda menikah, agar dapat menundukkan pandangan? di satu sisi saya ingin berbakti kepada ibu saya ustadz? di sisi yang lain, saya takut jika saya menunda untuk menikah, saya akan berdosa karna tidak menjaga pandangan saya ustadz? mohon saran dari ustadz, syukran ustadz
barakallahu fikum
Redaksi salamdakwah.com
4 years ago


وعليكم السلام ورحمة الله وبركاته

Semoga Allah ta'ala memudahkan urusan anda dan urusan kita semua. Apabila anda memiliki kemampuan untuk menjalani biduk rumah tangga dan anda ingin menjaga pandangan kehormatan serta pandangan maka tidak masalah bila anda menikah meski belum menyelesaikan pendidikan s3. Cobalah semaksimal mungkin untuk melakukan pendekatan dan berilah penjelasan dengan cara yang baik ke orang tua sehingga beliau bisa memberikan restu. Sampaikanlah kepadanya bahwa pernikahan tidaklah menghalangi seseorang untuk melanjutkan pendidikan mengingat begitu banyak orang yang sudah berkeluarga bisa menyelesaikan pendidikan s3 nya.

Syaikh Ibnu Baz pernah ditanya," Apa hukumnya bila seorang ayah melarang anaknya menikah?"

Beliau menjawab,"Ini tidak diperbolehkan sebab pernikahan adalah bentuk taqarrub dan ketaatan kepada Allah ta'ala. Dalam pernikahan ada kehormatan dan pandangan laki-laki yang terjaga. Oleh karena itu ayahnya tidak boleh melarang dia untuk menikah. Nabi shallallahu alaihi wa sallam bersabda

يَا مَعْشَرَ الشَّبَابِ مَنِ اسْتَطَاعَ مِنْكُمُ البَاءَةَ فَلْيَتَزَوَّجْ فَإِنَّهُ أَغَضُّ لِلْبَصَرِ، وَأَحْصَنُ لِلْفَرْجِ

'Wahai sekalian pemuda, siapa di antara kalian yang telah mempunyai kemampuan, maka hendaklah ia menikah, sebab itu bisa lebih membantu menundukkan pandangan dan menjaga kemaluan.” HR. Bukhari no.5066 dan Muslim no.1400
Dan sudah maklum bahwa pernikahan membantu untuk berbuat ketaatan, menundukkan pandangan, menjaga kemaluan, menjaga kehormatan seorang wanita, membantunya berbuat kebajikan dan pernikahan menjadi sebab munculnya keturunan juga. Dalam pernikahan ada banyak kebaikan. Sekelompok Ulama' berpendapat bahwa pernikahan hukumnya wajib bila seseorang memiliki kemampuan sebab Nabi shallallahu alaihi wa sallam memerintahkan hal itu sedangkan perintah hukum asalnya berimplikasi kewajiban. Ini menunjukkan bahwa pernikahan bagi orang yang memiliki syahwat dan kemampuan hukumnya wajib, baik dia itu masih muda atau sudah tua. Sedangkan pemuda lebih ditekankan untuk itu berdasarkan hadits yang telah lalu. Oleh karena itu (tidak ada ketaatan kepada makhluq dalam rangka bermaksiat kepada Allah ta'ala) dan (ketaatan hanya pada urusan yang ma'ruf) sebagaimana disabdakan oleh Nabi shallallahu alaihi wa sallam. Apabila ayahnya melarang dia untuk menikah sedangkan dia memiliki kemampuan untuk menikah maka selayaknya dia berlemah lembut dengan ayahnya dan memberikan penjelasan kepadanya hingga dia setuju dan supaya hubungan muamalahnya dengan ayahnya tetap terjaga. Apabila ayahnya bersikeras melarang dia untuk menikah tanpa sebab yang membolehkan hal itu maka boleh baginya untuk menikah meski ayahnya tidak ridho sebab dia melarang sesuatu yang disyariatkan sedangkan tidak ada ketaatan untuk siapapun bila itu dalam rangka bermaksiat kepada Allah azza wa jalla. Meski demikian selayaknya dia berlemah lembut kepada ayahnya dan berusaha maksimal untuk mendapatkan keridhoan dan persetujuannya. Inilah yang selayaknya dia lakukan supaya tidak terjadi permusuhan antara dia dengan ayahnya."
http://www.binbaz.org.sa/node/9303

Dalam fatwa yang lain beliau juga menerangkan bahwa pernikahan tidak bertentangan dengan pendidikan," Yang wajib adalah bersegera menikah, tidak selayaknya seorang pemuda mengakhirkan pernikahan dengan alasan study, begitu pula seorang gadis, tidak selayaknya ia mengakhirkan pernikahan demi study, pernikahan tidak menghalangi itu sedikitpun, seorang pemuda bisa menikah (dengan begitu ia menjaga agama, akhlaq dan menundukkan pandangannya), bersamaan dengan itu ia tetap melanjutkan studynya, begitu pula seorang gadis jika Allah memberinya kecukupan. Selayaknya bersegera menikah meski sedang belajar di tingkat sekolah menengah atas atau sekolah tinggi, itu semua tidak menghalangi.

Yang wajib adalah segera dan setuju menikah jika ada laki-laki sepadan yang melamar, dan study tidak menghalangi pernikahan. Seandainya sebagian study terputus (karena pernikahan.pent) maka itu tidak apa, yang penting ia (wanita.pent) belajar apa yang bisa mengantarnya ke pengetahuan ilmu agamanya, adapun ilmu lainnya hanya sebagai faedah biasa. Pernikahan memiliki maslahat yang banyak, khususnya pada zaman sekarang, dan pernikahan yang ditinggalkan akan menimbulkan bahaya untuk pemuda dan gadis." Majmu' Fatawa Ibnu Baz 20/421-422

والله تعالى أعلم بالحق والصواب

PERTANYAAN TERKAIT

© 2019 - Www.SalamDakwah.Com