SALWA RADIO - Menebar Salam, Menyebar Dakwah
Stay in touch with us:

Memanfaatkan Barang Gadai


Ikhwan (Tegal)
5 years ago

Assalamu alaikum.
Saya ingin bertanya perihal barang gadai. Mengambil manfaat dari barang gadai adalah riba. Yang saya belum paham adalah manfaat disini yang bagaimana maksudnya. Apakah manfaat menggunakan barang gadai ataukah manfaat dalam arti laba dari hasil menyewakan (dibuat ngojek dll) atas barang gadai itu? Sebelumnya terimakasih.
Wassalam
Redaksi salamdakwah.com
5 years ago


وعليكم السلام ورحمة الله وبركاته

Dalam kamus besar bahasaindonesia disebutkan,"
menggadaikan/meng·ga·dai·kan/ v menyerahkan barang sebagi tanggungan utang: http://kbbi.web.id/gadai

Dari sini bisa difahami bahwa barang gadai adalah barang yang digunakan sebagai jaminan hutang seseorang. Syaikh Sholeh al-Fauzan hafidhahullahu ta'ala telah memberikan perician untuk pemanfaatan barang yang dijaminkan, beliau menulis,"
Apabila hutangnya adalah hutang pinjaman kemudian orang yang berhutang menjaminkan suatu barang di orang yang menghutangi maka ia tidak boleh memanfaatkannya baik itu diizinkan oleh orang yang memberikan barang sebagai jaminan ataukah tidak mendapatkan izin darinya…
Apabila hutangnya bukan pinjaman misalnya itu adalah uang pembayaran barang yang belum dibayarkan atau semisalnya maka itu boleh dimanfaatkan bila mendpatkan izin dari pemilik barang yang dijadikan jaminan  karena tidak ada hal yang terlarang. Majmu’ Fatawa Fadhilatu asy-Syaikh Sholeh bin Fauzan 2/506-507

Syaikh Sholeh al-Utsaimin rahimahullah juga menerangkan sedikit perincian pemanfaatan jenis sesuatu yang digadaikan, beliau menerangkan,"
Bila barang yang dijaminkan termasuk hewan yang dikendarai seperti unta dan keledai maka orang yang diberi jaminan tersebut boleh untuk mengendarainya sesuai biaya yang ia keluarkan untuk perawatan hewan tersebut, baik dia itu mengendarainya di dalam daerah atau untuk safar dengan syarat tidak ada mudhorot kala safar. Apabila ada mudhorot maka ia idak boleh mengendarainya.

Begitu pula pada hewan yang diperah susunya seperti kambing dan sapi. Contohnya seseorang menjaminkan/menggadaikan seekor sapi dan kemudian orang yang diberi jaminan memerah susunya, kami katakan,” anda boleh memerah susunya senilai biaya perawatan sapi tersebut...

Adapun selain itu maka tidak boleh bagi orang yang diberi jaminan untuk mengambil manfaat dari barang jaminan/digadaikan sehingga tidak boleh seseorang menempati rumah yang dijaminkan, mengendarai mobil yang dijaminkan, membaca kitab yang dijaminkan atau menulis dengan pulpen yang dijaminkan, namun Orang yang diberi jaminan seharusnya menjaga barang jaminan untuk pemiliknya. Asy-Syarh al-Mumti' 9/173,174 dan 175

Apabila hutang yang dikuatkan dengan barang jaminan tersebut adalah hutang pinjaman dan barang tersebut bukan termasuk yang dibiayai untuk perawatannya seperti sapi, unta dan semisalnya maka orang yang diberi jaminan tidak boleh mengambil manfaat penggunaan atau laba dari hasil menyewakan (kami gunakan istilah penanya di sini untuk memperjelas). Komite Tetap Riset Ilmiah dan Fatwa Arab Saudi pernah ditanya,"
Tersebar kebiasaan di sebagian daerah Mesir yaitu menggadaikan tanah pertanian (produktif). Ini dilakukan saat orang yang membutuhkan uang mengajukan pinjaman kepada orang lain. Dalam praktiknya, peminjam menyerahkan tanah produktif itu kepada pemberi pinjaman sebagai jaminan. Tanah tersebut dimanfaatkan oleh pemberi pinjaman tersebut dengan mengambil hasil pengolahannya, sedangkan pemiliknya tidak mendapatkan sama sekali hasil pengolahannya. Tanah tersebut tetap dibawah kendali pemberi pinjaman sampai peminjam melunasi hutangnya. Apa hukum menjadikan tanah produktif sebagai jaminan? Apakah halal mengambil hasil tanah tersebut, ataukah haram?

Mereka menjawab:
Orang yang memberi pinjaman tidak boleh mensyaratkan adanya pemanfaatan sesuatu dari pinjaman tersebut. Ini berdasarkan riwayat dari Nabi Shallallahu `Alaihi wa Sallam, bahwa beliau bersabda,

«كُلُّ قَرْضٍ جَرَّ نَفْعًا فَهُوَ رِباَ»

"Setiap hutang yang membawa keuntungan, maka hukumnya riba."

Ulama juga telah sepakat akan hal ini. Di antara contoh yang masuk dalam aturan itu adalah apa yang disebutkan di pertanyaan di mana peminjam memberi jaminan berupa tanah yang dimanfaatkan oleh pemberi pinjaman sampai peminjam melunasi hutangnya.

Sama seperti larangan bagi pemberi pinjaman untuk mengambil keuntungan dari Rahn (jaminan), baik berupa hasil bumi atau pemanfaatan lainnya, sebagai imbalan menunggu pembayaran hutang. Sebab, tujuan Dari Rahn (Jaminan) adalah penguat kepercayaan untuk mendapatkan pinjaman atau hutang, bukan untuk dimanfaatkan sebagai imbalan pinjaman atau penundaan pembayaran hutang.

Wabillahittaufiq, wa Shallallahu `ala Nabiyyina Muhammad wa Alihi wa Shahbihi wa Sallam.

Fatwa ini ditandatangani oleh
Abdul Aziz bin Abdullah bin Baz selaku ketua
Shalih al-Fauzan, Abdullah bin Ghudayyan dan Abdul Aziz Alu asy-Syaikh selaku anggota. Fatawa al-Lajnah ad-Daimah 14/177-178 pertanyaan kedua dari fatwa no. 17393

Riwayat yang disebutkan dalam fatwa di atas dilemahkan oleh beberapa Ulama' diantaranya oleh al-Albani di Irwa' al-Ghalil 5/235, meski demikian maknanya diamalkan oleh Ulama'.

والله تعالى أعلم بالحق والصواب
© 2021 - Www.SalamDakwah.Com