SALWA RADIO - Menebar Salam, Menyebar Dakwah
Stay in touch with us:

Orang Tua Meminta Anaknya Bercerai Dari Suaminya


Akhwat (tangerang)
6 years ago

Assalamu'alaykum pak ustadz..apakah bisa dikatakan durhaka ketika anak lebih memilih tuk mengikuti suami dari pada orang tua yang ingin memisahkan ikatan suami istri..??karna orang tua selalu ketempat orang pintar ingin tau kehidupan anaknya bersama suami nantinya karena tidak akan bertahan lama, orang tua itu bilang syari'at,karna setahu saya kedepannya itu hanya Allah yang tau bukan manusia...baik buruk itu semua takdir Allah.dan Apakah ada syari'at seperti itu tuk mengetahui kehidupan?
Mohon penjelasannya dan pencerahan.Terimakasih pak ustadz.
Wassaalamu'alaykum
Redaksi salamdakwah.com
6 years ago


وعليكم السلام ورحمة الله وبركاته

Ulama' yang duduk di Komite Tetap Riset Ilmiah dan Fatwa Arab Saudi menerangkan:
Masa depan adalah perkara ghaib, dan tidak ada yang mengetahui sesuatu yang ghaib kecuali Allah. Fatawa al-Lajnah ad-Daimah 19/301 fatwa no.2114

Orang yang mengaku-ngaku mengetahui hal ghoib adalah dukun, dan dukun tidak boleh didatangi, ditanya dan dibenarkan. Komite Tetap Riset Ilmiah dan Fatwa Arab Saudi menerangkan:
Dukun: adalah orang yang mengaku mengetahui perkara gaib dan apa yang ada di dalam dada. Praktik yang biasanya dilakukan adalah dengan cara melihat bintang untuk menerka suatu peristiwa atau melalui setan dari golongan jin yang mencuri dengar ke langit. Sama halnya dengan mereka: orang yang membuat garis di pasir, membaca cangkir, membaca telapak tangan dan membuka buku. Mereka mengaku bahwa mereka bisa mengetahui perkara gaib dengan metode tersebut. Mereka telah kafir dikarenakan telah berserikat dengan Allah dalam sifat khusus yang hanya dimiliki Allah, yaitu mengetahui masalah gaib dan karena telah mendustakan firman Allah Ta'ala (an-Naml:65):

{قُلْ لَا يَعْلَمُ مَنْ فِي السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ الْغَيْبَ إِلَّا اللَّهُ}

Katakanlah: "Tidak ada seorangpun di langit dan di bumi yang mengetahui perkara yang ghaib, kecuali Allah".

Dan firman Allah lainnya (al-Jin:26-27)

{عَالِمُ الْغَيْبِ فَلَا يُظْهِرُ عَلَى غَيْبِهِ أَحَدًا}{إِلَّا مَنِ ارْتَضَى مِنْ رَسُولٍ فَإِنَّهُ يَسْلُكُ مِنْ بَيْنِ يَدَيْهِ وَمِنْ خَلْفِهِ رَصَدًا}

(Dia adalah Rabb) Yang Mengetahui yang ghaib, maka Dia tidak memperlihatkan kepada seorangpun tentang yang ghaib itu.(26) kecuali kepada rasul yang diridhai-Nya, maka sesungguhnya Dia mengadakan penjaga-penjaga (malaikat) di muka dan di belakangnya.

Dan juga firman Allah (al-An'am:59)

{وَعِنْدَهُ مَفَاتِحُ الْغَيْبِ لَا يَعْلَمُهَا إِلَّا هُوَ}

Dan pada sisi Allah-lah kunci-kunci semua yang ghaib; tak ada yang mengetahuinya kecuali Dia sendiri.

Siapa yang mendatangi peramal/dukun dan membenarkan apa yang dikatakannya maka dia juga telah kafir. Hal ini berdasarkan hadits yang diriwayatkan oleh Abu Dawud dari hadits Abu Hurairah Radhiyallahu `Anhu bahwa Nabi Shallallahu `Alaihi wa Sallam bersabda:

«مَنْ أَتَى كَاهِناً فَصَدَّقَهُ بِمَا يَقُوْلُ فَقَدْ كَفَرَ بِمَا أُنْزِلَ عَلَى مُحَمَّدٍ»

Barangsiapa mendatangi dukun kemudian membenarkan perkataannya, maka ia telah kufur (ingkar) terhadap apa yang telah diturunkan kepada Muhammad. Shallallahu `Alaihi wa Sallam

Dan berdasarkan hadits yang diriwayatkan oleh Ashabus Sunan dan Hakim. Hadits ini digolongkan sebagai hadits shahih oleh Hakim, dari Abu Hurairah Radhiyallahu `Anhu bahwa Nabi Shallallahu `Alaihi wa Sallam bersabda:

«مَنْ أَتَى عَرَّافًا أَوْ كَاهِنًا فَصَدَّقَهُ بِمَا يَقُوْلُ فَقَدْ كَفَرَ بِمَا أُنْزِلَ عَلَى مُحَمَّدٍ »

Barangsiapa yang mendatangi tukang ramal atau dukun kemudian membenarkan perkataannya, maka ia telah kufur (ingkar) terhadap apa yang telah diturunkan kepada Muhammad. .

Dan masih banyak hadits lainnya yang menghukumi kafir para peramal, dukun dan orang yang membenarkan perkataan mereka. Fatawa al-Lajnah ad-Daimah 1/581-582 fatwa no.3261

Para Ulama' itu juga menerangkan:
Sebagaimana juga ia tidak diperbolehkan pergi ke dukun untuk bertanya dengan siapa anaknya akan menikah, atau bertanya tentang kasih sayang, kebencian, dan perceraian yang ada pada suami istri atau kedua keluarganya. Karena itu semua adalah perkara gaib, tidak ada yang mengetahuinya kecuali Allah. Fatawa al-Lajnah ad-Daimah 1/559 no.4393

Orang yang mengaku tahu masalah ghaib meskipun penampilannya bagus dan memperlihatkan kesalehan harus dicurigai, sebab penampakan seperti orang shaleh bukanlah jaminan bahwa yang berpenampilan begitu orang shaleh dan alim. Komite Tetap Riset Ilmiah dan Arab Saudi menerangkan:
Mengetahui lokasi barang hilang dan mengembalikannya tidak cukup hanya dengan membaca Alquran dan hadits. Siapa pun yang berkonsultasi kepada seseorang yang mengaku mengetahui tempat barang hilang hanya dengan membaca Alquran dan hadits, berarti dia telah minta tolong kepada dukun (pembohong), sekalipun orang itu mengaku sholeh dan komitmen terhadap agama Islam. Terkadang mereka menampakkan tampilan membaca Alquran dan hadits yang mulia, tetapi tujuannya hanya untuk menyesatkan dan mengaburkan fakta bahwa mereka sebenarnya adalah dukun dan peramal. Fatawa al-Lajnah ad-Daimah 1/608 no.6914

Dengan demikian bisa diketahui bahwa alasan orang tua yang disebutkan oleh penanya bukanlah alasan yang syar'i untuk meminta anaknya meminta cerai dari suaminya mengingat dasarnya adalah dasar yang salah. Si anak tidak dianggap durhaka kepada orang tuanya ketika tidak menuruti permintaan orang tuanya kala itu. Meski demikian si anak tetap dituntut untuk:
- berbakti dalam hal lain selain meminta cerai
- berusaha kembali mengambil hati mereka
- menasehati mereka mengingat mereka telah salah jalan dengan mendatangi dukun itu.

Ulama' yang duduk di Komite Tetap Riset Ilmiah dan Fatwa Arab Saudi menerangkan:
Bila kenyataannya sebagaimana yang disebutkan oleh penanya di mana istrinya adalah:
- wanita yang konsisten dalam agamanya.
- suami mencintainya
- istri adalah wanita berharga di matanya
- istri tersebut tidak berbuat buruk kepada ibu dari suaminya
Namun ibu dari suami itu tidak menyukai istrinya disebabkan kepentingan pribadi sedangkan suami tetap mempertahankannya dan tetap menjadikannya pendamping hidup maka ketika itu suami tidak wajib untuk mentalak istrinya demi mentaati ibunya, ini berdasarkan riwayat dari Nabi shallallahu alaihi wa sallam:

إِنَّمَا الطَّاعَةُ فيِ المَعْرُوفُ

Sesungguhnya ketaatan hanya pada perkara yang baik. HR. Bukhari. No 7145 dan Muslim no.1840

Meski demikian dia tetap wajib:
- berbakti kepada ibunya
- menyambung tali silaturahim dengan mengunjunginya
- berlemah-lembut terhadapnya
- memberinya nafkah
- menghiburnya dengan memberikan apa yang dia butuhkan, apa yang membuat dia berlapang dada dan apa yang membuat dia ridho (selain mentalak istrinya). Yang hal itu masih bisa diusahakan oleh si suami.
Fatawa al-Lajnah ad-Daimah 20/30 fatwa no.1930

والله تعالى أعلم بالحق والصواب
© 2021 - Www.SalamDakwah.Com