SALWA RADIO - Menebar Salam, Menyebar Dakwah
Stay in touch with us:

Wali Nikah Perempuan Yang Lahir Dari Penaan


Ikhwan (pekan baru,Riau)
6 years ago

assalamualaikum ustad,,,,,,
apakah benar ustad apabila anak perempuan yang lahir dari perzinaan walinya bukanlah laki-laki yang menzinai ibunya tersebut,,,,?
dan adakah dalil yang menyatakan hal tersebut ustad,,,
jazakallah khairan ustad
Redaksi salamdakwah.com
6 years ago


وعليكم ااسلام ورحمة الله وبركاته

Secara garis besar anak yang lahir dari hasil perzinaan dibagi dua:
1. Wanita yang melakukan zina statusnya masih sebagai istri yang sah, artinya dia melakukan perselingkuhan hingga hamil dan melahirkan. Anak yang lahir dari hubungan itu dinasabkan kepada suami sah wanita tersebut kecuali bila suami itu tidak mengakuinya sebagai anak melalui proses Li'an.
Diantara dalilnya adalah

، أَنَّ عَائِشَةَ قَالَتْ: كَانَ عُتْبَةُ بْنُ أَبِي وَقَّاصٍ عَهِدَ إِلَى أَخِيهِ سَعْدٍ: أَنْ يَقْبِضَ ابْنَ وَلِيدَةِ زَمْعَةَ، وَقَالَ عُتْبَةُ: إِنَّهُ ابْنِي، فَلَمَّا قَدِمَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَكَّةَ فِي الفَتْحِ، أَخَذَ سَعْدُ بْنُ أَبِي وَقَّاصٍ ابْنَ وَلِيدَةِ زَمْعَةَ، فَأَقْبَلَ بِهِ إِلَى رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، وَأَقْبَلَ مَعَهُ عَبْدُ بْنُ زَمْعَةَ، فَقَالَ سَعْدُ بْنُ أَبِي وَقَّاصٍ: هَذَا ابْنُ أَخِي عَهِدَ إِلَيَّ أَنَّهُ ابْنُهُ، قَالَ عَبْدُ بْنُ زَمْعَةَ: يَا رَسُولَ اللَّهِ هَذَا أَخِي هَذَا ابْنُ زَمْعَةَ وُلِدَ عَلَى فِرَاشِهِ، فَنَظَرَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِلَى ابْنِ وَلِيدَةِ زَمْعَةَ، فَإِذَا أَشْبَهُ النَّاسِ بِعُتْبَةَ بْنِ أَبِي وَقَّاصٍ فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: «هُوَ لَكَ هُوَ أَخُوكَ يَا عَبْدُ بْنَ زَمْعَةَ» مِنْ أَجْلِ أَنَّهُ وُلِدَ عَلَى فِرَاشِهِ، وَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: «احْتَجِبِي مِنْهُ يَا سَوْدَةُ» لِمَا رَأَى مِنْ شَبَهِ عُتْبَةَ بْنِ أَبِي وَقَّاصٍ قَالَ ابْنُ شِهَابٍ: قَالَتْ عَائِشَةُ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: «الوَلَدُ لِلْفِرَاشِ وَلِلْعَاهِرِ الحَجَرُ»

['Aisyah] mengatakan, Utbah bin Abu Waqash berpesan serius kepada saudaranya Sa'd bin Abi Waqqash agar mengambil anak hamba sahaya Zam'ah. Utbah berujar "Anak laki-laki hamba sahaya Zam'ah adalah anakku. Maka ketika Sa'd bin Abu Waqqash tiba di Makkah saat penaklukan makkah, Sa'd bin Abu Waqqash mengambil anak hamba sahaya Zam'ah dan membawanya kepada Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam. Ketika itu Abd bin Zam'ah (anak laki-laki Zam'ah) juga menghadirinya. Sa'd bin Abu Waqqash menyampaikan; "Ini adalah anak saudaraku, ia berpesan serius kepadaku (agar mengambilnya, sebab) anak itu adalah anaknya. Maka Abd bin Zam'ah (anak laki-laki Zam'ah) tak mau kalah dengan mengatakan "Wahai Rasulullah

Rasulullah, ini adalah saudara laki-lakiku, dia dilahirkan diatas kasurnya (kasur Zam'ah). Lantas Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam mencermati anak hamba sahaya Zam'ah yang menyerupai Utbah bin Abu Waqqash. Namun anehnya Rasulullah terus mengatakan kepada abd bin Zam'ah "Anak itu justru bagimu, dia adalah saudara laki-lakimu wahai Abd bin Zam'ah sebab dia dilahirkan diatas kasurnya (kasur Zam'ah) ". Lantas Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: "Berrhijablah engkau daripadanya wahai Saudah, yang demikian karena beliau lihat ada kemiripan dengan Utbah bin Abu Waqqash. Kata Ibnu Syihab, kata Aisyah; Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda; "Anak adalah pemilik kasur, pezina harus dihukum batu (rajam). HR. Bukhari no.4303 dan Muslim no.1457. Lafadz di atas adalah lafadz Bukhari

Ibnu Abdil Bar rahimahullah berkata:
“Sekelompok ulama telah berijma’ bahwa wanita merdeka adalah tempat tidur (bagi suaminya) setelah berlangsungnya akad nikah; karena memungkinkan untuk digauli dan hamil. Dan jika dengan akad nikah memungkinkan untuk digauli dan hamil, maka anak yang dihasilkan adalah miliki suami sahnya dan tidak bisa ditolak dengan klaim orang lain (dan dengan cara apapun) kecuali dengan cara li’an”. (At Tamhid lima fil Muatha’ minal Ma’anii wal Asaniid: 8/183)

Ibnu Qudamah –rahimahullah- berkata: “Mereka (Ulama') berkonsensus jika seorang anak dilahirkan di atas firosy (oleh seorang wanita yang bersuami), kemudian ada orang lain (selain suami)yang mengklaimnya maka klaim tersebut tidak berlaku. Akan tetapi yang terjadi perbedaan di antara para ulama adalah jika dilahirkan dari wanita yang tidak berstatus sebagai istri”. (Al Mughni: 6/345)

2. Seorang wanita yang melakukan zina sedangkan statusnya tidak terikat dengan laki-laki manapun dalam satu pernikahan yang sah. Pendapat yang kuat dalam masalah ini adalah anak yang lahir dari hubungan haram itu tidak dinasabkan kepada laki-laki yang berzina dengan wanita itu namun ia dinasabkan kepada wanita tersebut alias ibunya..

Ulama' yang duduk di Komite Tetap Riset Ilmiah dan Fatwa Arab Saudi menerangkan:
Dan anak dari hubungan zina tidak dinasabkan ke laki-laki yang melakukan zina ini berdasarkan sabda Nabi shallallahu alaihi wa sallam

الوَلَدُ لِلْفِرَاشِ وَلِلْعَاهِرِ الحَجَرُ

Anak hasil zina adalah milik firosy dan laki-laki pezina mendapatkan kerugian.

Sebagaimana juga ia tidak dinasabkan ke orang yang menikahinya (setelah dial hamil. Pent) sebab si wanita menjadi tempat tidur setelah dia hamil. Fatawa Islamiah 3/153

Komite Tetap Riset Ilmiah dan Fatwa Arab Saudi pernah menerangkan:
Kedua, anak-anak hasil perbuatan "kumpul kebo" berstatus sebagai anak zina yang nasabnya dihubungkan kepada ibu, bukan kepada laki-laki yang menjadi ayah biologisnya. Ini menurut pendapat ulama yang terkuat, berdasarkan sabda Nabi Shallallahu 'Alaihi wa Sallam,

الوَلَدُ لِلْفِرَاشِ وَلِلْعَاهِرِ الحَجَرُ

"Anak adalah hak pemilik tempat tidur (suami). Sedangkan bagi lelaki pezina, dia tidak memiliki hak atas anaknya." HR. Bukhari no.6818 dan Muslim no.1458 dan yang lainnya Fatawa al-Lajnah ad-Daimah 22/25 pertanyaan kelima dari fatwa no.6575

Syaikh Utsaimin menerangkan:
Adapun anak hasil dari perzinaan maka ia adalah anak dari ibunya, bukan anak dari bapak (biologisnya.pent) ini berdasarkan keumuman sabda Rasul alaihi ash-sholatu wa as-salamu

الوَلَدُ لِلْفِرَاشِ وَلِلْعَاهِرِ الحَجَرُ

"Anak adalah hak pemilik tempat tidur (suami). Sedangkan bagi lelaki pezina, dia tidak memiliki hak atas anaknya."

Al-Ahir Maksudnya adalah laki-laki yang berzina, dia tidak berhak atas anak. Seandainya setelah bertaubat laki-laki itu menikahi wanita yang sebelumnya dizinai maka tetap saja anak yang lahir dari hubungan yang pertama (zina.pent) tidak menjadi anaknya dan ia tidak menjadi ahli waris dari bapak biologisnya (meskipun dia mengaku-ngaku bahwa ia adalah anaknya) sebab ia statusnya bukanlah anak yang syar'i. Fatawa Islamiah 3/370

Terkait wali nikah yang berhak menikahkan seorang wanita adalah ayahnya kemudian para ashabah yang ikatan dengan ashabah tidak terwujud kecuali dengan adanya ayah yang sah seperti kakek dari ayah, saudara laki-laki kandung, saudara laki-laki ayah dst, sehingga dengan tidak adanya ayah yang sah maka ikatan dengan orang-orang tersebut tidak ada. Adapun ashabah sababiyah terkait al-wala' dan al-Itq (pembebasan budak) utk masa sekarang sulit ditemui.

Oleh karena itu wali untuk pernikahan anak perempuan yang lahir dari hubungan perzinaan sedangkan ibunya berstatus tidak dalam pernikahan yang sah maka walinya adalah penguasa. Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda:

فَالسُّلْطَان ُ وَلِيُّ مَنْ لَا وَلِيَّ لَهُ.

“Penguasa adalah wali nikah bagi perempuan yang tidak memiliki wali nikah” HR. Abu Daud no.2083 dan Tirmidzi no.1102 dan Ibnu Majah no.1879. Dishahihkan oleh al-Albani.

Dan penguasa biasanya mewakilkan urusan menikahkan semacam ini ke hakim syar'i sehingga yang menikahkannya adalah hakim. Komite Tetap Riset Ilmiah dan Fatwa Arab Saudi pernah ditanya:
Ada seorang perempuan dilahirkan di Tanah Arab Saudi dari seorang wanita Arab Saudi dan ayah yang tidak dikenal (hubungan zina), kemudian ada orang baik yang berkenan untuk mendidiknya dan memasukkannya ke daftar keluarganya sebagai putrinya. Ketika perempuan itu mencapai usia baligh orang yang merawatnya menikahkannya dan mengambil maharnya. Sekedar info bahwa laki-laki itu bukanlah kerabat ibunya. Apakah akadnya sah? Apabila lahir beberapa anak dari pernikahan tersebut apakah status mereka anak yang syar'? Saya berharap anda memberi fatwa saya dalam masalah ini semoga Allah menjaga anda sekalian.

Mereka menjawab:
Dalam keadaan tersebut wajib memperbaharui akad itu di hakim syar'i, sebab orang yang mendidik dia (telah berbuat baik dan semoga dia memperoleh pahala atlas kebaikannya) namun ia bukanlah wali syar'i bagi wanita itu . Dia wajib untuk menghilangkan nama perempuan itu dari daftar keluarganya sebab ia bukanlah putrinya،

Adapun anak-anak yang lahir di masa pernikahan sebelum akad diperbaharui maka mereka dinasabkan kepada Ayah Dan ibu mereka sebab adanya syubhat dalam pernikahan. Fatawa al-Lajnah ad-Daimah 18/158-159 fatwa no.19445

والله تعالى أعلم بالحق والصواب

PERTANYAAN TERKAIT

© 2021 - Www.SalamDakwah.Com