SALWA RADIO - Menebar Salam, Menyebar Dakwah
Stay in touch with us:

Berhubungan Intim Saat Ramadhan


Ikhwan
5 years ago

Assalamu'alaikum

Ustadz...bagaimana cara kita membayar atau mengganti puasa dikarenakan kita berhubungan sama istri di bulan ramadhan tahun lalu?
Tolong penjelasannya,syukron
5 years ago


وعليكم السلام ورحمة الله وبركاته

Ulama' Komite Tetap Riset Ilmiah dan Fatwa Arab Saudi telah mengeluarkan fatwa untuk masalah sejenis. Mereka ditanya:
Di bulan Ramadhan saya tidak dapat menahan nafsu terhadap istri saya, lalu saya berhubungan seksual dengannya setelah salat Subuh, bagaimana hukumnya?

Mereka menjawab:
Sebagaimana yang disebutkan bahwa dia tidak bisa menahan nafsu, lalu berhubungan seksual dengan istrinya setelah salat Subuh di bulan Ramadhan. Atas perbuatannya tersebut, dia wajib memerdekakan budak. Jika tidak mampu, maka dia wajib berpuasa selama dua bulan berturut-turut. Jika tidak mampu, maka dia wajib memberi makan enam puluh orang miskin, masing-masing satu mud (gandum). Dia juga wajib meng-qadha satu hari sebagai pengganti (puasa yang batal) itu. Adapun perempuan, jika dia sama-sama berhasrat melakukannya, maka hukumnya sama dengan laki-laki. Namun jika terpaksa, maka dia hanya wajib meng-qadha.

Dalil tentang kewajiban laki-laki untuk membayar kafarat adalah hadis yang diriwayatkan oleh Abu Hurairah radhiyallahu `anhu. Dia berkata:

بَينماَ نَحن جُلُوسْ عِنْدَ النبي صلى الله عليه وسلم إذ جَاءه رَجلٌ، فقَالَ: يَا رَسولَ الله، هَلَكتُ!.
فقال (مَالكً؟). قال: وَقَعْتُ على امْرَأْتِي، وأنا صائمٌ. فقالَ رَسُولُ الله صلى الله عليه وسلم: ((هَلْ تَجِدُ رَقَبَةً تعتقها؟)) قال: لا، قال: ((فهل تستطِعُ أن تصوم شَهْرَيْنِ مُتَتَابِعْين؟)) قال: لا. قال: ((فهل تجد إطعام ستين مسكيناً؟)) قال: لا. قال: فَسَكَتَ النبي صلى الله عليه وسلم.
فبينما نَحْنُ على ذلك إذْ أُتي النبي صلى الله عليه وسلم بِعَرَق فيهِ تَمرٌ". فقال: ((أَيْنَ السَّائِلُ؟)). فقالَ: أنا. قال: ((خُذْ هذَا فتصَدَّق بِهِ

"Ketika kami sedang duduk bermajelis bersama Nabi shallallahu 'alaihi wasallam tiba-tiba datang seorang laki-laki lalu berkata: "Wahai Rasulullah, binasalah aku". Beliau bertanya: "Ada apa denganmu?". Orang itu menjawab: "Aku telah berhubungan dengan isteriku sedangkan aku sedang berpuasa". Maka Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bertanya: "Apakah kamu memiliki budak untuk dibebaskan?". Orang itu menjawab: "Tidak". Lalu Beliau bertanya lagi: "Apakah kamu sanggup bila harus berpuasa selama dua bulan berturut-turut?". Orang itu menjawab: "Tidak". Lalu Beliau bertanya lagi: "Apakah kamu memiliki makanan untuk diberikan kepada enam puluh orang miskin?". Orang itu menjawab: "Tidak". Sejenak Nabi shallallahu 'alaihi wasallam terdiam. Ketika kami masih dalam keadaan tadi, Nabi shallallahu 'alaihi wasallam diberikan satu keranjang berisi kurma, lalu Beliau bertanya: "Mana orang yang bertanya tadi?". Orang itu menjawab: "Aku". Maka Beliau berkata: "Ambillah kurma ini lalu bershadaqahlah dengannya". Orang itu berkata: "Apakah ini diberikan kepada orang yang lebih fakir dariku wahai Rasulullah. Demi Allah? tidak ada keluarga yang tinggal diantara dua perbatasan, yang dia maksud adalah dua gurun pasir, yang lebih faqir daripada keluargaku". Mendengar itu Nabi shallallahu 'alaihi wasallam menjadi tertawa hingga tampak gigi seri Beliau. Kemudian Beliau berkata: "Kalau begitu berilah makan keluargamu dengan kurma ini. HR. Bukhari no.1936 dan Muslim no.1111

Mengenai kewajiban meng-qadha satu hari sebagai ganti puasa yang batal karena hubungan intim yang dilakukannya dengan istri, maka dalilnya adalah hadis yang diriwayatkan oleh Abu Dawud dan Ibnu Majah ,

وَصُمْ يَوْمًا مَكَانَهُ

"Dan berpuasalah satu hari untuk menggantikannya." .

Kewajiban membayar kafarat dan meng-qadha puasa bagi wanita, jika dia berhasrat, adalah karena dalam hal ini posisinya sama dengan laki-laki. Dia tidak diwajibkan membayar kafarat ketika terpaksa, karena adanya dalil yang bersifat umum dari sabda Rasulullah Shallallahu 'Alaihi wa Sallam,

عُفِيَ لِأُمَّتِي عَنْ الخَطَأِ وَالنِّسْيَانِ وَمَا اسْتُكْرِهُوا عَلَيْهِ

"Umatku dimaafkan karena kesalahan, kelupaan, dan suatu paksaan." .
Wabillahittaufiq, wa Shallallahu `ala Nabiyyina Muhammad wa Alihi wa Shahbihi wa Sallam. Fatawa al-Lajnah ad-Daimah 10/301-303. Fatwa no.83
© 2020 - Www.SalamDakwah.Com