SALWA RADIO - Menebar Salam, Menyebar Dakwah
Stay in touch with us:

Talak Suami via BBM? Siapa Yang Mengasuh Anak?


Akhwat (Yogyakarta)
6 years ago

بِسْمِ اللّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْمِ
السَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ

Ustadz ada beberapa hal yg ingin sy tanyakan, yaitu
1. Apabila suami menjatuhkan talak 1 via BBM, apakah talak tersebut sah?
2. Bagaimana istri harus bersikap/berindak mengenai hal ini ?
3. Apabila istri setuju dengan talak tersebut kapan dan siapa yang harus menggugat cerai ke pengadilan agama ?
4. Apabila memiliki anak balita, siapakah yang harus mengasuh anak tersebut?

Terimakasih sebelumnya atas penjelasan ustadz
Redaksi salamdakwah.com
6 years ago


وعليكم السلام ورحمة الله وبركاته

1. Kata talak (atau yang semakna dengan itu) untuk seorang istri yang dikirimkan via surat, sms, bbm atau yang lainnya bila benar itu berasal dari suaminya (setelah dicek) maka ini termasuk dalam pembahasan kinayah, maksudnya bila suami ketika menulis kata itu berniat untuk mentalak istri maka jatuhlah talak, bila dia tidak berniat demikian maka talak tidak jatuh.

Ibnu Quddamah al-Maqdisi rahimahullah menulis:
Bila dia (orang yang bisa berbicara.pent) menulis talak, jika dia memang meniatkan talak maka istrinya tertalak. Ini adalah pendapat asy-Sya'bi, an-Nakha'i, az-Zuhri, al-Hakam, Abu Hanifah, Malik dan ini adalah pendapat yang ada nashnya dari Syafi'i. Al-Mughni 7/486

2. Cobalah istri bertanya dengan baik-baik dan waktu yang tepat maksud dari suami menulis kata tersebut untuknya.

3. Apabila memang benar suami meniatkan cerai ketika menulis kata itu maka jatuhlah talak meski istri tidak rela dan tidak setuju karena talak berada di tangan suami.

4. Bila memang talak yang dihukumi sah itu adalah talak bain (talak tiga) atau talak raj'i namun suami tidak ruju' ke istrinya maka anak yang berada dibawah usia tamyiz diasuh oleh ibunya bila ibunya belum menikah lagi dan bila ibunya memang layak untuk itu. Dalam salah satu riwayat disebutkan

أَنَّ امْرَأَةً قَالَتْ: يَا رَسُولَ اللَّهِ، إِنَّ ابْنِي هَذَا كَانَ بَطْنِي لَهُ وِعَاءً، وَثَدْيِي لَهُ سِقَاءً، وَحِجْرِي لَهُ حِوَاءً، وَإِنَّ أَبَاهُ طَلَّقَنِي، وَأَرَادَ أَنْ يَنْتَزِعَهُ مِنِّي، فَقَالَ لَهَا رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: أَنْتِ أَحَقُّ بِهِ مَا لَمْ تَنْكِحِي

Seorang wanita berkata; wahai Rasulullah, sesungguhnya anakku ini, perutku adalah tempatnya, dan puting susuku adalah tempat minumnya, dan pangkuanku adalah rumahnya, sedangkan ayahnya telah menceraikanku dan ingin merampasnya dariku. Kemudian Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam berkata kepadanya; engkau lebih berhak terhadapnya selama engkau belum menikah. HR. Abu Daud no. 2276. Dihasankan oleh Al-Albani

Setelah membawakan hadist diatas Ali al-Qori menukil perkataan ath-Thibi: Kemungkinan anak ini umurnya belum mencapai usia tamyiz oleh karena itu ibunya diutamakan dalam pengasuhan anaknya. Ali-Alqori, Mirqotul Mafatih Syarh Misykatul Masabih 6/2209

Usia Tamyiz maksudnya adalah usia di mana seorang anak mampu membedakan antara sesuatu, terutama membedakan secara umum hal-hal yang membahayakan dirinya dan yang tidak. Mayoritas ulama' berpendapat bahwa usia tamyiz diperkirakan saat seorang anak berusia 7 tahun.

والله تعالى أعلم بالحق والصواب

PERTANYAAN TERKAIT

© 2021 - Www.SalamDakwah.Com