SALWA RADIO - Menebar Salam, Menyebar Dakwah
Stay in touch with us:

Siapa Yang Harus Saya Pilih Antara Ibu dan Suami?


Akhwat (Jakarta)
6 years ago

Assalamualaikum Ustadz,

Saya seorang istri yang baru saja menikah, selama berumah tangga saya dan suami sering mempeributkan tentang keadilan yg diberikan suami saya kepada org tua saya dengan org tua suami ( mertua)
suami menganggap bahwa saya sebagai anak perempuan yg sudah menikah sudah putus hak baktinya kepada org tua saya dan skrg org tua suamilah yg wajib saya sayangi dibanding org tua kandung saya, hingga pada akhirnya suami saya mengajukan pilihan kepada saya, antara IBU saya (org tua saya) dengan dia (suami)
pertanyaan saya :
1. Apa saya berdoa apabila saya memilih ibu saya? dan apa hukumnya bakti suami kepada org tua istri?
2. Apakah dalam agama ada dalil yg menjelaskan bahwa org tua istri bukan merupakan prioritas dan lbh prioritas org tua suami?
3. Apakah ungkapan "Jangan kembali kerumah" yang diucapkan suami merupakan talak untuk istri

Terimakasih atas jawabannya ustadz dan mohon doanya untuk rumah tangga saya

Wassalamualaikum
Redaksi salamdakwah.com
6 years ago


وعليكم السلام ورحمة الله وبركاته

Anggapan suami anda bahwa seorang wanita tidak berkewajiban untuk berbakti lagi kepada orang tuanya setelah ia menikah adalah anggapan yang salah. Begitu pula anggapannya bahwa orang tua suami yang lebih disayangi dari pada orang tua dia sendiri juga merupakan suatu kesalahan. Meski demikian seorang suami atau istri tetap harus bermuamalah dengan baik kepada mertuanya (muamalah yang lebih baik dari pada muamalah ke orang lain).

Komite Tetap Riset Ilmiah dan Fatwa Arab Saudi pernah ditanya:
Apakah termasuk hak suami yang wajib atas istrinya: Istri bermuamalah dengan baik dan berbakti kepada mertuanya bila keduanya bukn orang muslim? Perlu diketahui bahwa itri tinggal dengan suaminya di tempat tinggal yang terpisah dari keluarga suami. Istri mengunjungi kedua mertuanya berkali-kali. Berilah kami fatwa semoga Allah memberi Anda balasan kebaikan.

Mereka menjawab:
Bermuamalah dengan baik merupakan sesuatu yang dituntut dari seorang muslimah baik itu terhadap kedua mertuanya atau yang lain, namun bermuamalah dengan baik kepada kedua mertuanya lebih ditekankan sebab hal itu termasuk pergaulan yang baik dan membantu suami untuk berbakti kepada kedua orang tuanya. Fatawa al-Lajnah ad-Daimah 19/265-266 pertanyaan ketiga dari fatwa no.18280

Berikut ini tanya jawab dengan syaikh Sholeh bin Fauzan yang mengandung jawaban untuk pertanyaan Anda:
Terjadi perselisihan antara suami dan keluarga saya dalam salah satu urusan dunia, saya ingin memihak keluarga saya karena mentaati kedua orang tua dan berbuat baik kepada keduanya mengandung pelaksanaan perintah Nabi shallallahu alaihi wa sallam, namun saya tidak berbuat demikian karena saya mendengar hadits Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam (saya tidak mengetahui keshahihannya) diantaranya sabda beliau yang maknanya:
“Seandainya saya memerintahkan seseorang untuk bersujud kepada selain Allah niscaya saya akan memerintahkan seorang wanita bersujud kepada suaminya”

Dan hadits lain:
“Allah tidak akan ridho terhadap seorang wanita hingga suaminya ridho terhadapnya”

Saya telah berusaha mendamaikan kedua pihak namun saya belum berhasil dalam bentuk apapun. Saya berharap anda mengarahkan saya kepada siapa saya memihak. Saya takut bila saya menjadikan ayah saya marah maka Allah akan murka kepada saya, dan apabila saya membuat suami marah maka saya khawatir tidak menjadi istri yang beriman yang memenuhi hak suami sebagaimana yang diwajibkan. Saya juga berharap anda menasehati mereka semoga Allah memberi manfaat dengan hal itu.

Beliau menjawab:
Adapun hak ayah maka tidak diragukan lagi bahwa itu wajib, ini adalah hak yang kokoh, Allah ta'ala telah memerintahkan untuk mentaatinya dengan baik dan berbuat baik kepadanya di banyak ayat. Begitu pula hak suami, hak itu wajib atas istri dan ditekankan. Ayah anda memiliki hak atas anda, begitu pula suami. Anda wajib memberikan hak kepada setiap orang yang berhak. Namun apa yang anda sebutkan: adanya perselisihan diantara mereka sedangkan anda tidak tahu harus memihak ke siapa? Ketika itu anda wajib memihak kepada yang benar. Apabila suami anda yang benar dan ayah anda yang salah maka anda wajib memihak suami anda dan anda wajib menasehati ayah anda, apabila sebaliknya, di mana ayah anda benar dan suami anda salah maka anda wajib memihak ayah anda dan wajib menasehati suami anda. Anda wajib memihak yang benar dan menasehati yang salah. Ini terkait dengan sikap anda terhadap ayah dan suami anda ketika terjadi perselisihan.

Berusahalah untuk mendamaikan keduanya sebisa mungkin supaya anda menjadi kunci kebaikan dan yang menutup kejelekan. Diharapkan perpecahan dan kerusakan ini bisa terselesaikan melalui tangan anda, anda akan diberi pahala disebabkan hal itu. Sesungguhnya mendamaikan masyarakat (terlebih di antara kerabat) termasuk ketaatan yang agung. Allah ta'ala berfirman (an-Nisa':114)

{لَا خَيْرَ فِي كَثِيرٍ مِنْ نَجْوَاهُمْ إِلَّا مَنْ أَمَرَ بِصَدَقَةٍ أَوْ مَعْرُوفٍ أَوْ إِصْلَاحٍ بَيْنَ النَّاسِ}

Tidak ada kebaikan pada kebanyakan bisikan-bisikan mereka, kecuali bisikan-bisikan dari orang yang menyuruh (manusia) memberi sedekah, atau berbuat ma'ruf, atau Mengadakan perdamaian di antara manusia.

Adapun nasehat yang kami tujukan kepada keduanya adalah:
- keduanya wajib bertakwa kepada Allah azza wa jalla
- bermuamalah didasari persaudaraan islami.
- dengan didasari kekerabatan dan perbesanan selayaknya keduanya melupakan perselisihan yang terjadi antara keduanya.
- saling memaafkan, beginilah hubungan kaum muslimin
- tidak hanyut bersama hawa nafsu atau setan.
- berlindunglah kepada Allah dari godaan setan

Adapun hadits “ seandainya aku memerintahkan..” maka itu adalah hadits shahih, adapun hadits kedua saya tidak mengetahuinya, namun sebagaimana kami sebutkan bahwa maknanya benar: istri wajib mentaati suaminya dengan baik. Majmu' Fatawa Fadhilatusysyaikh Sholeh bin Fauzan 2/546-547

Terkait ungkapan "jangan kembali ke rumah" itu termasuk ungkapan talak yang tidak tegas. Apabila itu disertai dengan niat maka jatuhlah talak, apabila tidak disertai niat talak maka tidak jatuh.

والله تعالى أعلم بالحق والصواب
© 2021 - Www.SalamDakwah.Com