SALWA RADIO - Menebar Salam, Menyebar Dakwah
Stay in touch with us:

KB Bagi Muslimah


Ikhwan (bekasi)
6 years ago

assalamualaikum warrahmatullahi wa barrakatu.
afwan ana ingin bertanya hukum dalam islam bagi muslimah yg menggunakan obat atau sejenis nya dalam mengontrol kehamilan? di indonesia dikenal dengan program KB ( keluarga berencan).
akan tetapi terdapat masalah bila sang muslimah menggunakan KB,maka massa haid nya bisa berlang lama & terus menerus. sehingga bisa dbilang sholat nya bisa sangat jarang sekali karena terngganggu darah haid yg terus keluar diseabkan program KB tersebut.
sangat berbeda massa haid saat penggunaan KB & saat tidak menggunakan KB..
mohon penjelasanya ustadz.
jazahumuallah khairan katsir.
wa barakaallah fiqh.
Redaksi salamdakwah.com
6 years ago


وعليكم السلام ورحمة الله وبركاته

Komite Tetap Riset Ilmiah dan Fatwa Arab Saudi pernah ditanya:
Apa hukum suami-istri muslim yang meminum obat-obatan dan pil penunda kehamilan? Di mana banyak tanggungan (keluarga) menyebabkan cekcok, kesulitan besar dan kerendahan strata baik itu dari sisi kemanusiaan dan agama di beberapa negara Eropa dan yang sepertinya (di gaya hidupnya)?

Berikut ini kami terjemahkan jaea
Hukum penggunaan obat-obatan dan pil penunda kehamilan Berbeda-beda tergantung:
1. Tujuan penggunaan.
2. Karakteristik pil dan sejauh mana efeknya terhadap istri.
3. Sikap suami terhadap hal itu.
4. Waktu penggunaan pil itu.

1. Tujuan penggunaan
Bisa jadi tujuan nya adalah supaya seorang perempuan tetap kelihatan muda dan remaja. Tujuan ini bertentangan dengan hikmah Allah ta'ala. Allah tabaraka wa ta'ala mensyariatkan pernikahan dan menganjurkannya, diantara tujuan syar'i dari pernikahan adalah diperolehnya anak, dari ma'qil bin yasar dia berkata:

جَاءَ رَجُلٌ إِلَى رَسُوْلِ اللهِ -صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ- فَقَالَ: إِنِّي أَصَبْتُ امْرَأَةً ذَاتَ حَسَبٍ وَمَنْصَبٍ وَمَالٍ، إِلَّا أَنَّهَا لَا تَلِدُ، أَفَأَتَزَوَّجُهَا؟ فَنَهَاهُ، ثُمَّ أَتَاهُ الثَّانِيَةَ فَقَالَ لَهُ مِثْلَ ذَلِكَ، ثُمَّ أَتَاهُ الثَّالِثَةَ فَقَالَ لَهُ: "تَزَوَّجُوا الوَدُوْدَ الوَلُوْدَ، فَإِنِّي مُكَاثِرٌ بِكُمْ الأُمَمَ

Seorang lelaki pernah datang (menemui) Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan berkata: Sesungguhnya aku mendapatkan seorang perempuan yang memiliki kecantikan dan (berasal dari) keturunan yang terhormat, akan tetapi dia tidak bisa punya anak (mandul), apakah aku (boleh) menikahinya? Maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam melarangnya”, kemudian lelaki itu datang (dan bertanya lagi) untuk kedua kalinya, maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam kembali melarangnya, kemudian lelaki itu datang (dan bertanya lagi) untuk ketiga kalinya, maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Nikahilah perempuan yang penyayang dan subur (banyak anak), karena sesungguhnya aku akan membanggakan (banyaknya jumlah kalian) dihadapan umat-umat lain(pada hari kiamat nanti)HR. Abu Daud, an-Nasa'i dan al-Hakim ia mengatakan:sanadnya shahih

Dengan demikian wanita yang menggunakan pil dan obat penunda kehamilan demi menjaga keremajaan badannya kedudukanya sama dengan wanita mandul dan Nabi shallallahu alaihi wa sallam telah melarang untuk menikahinya, sebab ia tidak bisa melahirkan. Wanita ini dilarang untuk menggunakan hal-hal yang menghalangi kehamilan berdasarkan keumuman hadits ini.

Apabila tujuan penggunaan pil dan obat anti hamil adalah kepayahan fisik seorang wanita bila ia hamil, seperti wanita yang melahirkan setiap tahun sedangkan badannya kurus dan ia tidak sanggup menjalani payahnya kehamilan dan kelahiran, yang mana bila ia teruskan maka ia berada dalam bahaya besar (berdasarkan persangkaan kuatnya) dan ia berpikir menggunakan pil serta obat anti hamil untuk sementara waktu saja sebatas untuk menghilangkan bahaya itu, bila demikian maka itu dibolehkan dengan syarat penggunaannya tidak berefek munculnya bahaya yang setara dengan bahaya yang dihindari.

Penggunaan sebagian pil anti hamil kadang berefek tidak teraturnya masa haidh. Rusak nya rahim, gangguan tekanan darah, jantung berdebar-debar
Dan efek buruk lainnya yang diketahui oleh para dokter

Adapun pembolehan penggunaan pil dan obat-obatan itu pada keadaan tertentu didasari oleh keumumuman dalil syar'i yang menunjukkan kemudahan dan menghindari kesusahan (dalam syariat Islam.pent)Allah ta'ala berfirman (al-Maidah:6):

{مَا يُرِيدُ اللَّهُ لِيَجْعَلَ عَلَيْكُمْ مِنْ حَرَجٍ}

Allah tidak hendak menyulitkan kalian

Dan Nabi shallallahu alaihi wa sallam bersabda:

«لاَ ضَرَرَ وَلَا ضِرَار ) »

Tidak boleh membahayakan diri sendiri dan orang lain

Ulama' telah mengambil faedah dari Ayat ini dan yang semakna dengannya dari al-Qur'an serta dari hadits tersebut dan yang semakna dengannya dari hadits Nabi shallallahu alaihi wa sallam suatu kaedah: Kesulitan melahirkan kemudahan hukum

2. Perbedaan hukum ditinjau dari karakteristik pil dan obat

Obat dan pil yang akan dipakai bila bebas dari efek samping yang setara dengan bahaya yang dihindari maka boleh menggunakannya sebagaimana telah berlalu pembahasannya.

Apabila pil itu mengandung mudharat yang setara dengan mudharat yang ingin dihindari maka hukumnya tidak boleh menggunakan itu, sebab mudharat tidak dihilangkan dengan mudharat yang lain juga. Untuk menentukan kandungan mudharat maka referensinya adalah orang-orang ahli di bidang itu. Caranya adalah menganalisa pil dan obat-obatan tersebut kemudian mendiagnosa mudharat yang terkandung serta sejauh mana efeknya

3. Perbedaan hukum menurut izin suami
Bisa jadi suami mengizinkan dan bisa jadi dia melarang. Kadang kala suami tidak mengetahui bahwa istrinya menggunakan pil dan obat penunda kehamilan. Seorang istri dituntut (menurut syariat)meminta izin suami untuk memakai obat itu. Dan itu dalam keadaan bila penggunaannya dibolehkan menurut syari'at sebagaiman telah lalu, ketika itu suami harus mengizinkan.

Apabila tidak ada faktor yang membolehkan (yang syar'i) maka ia tidak boleh menggunakannya sejak awal, terlebih bila ia meminta izin dari suaminya. Apabila ia meminta izin dari suaminya maka suami tidak boleh mengizinkannya.

4. Waktu penggunaan pil dan obat ini
Ada perbedaan dalam masalah itu sehingga hukumnyapun berbeda, seorang wanita kadang menggunakannya (melalui mulut atau yang lainnya) sebelum terjadi hubungan seksual dan kadang ia memakainya setelah terjadi hubungan seksual, dan itu saat keadaannya berbentuk setetes mani, segumpal darah atau segumpal daging atau setelah ruh ditiup. Bila ruh telah ditiupkan maka hal itu tidak dibolehkan secara mutlaq, ini berdasarkan keumumuman firman Allah ta'ala (at-Takwir:8-9):

{وَإِذَا الْمَوْءُودَةُ سُئِلَتْ} () {بِأَيِّ ذَنْبٍ قُتِلَتْ} ()

8. dan apabila bayi-bayi perempuan yang dikubur hidup-hidup ditanya,
9. karena dosa Apakah Dia dibunuh,

Mau'udah adalah: Anak perempuan yang dikubur hidup-hidup. Dahulu pada zaman jahiliyah orang arab melakukan hal itu, imam ath-Thabari dan Qurtubi dan yang lainnya menyebutkan hal itu. Apabila segumpal daging telah ditiupkan roh kepadanya kemudian ia keluar dalam keadaan sudah meninggal dikarenakan penggunaan pil dan obat-obatan penunda kehamilan maka ini dianggap sebagai wa'dan dan ia tercakup dalam keumuman ayat.
Bila digunakan sebelum ditiupkannya roh maka maka perinciannya telah berlalu sebagaimana yang telah lalu pembahasannya (perbedaan hukum tergantung perbedaan tujuan)

Seorang wanita yang menggunakan pil (penunda kehamilan) supaya anaknya sdikit maka ini tidak perlu digubris, sebab tidak ada satu jiwapun yang keluar ke kehidupan ini kecuali Allah menulis rizki, ajal dan perbuatannya. Seorang manusia wajib berbaik sangka kepada Allah. Allah tergantung dengan persangkaan hamba-Nya terhadap Dia Fatawa al-Lajnah ad-Daimah 19/292-296 pertanyaan ke delapan dari fatwa no.443

والله تعالى أعلم بالحق والصواب

PERTANYAAN TERKAIT

© 2021 - Www.SalamDakwah.Com