SALWA RADIO - Menebar Salam, Menyebar Dakwah
Stay in touch with us:

Suami Tidak Mau Memberi Nafkah Batin


Ikhwan
6 years ago

assalaamu'alaikum ustadz, bagaimana hukumnya seorang suami yg tidak mau memberi nafkah batin kepada istri dengan alasan takut istri hamil lagi tetapi diapun melarang istri kb?
Redaksi salamdakwah.com
6 years ago


وعليكم السلام ورحمة الله وبركاته

Termasuk hak istri yang sangat ditekankan dan sangat besar adalah mendapatkan nafkah batin yang berupa jima'. Seorang suami wajib melakukan jima' dengan istrinya demi menjaga kehormatan diri dan istrinya. Ibnu Taimiyyah menerangkan:
Seorang laki-laki wajib untuk mensetubuhi istrinya dengan baik. Jimak termasuk hak istri yang paling ditekankan atas suami. Ini lebih besar dari kewajiban memberinya makan. Terkait jimak yang wajib, ada yang mengatakan bahwa jimak wajib dilakukan sekali pada setiap empat bulan. Ada yang mengatakan sesuai dengan kebutuhan istri dan sesuai dengan kemampuan suami sebagaimana suami memberi makan istri sesuai kebutuhannya dan sesuai dengan kemampuan suami. Dan inilah pendapat yang lebih tepat. Wallahu a'lam. Majmu' al-Fatawa 32/271

Apabila seorang suami dengan sengaja tidak melakukan kewajibannya tanpa didasari udzur yang syar'i maka ia dianggap telah melakukan penyelisihan syariat.

Apabila seorang suami tidak mau bersetubuh dengan istrinya disebabkan alasan yang tidak syar'i misalnya karena takut tidak mampu membiayai anak yang akan lahir dari persetubuhan itu atau ia ingin membatasi keturunan karena tidak mau repot dan semisalnya maka ia telah melakukan pelanggaran. Allah ta'ala berfirman dalam surat al-Isro':31

وَلَا تَقْتُلُوا أَوْلَادَكُمْ خَشْيَةَ إِمْلَاقٍ نَحْنُ نَرْزُقُهُمْ وَإِيَّاكُمْ إِنَّ قَتْلَهُمْ كَانَ خِطْئًا كَبِيرًا

Dan janganlah kalian membunuh anak-anak kalian karena takut miskin. Kamilah yang akan memberi rezeki kepada mereka dan juga kepada kalian. Sesungguhnya membunuh mereka adalah suatudosa yang besar”.

Berikut ini ketetapan Majma' Al-Fiqhi Al-Islami dalam masalah ini yang kami terjemahkan:

Pertama: Tidak boleh menerbitkan aturan umum yang membatasi kebebasan suami istri untuk memiliki keturunan.

Kedua: Haram hukumnya menghilangkan kemampuan untuk memiliki keturunan baik itu pada laki-laki atau perempuan, ini yang dikenal dengan pemandulan atau sterilisasi, selama tidak ada kebutuhan mendesak yang didasarkan pada timbangan syariat.

Ketiga: Boleh mengatur kelahiran untuk sementara waktu dengan orientasi memperpanjang jarak masa kehamilan, atau boleh juga menghentikan kehamilan untuk sementara waktu jika itu diperlukan (keperluan yang diakui dalam syariat), sesuai dengan perkiraan suami-istri setelah mereka berunding dan ridho, (akan tetapi.pen) ini (proses pengaturan.pen) disyaratkan: tidak menimbulkan bahaya, metodenya disyariatkan, dan ini tidak mengganggu kehamilan yang sudah ada. http://www.fiqhacademy.org.sa/qrarat/5-1.htm

Apabila suami dengan sengaja tidak mau memberi hak jima' istri dengan alasan yang tidak menyelisihi syariat misalnya apabila istri hamil lagi maka ia akan sangat kepayahan dan nyawanya terancam (berdasarkan informasi dokter yang terpercaya dan berkompeten) atau dengan alasan anaknya masih sangat kecil sehingga kemunculan adiknya akan sangat memberatkan istri dan menjadikan anaknya yang masih kecil tidak memperoleh perawatan dan kasih sayang yang cukup dll maka dia telah salah, mengingat ada cara-cara lain yang bisa ditempuh untuk menghindarkan istri dari kehamilan dengan tetap melakukan hubungan suami istri dan tanpa menggunakan obat atau alat kontrasepsi, misalnya dengan menggunakan sistem KB kalender (ini bila istri periode haidhnya teratur dan tepat waktu) atau dengan senggama terputus /'azl (Sebagian Ulama' mensyaratkan izin istri untuk melakukan ini). Dalam suatu riwayat disebutkan:

عَنْ جَابِرٍ، قَالَ: «كُنَّا نَعْزِلُ عَلَى عَهْدِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَالقُرْآنُ يَنْزِلُ

Dari Jabir ia berkata; Kami melakukan 'Azl di masa Nabi shallallahu alaihi wa sallam sedangkan Al Qur`an juga turun. [HR. Bukhari No.5209 dan Muslim no.1440 dan yang lainnya].

والله تعالى أعلم بالحق والصواب
© 2021 - Www.SalamDakwah.Com