SALWA RADIO - Menebar Salam, Menyebar Dakwah
Stay in touch with us:

Membeli Boneka Untuk Anak?Terlanjur Hutang Riba?


Ikhwan (lombok)
5 years ago

assalamualaikum warohmatullohi wabarokatuh...
mohon maaf sebelumnya ustad pertanyaan saya agak banyak
1.ustad saya ingin membelikan anak saya mainan berupa boneka yang bentuknya hampir sama seperti kuda tapi ukurannya saja yang berbeda (miniatur), saya sudah menanyakan ini ke beberapa ustad akan hal ini akan tetapi mereka berbeda pendapat mengenai hal ini ada yang membolehkan dan ada yang mengharamkannya. pendapat yang kuat dalam hal ini yang mana ustad?
2. apa yang harus saya lakukan karena telah terlanjur melakukan pinjaman ke bank syariah (praktek riba) yang pembayarannya masih tinggal beberapa tahun lagi? dan bagaimana saya memberitahukan orang tua saya yang sudah melakukan pinjaman seperti saya?
atas penjelasannya saya ucapkan terimaksih
wassalamualaikum waraohmatullohi wabarokatuh
Redaksi salamdakwah.com
5 years ago


وعليكم السلام ورحمة الله وبركاته

1. Terkait boneka yang berbentuk makhluq hidup berikut ini pertanyaan yang ditujukan kepada syaikh Utsaimin dan jawaban beliau tentang masalah ini:
Pertanyaan:
Ada beragam boneka, di antaranya yang terbuat dari kapas, dan ia ibarat kantong yang ada detailnya berbentuk kepala, dua tangan, dan dua kaki. Ada pula yang sempurna menyerupai manusia. Ada yang bisa bicara, menangis, atau berjalan. Lalu apa hukum membuat atau membeli boneka semacam itu untuk anak-anak perempuan dalam rangka pengajaran sekaligus hiburan?

Beliau menjawab:
“Adapun (Boneka) yang tidak ada bentuk detail sempurna namun hanya ada sebagian anggota tubuh dan kepala yang tidak begitu jelas (gambarannya sebagai makhluq) maka tidak diragukan kebolehannya dan ini termasuk jenis anak-anakan yang dimainkan oleh Aisyah radhiallahu ‘anha. Namun bila boneka itu fisiknya sempurna, sehingga seakan-akan anda menyaksikan manusia, apalagi bila boneka itu bisa bergerak atau bersuara, maka ada keraguan di jiwa saya untuk membolehkannya. Karena boneka itu menyaingi makhluk Allah Subhanahu wa Ta’ala secara sempurna.

Sedangkan yang dzahir, boneka yang dimainkan `Aisyah, tidaklah demikian modelnya. Dengan demikian menghindarinya lebih utama. Namun saya juga tidak bisa memastikan keharamannya, karena memandang, anak-anak kecil itu diberikan rukhshah/ keringanan yang tidak diberikan kepada orang dewasa seperti perkara ini.

Anak-anak memang tabiatnya suka bermain dan hiburan, mereka tidaklah dibebani dengan satu macam ibadah pun sehingga kita tidak dapat berkomentar bahwa waktu si anak sia-sia terbuang percuma dengan main-main. Jika seseorang ingin berhati-hati dalam hal ini, hendaknya ia melepas kepala boneka itu atau melelehkannya di atas api hingga lumer, kemudian menekannya hingga hilang bentuk wajah boneka tersebut” Majmu' Fatawa wa Rasail al-Utsaimin 2/277-278 no.329

2. Mengambil hutang yang bersistem ribawi adalah termasuk dosa besar. Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda:

عن جابر، لَعَنَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ آكِلَ الرِّبَا، وَمُؤْكِلَهُ، وَكَاتِبَهُ، وَشَاهِدَيْهِ» ، وَقَالَ: «هُمْ سَوَاءٌ»

Dari Jabir; dia berkata, 'Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam melaknat pemakan riba, nasabah riba, juru catat, dan dua saksi transaksi riba. Rasulullah bersabda, 'Mereka semua itu sama.'' (Hr. Muslim, no. 1598)

Orang yang sudah mengambil hutang bersistem riba harus segers bertaubat dari dosa tersebut sebelum ia tidak punya kesempatan lagi untuk bertaubat. Apabila dia bisa membayar pokok hutang saja maka ia harus melakukannya. Komite Tetap Riset Ilmiah dan Fatwa Arab Saudi pernah ditanya:
Ada seorang laki-laki yang menikah dan meminjam uang sebesar 40.000 riyal dengan syarat mengembalikan 60.000 riyal lewat angsuran bulanan sebesar 2.000 riyal. Apakah hal ini termasuk riba? Mengingat hal tersebut dilakukan dengan jangka waktu dan angsuran bulanan. Apabila angsuran tersebut telah mencapai 40.000 ribu riyal, apa yang harus diperbuat? Bolehkah tidak membayar tambahan tersebut atau harus membayarnya? Padahal terdapat tanda bukti saat transaksi.

Mereka menjawab:
Bentuk transaksi yang disebutkan dalam pertanyaan di atas termasuk bentuk riba, karena merupakan pinjaman berbunga. Dan ini merupakan riba yang sangat jelas. Allah Ta`ala telah mengharamkan riba dan mengancam orang yang mempraktikkan dengan ancaman keras, dan Rasulullah Shallallahu `Alaihi wa Sallam melaknat pemakan riba, pemberi makan riba, dua orang saksi dan pencatatnya. Oleh sebab itu, hendaklah si peminjam mengembalikan hutangnya tanpa tambahan agar dia tidak tergolong orang yang membantu orang lain memakan harta riba, sehingga mendapatkan dosa yang sama seperti pemakannya.selayaknya ia menasihati si pemberi hutang agar:
1. Bertobat kepada Allah dari memakan harta riba,
2. Tidak mengulangi lagi perbuatan buruk tersebut,
3. Bersedia menerima uang pokoknya tanpa tambahan,
4. Bertakwa kepada Allah; tidak melanggar apa yang diharamkan Allah dan Rasul-Nya. Allah Ta`ala berfirman,

{وَإِنْ تُبْتُمْ فَلَكُمْ رُءُوسُ أَمْوَالِكُمْ لَا تَظْلِمُونَ وَلَا تُظْلَمُونَ}

Dan jika kamu bertaubat (dari pengambilan riba), maka bagimu pokok hartamu; kamu tidak menganiaya dan tidak (pula) dianiaya.

{وَإِنْ كَانَ ذُو عُسْرَةٍ فَنَظِرَةٌ إِلَى مَيْسَرَةٍ}

Dan jika (orang berhutang itu) dalam kesukaran, maka berilah tangguh sampai dia berkelapangan Fatawa al-Lajnah ad-Daimah 11/119; pertanyaan pertama dari fatwa no.20628

Apabila memang tidak bisa menolak untuk membayar bunga maka bayarlah bunganya dan bersegeralah melunasi secepat mungkin supaya tidak semakin banyak bunga yang harus dibayar. Untuk melunasinya bisa dengan meminjam orang lain dengan sisitem pembayaran non ribawi.

Terkait orang tua yang juga sudah terbelit hutang ribawi maka silahkan menginfokan kepada mereka bahaya dan dosa besar riba. Plilihlah kata, waktu dan kondisi yang tepat untuk berkomunikasi dengan orang tua terkait riba. Semoga Allah mudahkan kita dan keluarga menjauhi riba dan dosa-dosa lainnya.

وصلى الله على نبينا محمد وعلى آله وصحبه وسلم
© 2020 - Www.SalamDakwah.Com