SALWA RADIO - Menebar Salam, Menyebar Dakwah
Stay in touch with us:

Penting Diketahui Sebelum Berdakwah dan Menuntut Ilmu Agama


Ikhwan (Jakarta)
6 years ago

Assalamu'alaikum Ustadz...
Alhamdulillah saya telah mengenal salaf sejak 4 tahun ini dan sampai dengan saat ini masih belum melakukan dakwah aktif dengan memberikan ceramah atau tausyiah rutin di rumah atau di luar rumah (masjid/ musholla), masih lebih banyak mendengar radio rodja atau menghadiri kajian ilmu di masjid/ musholla di kantor. Sementara dari salah seorang jamaah musholla di kantor ada yang mendorong saya untuk memberikan tausyiah di musholla kantor setiap ba'da sholat ashar berjamaah seperti yang biasa dia lakukan (dengan pembacaan hadits dari kitab hadits), tapi saya masih belum mau melakukannya. Alasannya karena saya merasa ilmu agama yang saya miliki masih belum cukup dan saya juga belum melakukannya di dalam keluarga sendiri. Pertanyaan saya:
1. Apakah saya sebaiknya melakukan permintaan jamaah tsb?
2. Bagaimana cara Rasulullah dalam berdakwah? Sehingga dakwah Islam bisa efektif dalam mengajak manusia menegakkan kalimatullah, menegakkan amar ma'ruf nahi munkar.
Syukron. Jazakallahu khoiron katsiron.
Wassalamu'alaikum...
Redaksi salamdakwah.com
6 years ago


وعليكم السلام ورحمة الله وبركاته

Berikut ini keterangan yang penting diketahui oleh orang yang ingin berdakwah dan mempelajari ilmu agama. Komite Tetap Riset Ilmiah dan Fatwa Arab Saudi pernah ditanya:
Mohon penjelasan tentang ketentuan ilmu yang menjadi syarat untuk menyampaikan dakwah Islam? Ilmu dalam bidang apa? bagaimana cara mempelajarinya, dan buku apa yang harus dipelajari? Mohon disebutkan buku-buku tersebut dengan jelas, dan apakah harus belajar kepada ulama atau tidak? Serta bagaimana cara memulai berdakwah untuk mengajak kepada kebenaran? Mohon penjelasan secara gamblang mengenai metode berdakwah. Perlu diketahui saya adalah mahasiswa kedokteran, yang membutuhkan keseriusan dan waktu yang cukup banyak untuk mempelajarinya. Mohon penjelasan secara terperinci, sehingga tidak ada keraguan bagi orang awam.

Mereka menjawab:
Pertama, wajib atas seorang Muslim untuk menyampaikan ilmu yang dia miliki, baik itu sedikit maupun banyak, kepada orang yang tidak mengetahuinya. Kondisi ini tidak terbatas waktu dan kadar ilmu apa pun, tergantung kebutuhan untuk menjelaskan kapasitas keilmuan yang dia miliki, dan menyampaikannya.

Bahkan, hukumnya menjadi wajib jika tidak ada orang lain yang menyampaikan dan menjelaskan agama selain dia. Ini sebagai bentuk peneladanan terhadap Rasulullah Shalallahu `Alaihi wa Sallam, dan mengamalkan hadis yang diriwayatkan oleh Ahmad, Bukhari, dan Tirmidzi, dari Abdullah bin `Amr dari Nabi Shallallahu `Alaihi wa Sallam yang bersabda,

بَلِّغُوْا عَنِّي وَلَوْ آيَةً

"Sampaikanlah (ilmu) yang telah kalian terima dariku, walaupun hanya berupa satu ayat Alquran."

Ada pula hadis yang diriwayatkan oleh Ahmad, Tirmidzi, dan Ibnu Hibban, dari Ibnu Mas`ud radhiyallahu `anhu, bahwa Nabi Shallallahu `Alaihi wa Sallam bersabda,

«نَضَّرَ اللهُ امْرَءً سَمِعَ مِنَّا شَيْئًا فَبَلَّغَهُ كَمَا سَمِعَهُ، فَرُبَّ مَبَلِّغٍ أَوْعَى مِنْ سَامِعٍ

"Semoga Allah Ta`ala memberikan cahaya pada wajah seseorang yang mendengarkan sesuatu dari kami (Rasulullah), lalu menyampaikannya (kepada orang lain) sesuai dengan apa yang dia dengarkan. Boleh jadi orang yang menjadi objek penyampaian itu lebih memahami daripada orang yang mendengar (langsung)." Hadis ini juga diriwayatkan melalui banyak jalur (sanad), dengan redaksi yang berbeda-beda. Selain beberapa tujuan di atas,

Ini juga demi menjauhi ancaman yang dijanjikan Allah kepada orang yang menyembunyikan ilmu, seperti dalam firman-Nya (al-Baqarah 159-160),

إِنَّ الَّذِينَ يَكْتُمُونَ مَا أَنْزَلْنَا مِنَ الْبَيِّنَاتِ وَالْهُدَى مِنْ بَعْدِ مَا بَيَّنَّاهُ لِلنَّاسِ فِي الْكِتَابِ أُولَئِكَ يَلْعَنُهُمُ اللَّهُ وَيَلْعَنُهُمُ اللَّاعِنُونَ () {إِلَّا الَّذِينَ تَابُوا وَأَصْلَحُوا وَبَيَّنُوا فَأُولَئِكَ أَتُوبُ عَلَيْهِمْ وَأَنَا التَّوَّابُ الرَّحِيمُ

Sesungguhnya orang-orang yang menyembunyikan keterangan-keterangan (yang jelas) dan petunjuk yang telah Kami turunkan, setelah Kami menerangkannya kepada manusia dalam al-Kitab, mereka itu dilaknati Allah dan dilaknati (pula) oleh semua (makhluk) yang dapat melaknati,(159) Kecuali mereka yang telah bertaubat, mengadakan perbaikan dan menerangkan (kebenaran), maka terhadap mereka itu Aku menerima taubatnya dan Akulah Yang Maha Penerima taubat lagi Maha Penyayang. (160)

Diharamkan baginya untuk menyampaikan apa yang tidak dia ketahui, atau menganjurkan hal-hal yang tidak dia pahami. Ini berdasarkan firman Allah Ta'ala (al-A'raf:33),

قُلْ إِنَّمَا حَرَّمَ رَبِّيَ الْفَوَاحِشَ مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ وَالْإِثْمَ وَالْبَغْيَ بِغَيْرِ الْحَقِّ وَأَنْ تُشْرِكُوا بِاللَّهِ مَا لَمْ يُنَزِّلْ بِهِ سُلْطَانًا وَأَنْ تَقُولُوا عَلَى اللَّهِ مَا لَا تَعْلَمُونَ

Katakanlah: "Rabbku hanya mengharamkan perbuatan yang keji, baik yang nampak maupun yang tersembunyi, dan perbuatan dosa, melanggar hak manusia tanpa alasan yang benar, (mengharamkan) mempersekutukan Allah dengan sesuatu yang Allah tidak menurunkan hujah untuk itu dan (mengharamkan) mengada-adakan terhadap Allah apa yang tidak kalian ketahui.

Dan firman-Nya,

{وَلَا تَقْفُ مَا لَيْسَ لَكَ بِهِ عِلْمٌ}

Dan janganlah kamu mengikuti apa yang kamu tidak mempunyai pengetahuan tentangnya.

Serta dalil-dalil lain yang serupa dengan yang telah lalu, yang menganjurkan untuk menyampaikan ilmu dan melarang membuat pernyataan mengenai masalah agama tanpa didasari ilmu.

Kedua, ilmu-ilmu Islam itu bermacam-macam. Di antaranya:
- ilmu tauhid dengan beberapa macam derivasinya: tauhid rububiyyah, tauhid ibadah (uluhiyyah), serta tauhid asma' dan sifat Allah.
- ada pula ilmu fikih beserta cabang-cabangnya, seperti fikih ibadah (shalat, puasa, zakat dan haji), fikih muamalat (jual beli, sewa menyewa, dan lain-lain), al-ahwal asy-syakhshiyyah/hubungan individu dan hak kebendaan di lingkungan keluarga (nikah, wakaf, waris, dan lain-lain), hukum pidana, serta penerapan sanksi dan hukuman.
- Ada pula ilmu mengenai etika berperilaku dan akhlak.

Setiap cabang ilmu tersebut telah dimuat dalam karya-karya ulama, yang telah masyhur di kalangan para penuntut ilmu, yang akan dijelaskan selanjutnya.

Ketiga, untuk mempelajari ilmu-ilmu tersebut terlebih dahulu harus
- mempelajari Alquran dan merenungkan makna-maknanya.
- mempelajari sunah Rasulullah Shallallahu `Alaihi wa Sallam serta memahaminya dengan baik supaya tahu kualitasnya apakah sahih atau daif, memahami makna-makna sunnah Nabi shallallahu alaihi wa sallam, dan mengambil hukum (istinbath) darinya.
- mempelajari kitab-kitab fikih karya ulama pilihan yang belajar Alquran dan Sunah, serta mengambil hukum dari kitab-kitab tersebut. Di antara kitab-kitab tersebut ada yang ringkas, panjang lebar, mudah dipahami, bahkan sulit dimengerti. Setiap orang dapat membacanya sesuai dengan kemampuan akal, kapasitas keilmuan yang pernah diperoleh, dan kebutuhan dalam hidupnya.

Seorang pemula hendaknya membaca kitab yang telah diringkas dan mudah, seperti Tafsir Syekh Abdurrahman as-Sa`di, Tafsir Ibnu Katsir, Subulus Salam karya ash-Shan`ani, Syarh Bulughul Maram li Ahadits al-Ahkam karya Ibnu Hajar al-`Asqalani. Ada juga kitab `Umdah al-Fiqh dan al-Kafi karya Ibnu Qudamah tentang fikih, kitab al-Adab asy-Syar'iyyah karya Ibnu Muflih, kitab al-‘Aqidah al-Wasithiyyah karya Ibnu Taimiyah, kitab at-Tauhid dan Kasyf asy-Syubuhat karya Syekh Muhammad bin Abdul Wahab.

Seorang ulama atau penuntut ilmu hendaklah memilih kitab yang bermanfaat bagi dirinya dan meminta nasihat ulama terpercaya. Termasuk di antara kitab-kitab yang dijadikan rujukan adalah Tafsir Ibnu Jarir at-Thabari, Fathul Bari karya Ibnu Hajar yang merupakan syarh (ulasan) dari kitab Shahih Bukhari, Syarh Nawawi dari kitab Shahih Muslim, kitab al-Umm karya asy-Syafi`i, al-Mughni karya Ibnu Qudamah, Bidayatul Mujtahid karya Ibnu Rusyd, dan lain sebagainya.

Orang yang ingin mempelajari ilmu apa pun wajib didampingi guru, baik yang sifatnya sains, teoritis, maupun praktis. Ini merupakan sunnatullah bagi setiap manusia, baik muslim maupun kafir. Akan tetapi, dibutuhkan kerja sama mereka untuk memenuhi kebutuhan akan ilmu pengetahuan karena terdapat perbedaan persiapan, penguasaan ilmu, dan sarana yang membantu untuk memahami hukum-hukum (konsep keilmuannya).

Adapun ilmu yang mudah, hendaklah dipelajari sendiri dengan terus mengulang-ulang dengan tepat. Sedangkan untuk ilmu yang susah dipahami hendaklah ia mencari bantuan saudara-saudaranya yang paham, atau bertanya kepada Ulama' yang lebih tahu darinya dan terpercaya.

Keempat, seorang da'i hendaknya memulai dakwah dengan memberi petunjuk kepada manusia tentang kebenaran, dengan cara mengajarkan tauhid, dasar-dasar ibadah, pengetahuan yang diperlukan dalam muamalah (interaksi sosial dan ekonomi), dan lain-lain. Aktifitas dakwah ini mesti dilakukan dengan bijaksana, menggunakan nasihat yang baik, dan berdiskusi positif, yang tujuannya agar kebenaran sampai kepada mereka. Dasarnya adalah firman Allah Ta'ala (an-Nahl:125),

ادْعُ إِلَى سَبِيلِ رَبِّكَ بِالْحِكْمَةِ وَالْمَوْعِظَةِ الْحَسَنَةِ وَجَادِلْهُمْ بِالَّتِي هِيَ أَحْسَنُ إِنَّ رَبَّكَ هُوَ أَعْلَمُ بِمَنْ ضَلَّ عَنْ سَبِيلِهِ وَهُوَ أَعْلَمُ بِالْمُهْتَدِينَ

Serulah (manusia) kepada jalan Rabbmu dengan hikmah dan pelajaran yang baik dan bantahlah mereka dengan cara yang baik. Sesungguhnya Rabbnmu Dialah yang lebih mengetahui tentang siapa yang tersesat dari jalan-Nya dan Dialah yang lebih mengetahui orang-orang yang mendapat petunjuk.

Wabillahittaufiq, wa Shallallahu `ala Nabiyyina Muhammad wa Alihi wa Shahbihi wa Sallam. Fatawa al-Lajnah ad-Daimah 12/60-64; fatwa no.4138

Pada kesempatan lain mereka juga pernah ditanya:
Bagaimana dakwah yang berhasil itu? hal itu diambil dari sumber yang mana? dan syarat apa saja yang mesti dipenuhi seorang dai di jalan Allah? Tolong sebutkan juga beberapa buku yang membahas hal ini.

Mereka menjawab:
Pertama, dakwah yang berhasil adalah dakwah yang dilakukan di jalan Allah dengan berlandaskan ilmu dan pengetahuan. Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman (Fushshilat:33):

{وَمَنْ أَحْسَنُ قَوْلًا مِمَّنْ دَعَا إِلَى اللَّهِ وَعَمِلَ صَالِحًا}

Siapakah yang lebih baik perkataannya daripada orang yang menyeru kepada Allah dan mengerjakan amal yang saleh

Dan Allah ta'ala berfirman (yusuf:108):

{قُلْ هَذِهِ سَبِيلِي أَدْعُو إِلَى اللَّهِ عَلَى بَصِيرَةٍ أَنَا وَمَنِ اتَّبَعَنِي}

Katakanlah: "Inilah jalan (agama) ku, aku dan orang-orang yang mengikutiku mengajak kepada Allah dengan hujjah yang nyata."

Kedua, dakwah yang berhasil ini bisa diambil dari sumber yang berupa: Alquran, Sunnah Rasulullah Shallallahu `Alaihi wa Sallam, dan praktek para sahabat, tabiin, dan pengikut para tabiin dengan cara yang benar.

Ketiga, di antara syarat seorang da'i adalah apa yang disebutkan dalam kisah Nabi Syu`aib. Allah Ta'ala berfirman mengenai kisah Nabi Syu`aib 'Alaihi as-Salam (Hud:88):

قَالَ يَا قَوْمِ أَرَأَيْتُمْ إِنْ كُنْتُ عَلَى بَيِّنَةٍ مِنْ رَبِّي وَرَزَقَنِي مِنْهُ رِزْقًا حَسَنًا وَمَا أُرِيدُ أَنْ أُخَالِفَكُمْ إِلَى مَا أَنْهَاكُمْ عَنْهُ إِنْ أُرِيدُ إِلَّا الْإِصْلَاحَ مَا اسْتَطَعْتُ وَمَا تَوْفِيقِي إِلَّا بِاللَّهِ عَلَيْهِ تَوَكَّلْتُ وَإِلَيْهِ أُنِيبُ

Syu’aib berkata, "Hai kaumku, bagaimana pikiran kalian jika aku mempunyai bukti yang nyata dari Rabbku dan dianugerahi-Nya aku dari-Nya rejeki yang baik (patutkah aku menyalahi perintah-Nya)? Dan aku tidak berkehendak menyelisihi kalian (dengan mengerjakan) apa yang aku larang. Aku tidak bermaksud kecuali (mendatangkan) perbaikan selama aku masih sanggup. Dan tidak ada taufiq bagiku melainkan dengan (pertolongan) Allah. Hanya kepada Allah aku bertawakal dan hanya kepada-Nya-lah aku kembali.

Di ayat ini terdapat penjelasan bahwa di antara syarat berdakwah adalah ilmu dan usaha yang halal, melaksanakan apa yang ia dakwahkan, menjauhi apa yang dilarang Allah, melaksanakan apa yang diperintahkan-Nya, niat yang lurus, menyerahkan semua urusan kepada Allah, dan bertawakal kepada-Nya sebab Dia-lah Dzat yang memberi taufik dan ilham.

Di antara syarat berdakwah adalah apa yang disebutkan Allah dalam firmanNya (an-Nahl:125):

{ادْعُ إِلَى سَبِيلِ رَبِّكَ بِالْحِكْمَةِ وَالْمَوْعِظَةِ الْحَسَنَةِ وَجَادِلْهُمْ بِالَّتِي هِيَ أَحْسَنُ}

Serulah (manusia) kepada jalan Rabbmu dengan hikmah dan pelajaran yang baik dan bantahlah mereka dengan cara yang baik.

Di antara syaratnya nya adalah memiliki sifat sabar, Allah Ta'ala berfirman (an-Nahl:127):

{وَاصْبِرْ وَمَا صَبْرُكَ إِلَّا بِاللَّهِ}

Bersabarlah (hai Muhammad) dan tiadalah kesabaranmu itu melainkan dengan pertolongan Allah.

Allah Ta'ala berfirman (al-Kahfi:28):

وَاصْبِرْ نَفْسَكَ مَعَ الَّذِينَ يَدْعُونَ رَبَّهُمْ بِالْغَدَاةِ وَالْعَشِيِّ يُرِيدُونَ وَجْهَهُ وَلَا تَعْدُ عَيْنَاكَ عَنْهُمْ تُرِيدُ زِينَةَ الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَلَا تُطِعْ مَنْ أَغْفَلْنَا قَلْبَهُ عَنْ ذِكْرِنَا وَاتَّبَعَ هَوَاهُ وَكَانَ أَمْرُهُ فُرُطًا

Dan bersabarlah kamu bersama-sama dengan orang-orang yang menyeru Rabbnya di pagi dan senja hari dengan mengharap keridaan-Nya, dan janganlah kedua matamu berpaling dari mereka (karena) mengharapkan perhiasan kehidupan dunia ini, dan janganlah kamu mengikuti orang yang hatinya telah Kami lalaikan dari mengingati Kami, serta menuruti hawa nafsunya dan keadaannya itu melewati batas.

Keempat, kitab-kitab yang membahas hal ini (dakwah.pent) adalah
- kitab suci Alquran. Oleh karena itu, Anda harus menghafalnya, banyak membaca dan merenungkan maknanya, mengamalkannya, dan mendakwahkannya.
- Sumber lainnya adalah Sunah Rasulullah Shallallahu 'Alaihi wa Sallam karena sunah menafsirkan dan menjelaskan makna kandungan Alquran. Di antara kitab sunnah adalah: dua kitab hadis shahih yaitu Shahih Bukhari dan Shahih Muslim, Muwatha' Malik, Musnad Imam Ahmad, Sunan Abu Dawud, Sunan Tirmidzi, Sunan Nasa'i, dan Sunan Ibnu Majah serta kitab-kitab sunnah lainnya.
- kitab-kitab karya Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah, muridnya (Ibnu al-Qayyim), dan kitab-kitab karya imam dakwah Syekh Muhammad bin Abdul Wahab dan para pengikutnya.

Wabillahittaufiq, wa Shallallahu `ala Nabiyyina Muhammad wa Alihi wa Shahbihi wa Sallam. Fatawa al-Lajnah ad-Daimah 12/242-244; Pertanyaan pertama dari fatwa no. 5226

PERTANYAAN TERKAIT

© 2021 - Www.SalamDakwah.Com